A Convenience Store Woman: Sisi Lain Kehidupan Pegawai Minimarket Jepang

Convenience Store Illustration Bisnis Muda - Canva

Like

Menjadi berbeda dari orang lain mungkin kelihatannya sangat keren. Di sisi lain, apakah menjadi beda bisa dengan mudah diterima oleh orang lain?

Hal pertama yang akan kamu dapatkan saat mencoba untuk berbeda adalah sorotan mata yang tajam dari orang lain. Mereka akan mengamatimu, hingga merasa kamu bukan bagian dari mereka.

Kamu pernah merasa seperti itu?

Untuk kamu yang tak acuh, mungkin menjadi berbeda akan membuat kamu nyaman dan lebih spesial. Sayangnya, enggak semua orang punya pikiran yang sama dengan kamu.

Baca Juga: Ini Rekomendasi Buku untuk Kamu yang Mau Belajar Saham
 

Apakah Punya Pekerjaan Tetap dan Menikah adalah Kehidupan Normal?

Keiko Furukura, wanita berusia 36 tahun itu telah merasakan menjadi berbeda dari orang lain. Bekerja sebagai karyawan di sebuah minimarket sejak usia 18 tahun, Keiko mendapat sorotan dari orang-orang tentang apa yang ia lakukan.


Pasalnya, Keiko bukanlah karyawan biasa. Ia sudah bekerja sebagai pekerja paruh waktu di minimarket tersebut selama hampir 18 tahun lamanya! Mungkin, kamu juga bakal bertanya-tanya, untuk apa sih dia bekerja paruh waktu selama itu?

Normalnya, orang seusia Keiko akan lebih memilih pekerjaan tetap atau bahkan yang lebih mapan, ketimbang harus bekerja paruh waktu di umur yang sudah mencapai kepala tiga. Memang, bekerja paruh waktu itu juga dibutuhkan oleh banyak orang, meski lebih sering dikerjakan oleh mahasiswa atau pelajar.

Lalu, apakah kamu akan bertahan dengan pekerjaan paruh waktu seumur hidup?

Keiko adalah manusia dengan jalan pikirannya sendiri. Ia bagai ikan yang hidup melawan arus.

Jangankan terpikir untuk bekerja di perusahaan ternama dan mendapat jabatan, pindah ke tempat kerja lain untuk mendapat pekerjaan penuh waktu saja tidak terlintas dalam benak Keiko.

Menariknya, Keiko justru merasa sangat nyaman dengan apa yang ia lakukan. Walaupun, orang-orang sibuk membicarakan dirinya aneh dan tidak normal.

Apalagi, Keiko sama sekali enggak berpikir untuk mencari pacar, menikah, apalagi punya anak. Keiko sudah merasa hidupnya “cukup” dengan apa yang dimilikinya sekarang.

Sayangnya, tekanan yang ia hadapi berkata lain. Semakin tua usianya, tekanan kehidupan yang katanya mencemaskan Keiko, justru merasuki dan menjadi beban tersendiri.

Hingga akhirnya, Keiko bertemu dengan Shiraha, pria yang juga dianggap enggak normal sama banyak orang karena enggak punya pekerjaan tetap. Bahkan, Shihara juga lebih memilih hidup di jalanan dan enggak berpikir untuk bisa berbagi kasih dengan orang lain.

Hidup yang terkadang kejam ini, menuntutnya untuk menjadi apa yang dianggap “normal” oleh kebanyakan orang. Keiko pun akhirnya mencoba untuk keluar dari zona nyamannya.

Bersama Shiraha, Keiko mencari apa itu “kehidupan normal” yang seringkali dibicarakan orang-orang. Namun, apakah sesuatu yang dianggap “normal” itu bisa membuat Keiko dan Shiraha bahagia?

 

A Convenience Store Woman Cover - Pinterest



Dalam buku A Convenience Store Woman (Konbini Ningen), Sayaka Murata mencoba untuk merefleksikan lebih dalam tentang sisi lain dari kehidupan masyarakat Jepang.

Sayaka sendiri pernah bekerja di sebuah toko tiga kali dalam seminggu. Buku yang ditulis tersebut, bisa dibilang, merupakan kisah yang menceritakan sebagian besar pengalaman pribadinya.

Diterbitkan pertama kali pada Juli 2016, novel tersebut bahkan berhasil memenangkan Penghargaan Akutagawa di tahun yang sama lho! Terjual lebih dari 1 juta eksemplar di Jepang, kini A Convenience Store Woman sudah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa di seluruh dunia lho!