Makna Iduladha: Ketika Tidak Semua Pengorbanan Bisa Dibeli dengan Uang

Makna Iduladha dan Pengorbanan Diri, Sumber Gambar: Editing dengan AI


Realitas memang kadang lebih pedas dibandingkan Real Madrid kalah. Apalagi realitas tersebut hidup dalam masyarakat kita dan bisa terjadi di semua tempat di bumi ini. 

Fenomena itu terkait dengan kehidupan sosial, terutama terkait dengan momen Iduladha dan ibadah haji. Kita pasti tahu, bahwa orang Indonesia yang melakukan ibadah haji memang tidak selamanya di sana. 

Suatu saat, akan pulang juga ketika sudah waktunya pulang. Seperti saat sebelum berangkat, ada acara khusus biasanya di masjid besar.

Yang mengantar jamaah haji pun sangat banyak. Rata-rata memang menggunakan mobil roda empat. Kalau mobil rodanya tiga, itu mobil mainan anak saya yang copot satu bannya. 

Setelah para jamaah haji pulang ke Tanah Air hingga ke kampung halamannya, maka ada sebutan baru untuk mereka. Bagi yang laki-laki dipanggil "Pak Haji", sedangkan yang perempuan dipanggil "Bu Haji". 


Saya belum pernah menemukan ada yang terbalik memanggil. Kedua panggilan tersebut rupanya menjadi status sosial tersendiri, semacam level sosial yang lebih daripada biasanya. 

Pada momen Iduladha ini, juga terkait dengan ibadah kurban. Penyembelihan hewan kurban. Realitas sosial juga, ada orang yang bangga jika bisa upload foto atau video sapi yang besar. Kalau perlu sapinya lebih besar daripada rumah. Eh, mana ada? 

Kurban malah jadi simbol kemampuan dan kemapanan ekonomi. Akhirnya, jadi terbias pikirannya, lebih sibuk foto hewan kurbannya sendiri daripada memikirkan makna ibadahnya.


Makna Iduladha yang Sebenarnya

Ketika selesai salat Iduladha, selalu ada khutbah. Dan, pada saat itu, jamaah sebenarnya belum boleh diperkenankan untuk pulang. Khutbah memang menjadi bagian dari pelaksanaan salat Iduladha. 

Iduladha memang selalu mengulang sejarah. Momen yang terjadi sangat lama, bahkan jauh sebelum Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam hadir ke dunia ini. 

Ibadah kurban di Iduladha memang selalu membahas keikhlasan Nabi Ibrahim alaihissalam yang akan menyembelih anaknya sendiri, Nabi Ismail alaihissalam. Begitu taatnya beliau kepada perintah Allah, hingga "mengorbankan" sifat manusiawi dan kebapakannya. 

Dewa Eka Prayoga pernah mengatakan dalam sebuah webinarnya. Untunglah Nabi Ibrahim alaihissalam tidak hidup di era medsos sekarang. Kalau zaman sekarang, pastilah banyak bully, komentar-komentar miring dan negatif.

Kok seorang ayah tega mau menyembelih anaknya sendiri? Bukankah itu namanya pelanggaran HAM? Bahkan, bisa jadi dari umat Islam sendiri yang mencela tindakan seperti itu. 

Namun, Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Kekasih-Nya tidak akan mungkin dibiarkan menanggung ujian seberat itu dan sampai benar-benar menyembelih putranya tercinta. 

Allah menggantikan dengan hewan kurban dan itu yang disembelih oleh Nabi Ibrahim alaihissalam. Masya Allah, ibadah kurban sampai sekarang menjadi amal jariyah bagi Nabi Ibrahim alaihissalam dan putranya tersebut. 

Coba, bisa kamu hitung sudah berapa sapi, kambing, dan unta yang sudah disembelih sejak zaman Nabi Ibrahim alaihissalam sampai sekarang? Hebatnya Allah, ketiga hewan tersebut sampai sekarang tidak pernah punah. 

