Seseorang Dilihat dari Temannya: Cerita Jatuh Cinta pada Piala Dunia

Piala dunia/Pexels.com

Piala dunia/Pexels.com

Gempita piala dunia tidak lagi marak seperti zaman SMA dulu. Teringat ketika SMA, setiap hari setiap siswa sibuk membicarakan bola. Mereka mengunggulkan pemain favoritnya. Bahkan ada yang sampai rela membeli kaos piala dunia. 
 
"Seseorang dilihat dari temannya"
Pepatah ini sungguh bukan ucapan kosong. Dalam kenyataannya, seseorang akan mengikuti kebiasaan temannya.

Jika temannya menyukai sepak bola atau suka menonton pertandingan piala dunia, maka suatu saat teman yang tidak pernah mau tahu soal sepak bola akhirnya rela terjaga malam hanya untuk menonton pertandingan piala dunia.
 

Piala Dunia dan Kenangan Tentangnya

Tahun 1998 adalah tahun pertama mengenal piala dunia. Tahun berkumpul bersama teman-teman yang hobi berolahraga. Obrolan tentang bulutangkis (badminton) dan sepak bola kerapkali hadir di waktu istirahat. Setiap orang menjagokan tim atau pemain mereka.
 
Saya yang waktu itu belum tahu seberapa asyiknya menonton piala dunia menjadi penasaran akibat cerita-cerita mereka.

Lalu, diam-diam saya sengaja ingin mengatasi rasa penasaran itu hingga tertontonlah siaran langsung pertandingan piala dunia yang waktu itu diadakan di Perancis.
 
Pada saat itu maskot piala dunianya adalah Footix, yaitu seekor ayam jantan berjambul merah. Saya duduk di depan TV hanya untuk mencari sisi yang menyenangkan dari pertandingan sepak bola. Awalnya, mata saya hanya difokuskan pada layar televisi. 
 
Dari pandangan itu, saya tahu bahwa pertandingan sepak bola itu memang mengasyikan. Sangkin mengasyikannya, saya tidak ingin melewatkan satu sesi pun. Saya melihat bagaimana skor diperoleh dari tiap tim dengan tipis. Kejar-kejaran skor itu membuat jantung berdegup kencang.