Diet Ala Idol Korea, Sumber Gambar: Editing dengan AI
Like
Pagi ini, saya cukup kaget dengan fenomena diet ekstrim. Bukan, ini bukan diet tidak makan ekstrim yang dingin dan di kulkas khusus itu, melainkan diet yang dipelopori oleh idol Korea. Idol? Yang dipakai pasta gigi itu?
Fenomena lainnya, di era sekarang, ketika ditanya anak-anak, cita-citanya mungkin bukan lagi sebagai presiden, dokter, atau insinyur. Cita-citanya ternyata berubah ingin jadi artis dengan berat badan yang hanya 45 kilogram.
Serius, 45 kilogram atau angka timbangan sekitar itu dianggap sebagai standar berat badan. Langsing, bahkan cenderung kurus dianggap sesuatu yang harus.
Saya jadi bertanya-tanya, kok angka di timbangan jadi lebih menentukan suasana hati daripada saldo rekening, ya? Ada apakah gorengan? Bakwan ada?
Kalau menyangkut fenomena diet idol Korea itu, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Saya tidak tahu idol Korea itu yang mana, yang jelas saya tidak kenal dia, begitu pula, dia tidak kenal saya. Jadi, buat apa saya kenal orang kalau dia tidak kenal saya, ya 'kan?
Berdasarkan informasi yang dimuat di website Bisnis Muda, katanya dia hanya makan 3 pisang sehari. Terus juga makan apel dan dada ayam. Mungkin ditambah dengan minum cairan tertentu.
Makanan seperti itu apakah kenyang? Mungkin tidak, masih lebih kenyang makan nasi goreng yang satu piring, entah berapa butir itu. Masih lebih kenyang juga makan lontong dengan masakan daging hewan kurban. Ya 'kan? Ya toh? Ya nggak?
Namun, begitulah pilihan hidup. Dan, pilihan hidup orang memang tidak bisa kita salahkan 100 persen, apalagi 200 persen. Dia juga hidup dengan caranya sendiri, sedangkan kita juga dengan cara sendiri.
Hal yang jelas, pada dasarnya, menjadi idol itu adalah profesi, bukan kehidupan kita yang murni. Kabarnya, untuk menjadi idol di Korea butuh perjuangan yang lumayan berat.
Ada standar tinggi di sana, sementara di sini lebih banyak standar samping dan standar tengah. Makanya, industri hiburan di Korea cukup maju hingga ke luar negeri, sampai di Indonesia juga sekarang. Para artisnya memang tidak main-main.
Beda dengan di Indonesia. Yang penting terlihat cantik, ganteng, tanpa harus menyanyi lagu MBG pula. Coba lihat audisi-audisi pencarian bakat kita. Setelah ada pemenangnya, lama-lama akan dilupakan juga bukan?
Memang begitulah dunia artis. Tidak akan pernah kehabisan stok artis. Seiring usia artis yang semakin tua, maka yang di bawahnya sudah siap untuk mengganti.
Untuk idol Korea sendiri, kita mungkin sering lupa bahwa idol itu memang dibayar untuk tampil sempurna. Tiap hari, mereka bekerja di industri hiburan. Tersorot lampu ribuan watt, panas dan silau sekali.
Tubuh mereka menjadi bagian dari pekerjaan. Ritme hariannya pun tidak seperti orang pada umumnya. Selelah apapun dia, tetap harus tampil ceria, energik, dan prima saat di panggung.
Memang sih uangnya sangat besar. Bisa menabung dengan jumlah yag fantastis. Namun, konsekuensinya itu tadi. Pasti ada yang dikorbankan. Pasti ada yang menjadi gantinya.
Ini jadi seperti analogi seperti atlet yang harus latihan berjam-jam setiap hari. Orang biasa macam kita tidak mungkin untuk meniru seluruh pola kehidupan atlet tersebut. Apalagi pekerjaan kita cuma duduk di kantor dari pagi sampai sore.
Lebih baik, jangan membandingkan kehidupan biasa kita yang seperti roda pedati ini dengan tuntutan profesi seorang idol. Bukankah seorang idol tidak pernah menarik pedati juga?
Diet Ekstrem yang Dianggap Selalu Laku?
