Esok Tanpa Ibu: Ketika Teknologi Mencoba Mengobati Rindu yang Tak Bertepi

Ali Fikry & Dian Sastrowardoyo, dua karakter utama dalam film Esok Tanpa Ibu (Sumber gambar: doc. Base Entertainment)

Ali Fikry & Dian Sastrowardoyo, dua karakter utama dalam film Esok Tanpa Ibu (Sumber gambar: doc. Base Entertainment)


Halo, Be-emers! Apa kabar semuanya? Masih semangat menjalani hari?

Ngomong-ngomong soal tontonan, ada yang sudah meluangkan waktu buat nonton film Esok Tanpa Ibu belum?

Jujur, meski film ini sudah beberapa minggu tayang di bioskop, antusiasme penontonnya masih luar biasa tinggi. Kursi bioskop masih banyak yang terisi, dan obrolan soal film ini masih sering berseliweran di media sosial.

Kalau kalian belum sempat nonton, mungkin artikel ini bisa jadi alasan buat kamu segera meluncur ke bioskop terdekat di akhir pekan nanti.
 

Esok Tanpa Ibu: Ketika Teknologi Mencoba Mengobati Rindu yang Tak Bertepi


Film Esok Tanpa Ibu membawa premis yang cukup emosional sekaligus relevan dengan zaman sekarang. Film ini berfokus pada POV seorang anak laki-laki (diperankan Ali Fikry) yang baru saja kehilangan sosok ibu yang sangat ia cintai.


Rasa kehilangan yang mendalam ini membuatnya terjebak dalam duka yang berkepanjangan. Rindu yang tak tertahankan itu akhirnya mendorongnya untuk meminta bantuan seorang teman perempuan yang ahli dalam bidang teknologi. Mereka pun menciptakan sebuah aplikasi bernama "I-BU".

Sesuai namanya, aplikasi ini dirancang untuk memunculkan sosok ibu (diperankan Dian Sastrowardoyo) secara virtual dengan detail yang nyaris nyata. Mulai dari suara, gestur, hingga cara berpikirnya yang diprogram berdasarkan data-data masa lalu sang ibu.

Awalnya, aplikasi ini memang terasa seperti "obat" ajaib. Si anak bisa kembali berinteraksi, bercerita, dan merasa kehadiran ibunya seolah-olah tidak pernah pergi.

Namun, di sinilah letak kecerdasan film ini. Sutradara Ho Wi-Ding (sineas Malaysia) sangat pandai memadukan unsur humaniora tentang kehilangan dengan kecanggihan kecerdasan buatan (AI).

Film ini tidak sekadar bicara soal kecanggihan masa depan, tapi justru mempertanyakan sejauh mana teknologi bisa masuk ke dalam ranah hati manusia yang paling privat.

Baca Juga: Adaptasi Film dari Novel Karya Jane Austen: 4 Rekomendasi yang Wajib Masuk Watch List Kamu!


Teknologi Bisa Menduplikasi Data, tapi Tidak dengan Rasa

Ada satu adegan klimaks yang buat saya pribadi sangat powerful dan cukup menampar.

Saat itu, si anak laki-laki memberikan sebuah situasi atau ingatan spesifik yang terjadi di sebuah jembatan kepada aplikasi tersebut. Namun, i-BU gagal memberikan jawaban. Aplikasi itu tidak tahu cara merespons karena memang tidak ada data yang bisa diproses untuk situasi tersebut.

Adegan itu menjadi momen puncak yang menegaskan pesan film ini. Bahwasanya teknologi memang bisa menduplikasi data, ingatan, dan visual, tetapi tidak akan pernah bisa menduplikasi rasa.

Seorang ibu bukan sekadar kumpulan memori atau suara yang terekam. Di sana ada jiwa, kasih sayang yang mungkin tidak logis, dan empati yang tumbuh dari pengalaman hidup yang tidak bisa dikodekan dalam barisan script pemrograman.