Radio Cawang: Bisnis Antik Kriya Nusantara Lewat Mahakarya Gobel

Like

Pria asal Gorontalo itu terus terbayang pidato Presiden Soekarno yang ingin seluruh rakyatnya bisa menikmati dua barang mewah setelah masa kemerdekaan: lemari es dan radio. Pria bernama lengkap Thayeb Mohammad Gobel itu awalnya adalah seorang pekerja di Perseroan Dagang Nasional BEHRING NV pada tahun 1954. Namun, berawal dari situ lah pria yang sekarang tercatat sebagai pelopor industri elektronik ini, jadi bisa mengenal dunia elektronika.

Enggak perlu waktu lama, masih di tahun yang sama, Gobel akhirnya memberanikan diri untuk membuat pabrik radio bernama PT Transistor Radio Manufacturing bersama teman-temannya. Berlokasi di Cawang, Jakarta Timur, kemudian lahirlah produk radio buatan asli Indonesia dengan merek “Radio Tjawang” atau Radio Cawang.

Eksistensi Radio Cawang

“Terus mencari, biar musim berganti. Radio cerahkan hidupnya, jika hingga nanti ku tak bisa menemukan hatinya..”

Sepenggal lirik dari grup band Sheila On 7 itu bisa jadi pengingat bahwa radio masih eksis sampai hari ini. Walaupun sudah ada televisi sampai Youtube, hayoo siapa yang kalau kena macet masih dengerin radio? atau Be-emers pernah enggak sih dengar radio cuma karena mau request lagu, kirim salam ke gebetan bahkan mantan, sampai nge-fans sama penyiarnya?


Seiring perkembangan zaman, radio sekarang lebih banyak didengar lewat aplikasi atau streaming di smartphone dan digital radio di mobil. Kalau Be-emers masuk kategori generasi 90an, apalagi buat yang hype abis di masanya, pasti ada juga dong yang pernah dengerin radio pakai walkman.

Sebelum radio bisa ada di genggaman tangan dan mudah dibawa kemana-mana, radio dalam bentuk transistor juga banyak banget penggemarnya di tahun 1950-an sampai 1970-an nih Be-emers. Maklum, di era itu, radio jadi barang elektronik yang dianggap cukup mewah. Selain mudah dibawa dan hanya menggunakan baterai -alias tanpa listrik, radio ini juga umum dipasang di mobil.

Radio Cawang adalah salah satu radio yang banyak digunakan saat itu. Merupakan karya anak bangsa, radio buatan Thayeb Gobel itu punya tampilan yang sangat artistik dan berbeda dengan radio yang masih pakai tabung hampa.

Walaupun “bentuk” radio sekarang menyesuaikan perkembangan zaman, tapi jangan salah, radio “jadul” itu masih banyak penggemarnya lho. Bentuknya yang unik dan terkesan vintage, bikin orang-orang berburu radio transistor, terutama Radio Cawang. Bisnis radio antik ini pun jadi menarik.

Melihat adanya celah bisnis, Founder Kriya Nusantara Abdul Sobur pun kemudian memproduksi Radio Cawang yang melegenda itu. Seperti dilansir dari Harian Bisnis Indonesia yang terbit 24 Januari 10 Tahun lalu, Sobur yang lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB ini rupanya sempat berkesempatan bertemu dengan Rachmad Gobel, Chairman Panasonic Gobel Group sekaligus putra dari Thayeb Gobel, di ajang Bahana Ventura Award 2008.

Berawal dari pertemuan itu lah, akhirnya keduanya sepakat buat kerja sama untuk memproduksi Radio Cawang dengan jargon “seni elektronik” atau Art Radio. Tagline itu bertujuan buat menyatukan teknologi dan karya seni. Jadi, kalau Be-emers punya Radio Cawang ini, enggak cuma bisa buat dengar siaran radio atau lagu favorit aja nih, tapi juga bisa dinikmati sebagai karya seni juga.

Dilansir dari laman cawangradio.com, salah satu alasan Sobur untuk menciptakan kembali radio transistor itu karena dia melihat semangat nasionalisme keluarga Gobel dalam memproduksi produk kreatif. Dikutip juga dari Harian Bisnis Indonesia, Sobur mengatakan, “radio ibarat musik klasik yang tidak akan lekang oleh waktu. Tinggal kami mengemasnya menjadi lebih menarik,”

Diproduksi lagi oleh Kriya Nusantara, Radio Cawang tampilannya dibuat lebih menarik, Be-emers. Ada yang dibalut sama motif batik, kaligrafi, dan masih banyak lagi. Sobur dan tim kreatifnya juga mendesain ulang bentuk bodinya sehingga jadi tambah artistik.

Kelangsungan bisnis ini juga cukup menarik, Be-emers. Harganya cukup bervariasi, tergantung dari motif dan bentuk desain bodinya. Di pasaran, harga Art Radio Cawang ini minimal Rp900 ribuan. Bukan cuma di dalam negeri aja, radio bernilai seni dan bersejarah ini juga dipasarkan hingga ke luar negeri lho.

Jadi gimana, Be-emers tertarik buat beli atau berbisnis radio jadul?