Lebih cepat, lebih baik. Pernah baca kalimat ini? Pernah dengar seseorang mengatakan kalimat itu? Kalau kamu masih mengingatnya, berarti kamu tidak melupakannya. Ini adalah koentji. Manusiawi memang, kita lebih suka hasil yang cepat. Jika misalnya ada dua pilihan, kamu mau turun 1 kg dalam sebulan atau cuma turun 5 kg dalam seminggu, maka yakin, mayoritas dari kamu akan memilih yang kedua.
Padahal yang terjadi, yang dirasa cepat belum tentu itu sehat. Yang dirasa lambat, belum tentu tidak cepat. Namun, itu tadi, kalau bisa cepat, kenapa harus lambat-lambat?
Memang, saat ini, sekarang ini, di masa ini, dan ini-ini yang lain, kita hidup di zaman yang serba instan. Ada yang namanya kopi instan dan mi instan. Kalau perlu, ingin perut six pack juga maunya instan. Bisa, sih, kalau digambar perutnya pakai spidol besar.
Tubuh Kita Bukanlah Mesin
Apakah kamu tahu Robocop? Yap, Robocop adalah robo yang dipasang cop. Eh, bukan itu. Robocop adalah tokoh rekaan dalam sebuah film tentang Alex Murphy.Dia itu seorang polisi yang berhasil dibunuh secara brutal oleh komplotan penjahat di Detroit masa depan. Namanya film, tubuhnya yang tersisa ternyata bisa dihidupkan kembali.
Itu bukan reinkarnasi apalagi remakanasi, artinya belum merasa kenyang kalau belum makan nasi, sekan-akan "hidup kembali" hanya untuk makan.
Alex dalam film tersebut dimodifikasi menjadi siborg penegak hukum. Sebuah perusahaan korup bernama Omni Consumer Products (OCP) berhasil melakukannya.
Alex pun menjadi pahlawan separuh manusia dan separuh mesin. Robocop cuma terlihat mulutnya. Jadi, sebenarnya di situlah titik kelemahannya. Sama dengan Batman, tinggal ditembak mulutnya, rebes, dah.
Nah, kalau dalam film ada manusia yang bisa menjadi robot, dalam kenyataannya, tubuh manusia bukanlah robot. Makanya, ketika kurang bahan makanan, ya, jadinya 5 L: Lemas, Letih, Lesu, Letoy, dan Lunglai.
Tubuh manusia sebenarnya sangatlah pintar. Bila dalam kondisi terlalu sedikit makanan, maka akan dianggap sedang dalam kondisi darurat.
Konsekuensinya, pembakaran energi jadi diperlambat. Tujuannya untuk menghemat tenaga. Makanya, tidak usah merasa heran, meskipun kamu kenal yang namanya Herman, kalau ada orang yang sudah makan dengan porsi sangat sedikit, tetapi berat badannya malah susah turun lagi.
Tetaplah makanan yang sehat dan seimbang dibutuhkan dalam hidup. Kalau ada yang sampai diet ekstrem, maka efeknya dapat berujung sulit konsentrasi. Ditambah dengan mudah marah dan metabolisme terganggu.
Jika memaksakan diet ekstrem seperti idol Korea itu, jangan-jangan siang memang berhasil makan satu apel. Ketika sore hari ternyata masih kuat bertahan.
Namun, pada pukul sembilan malam, pertahanan jebol, seperti kekalahan menyesakkan AC Milan melawan Cagliari 1-2 di kandang sendiri pula. Mereka pun terlempar dari empat besar dan gagal ke Liga Champions.
Ketika pertahanan jebol dan benar-benar tidak sanggup untuk diet ekstrem, akhirnya kantong pun dirogoh. Wujudnya berubah jadi nasi goreng, martabak, dan ayam geprek terus memanggil sampai ke dalam hati sanubari.
Fenomena seperti ini seringnya memang terjadi. Istilahnya adalah binge eating atau makan berlebihan setelah terlalu lama menahan diri.
Pada siang hari, bisa menjadi manusia yang paling disiplin sedunia. Akan tetapi, ketika malam harinya semuanya berubah. Bukan berubah menjadi manusia serigala karena melihat bulan purnama, melainkan karena menjadi pelanggan tetap warung makan sederhana.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.