Padahal, penyembelihan hewan kurban terjadi di seluruh dunia. Sangat banyak yang disembelih, tetapi stoknya selalu cukup. Allah yang menjaga ketiga hewan tersebut hingga sampai nanti hari kiamat, masih bisa dijadikan hewan kurban. 

Nah, ibadah kurban ini mengajarkan suatu hal yang cukup misterius sebenarnya. Apakah ini terkait dengan misteriusnya teror pocong yang sedang viral itu? Oh, tidak sama sekali. Pocong itu cuma ada di lagu anak-anak, yaitu: pocong bebek angsa. 

Kenyataan sekarang berbicara bahwa pengorbanan terbesar bukan selalu uang. Yap, tidak selalu kaitannya dengan uang. Sebab, ada yang secara ekonomi mampu, tetapi berat berbagi.

Mereka menganggap bahwa harga hewan kurban itu mahal. Padahal, ketika mereka butuh HP baru, kok uangnya selalu ada? Mau jalan-jalan liburan ke luar kota, bahkan mungkin luar negeri, kok ada juga? 

Sedangkan, melaksanakan hewan kurban dianggap pemborosan. Dianggap menyakiti hewan atau tidak berperikehewanan. Merasa penyembelihan hewan kurban melanggar HAH alias Hak Asasi Hewan. Hah? 

Namun, pada sisi yang lain, ada yang rela berkurban, meskipun berada dalam taraf ekonomi yang biasa-biasa saja. Bahkan, bisa jadi mereka agak kekurangan harta, tetapi semangatnya untuk berkurban patut diacungi jempol. 


Menyangkut Setelah Ibadah Haji

Rukun Islam itu ada lima, semoga kita masih bisa mengingatnya. Jadi, jika ketemu guru agama SD kita di jalan, kita masih bisa menyebutkannya. 

Akan tetapi, haji yang menjadi bagian dari rukun Islam ini dan termasuk ibadah yang mahal, dibarengi dengan sudah antre bertahun-tahun, perjuangannya besar, tetapi justru bukan itu yang paling sulitnya.

Hal yang lebih berat adalah menjaga perubahan setelah pulang. Masih banyak saya lihat, begitu tiba di Tanah Air, yang perempuan kembali membuka aurat. 

Jilbab yang dikenakannya begitu kecil, bahkan hanya sekadar tutup kepala saja, masih terlihat lehernya. Mengenakan perhiasan emas yang berlapis-lapis pula. 

Sedangkan yang laki-laki rumahnya dekat masjid, tetapi susah mau salat berjamaah di rumah Allah tersebut. Masih larut juga dengan kebiasaan merokok. 

Mereka yang menyandang status "Pak Haji" dan "Bu Haji" itu sebagian juga masih suka menyakiti orang. Akhirnya, kita jadi berpikir, ibadah haji dengan pengorbanan yang luar biasa itu, hasilnya kok seperti bukan meningkat baik secara pribadi maupun ibadah, ya? 

Ketika sudah dikenal orang dengan sebutan haji atau alumnus ibadah haji, semestinya menjadi motor penggerak ibadah yang kuat di masyarakat. Mereka semestinya menjadi pionir dakwah di kampung. Mereka seharusnya juga menjadi teladan akhlak yang mulia. 

Namun, kenyataan tidak seideal itu rupanya. Bahkan, saya pernah dengar sendiri, ada orang yang fokus sekali untuk mengumpulkan uang demi uang agar bisa ibadah haji dan mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan lainnya. 

Ternyata, mereka ingin cepat-cepat berangkat haji agar status sosialnya terangkat. Agar punya wibawa di masyarakat. Agar tidak dipandang sebelah mata. Bukankah kalau memandang sebelah mata itu karena kelilipan, ya? 

Pada akhirnya, yang berubah kadang memang hanya gelarnya. Sedangkan kebiasaan lamanya masih suka dipelihara.