Peluang Bisnis Tambal Ban dan Isi Nitrogen Beromzet Rp20 Juta per Bulan

Ilustrasi isi angin ban (Foto: Freepik)

Like

Usaha pelayanan tambal ban dan isi angin ban kendaraan bermotor yang selama ini banyak hadir di pinggir-pinggir jalan, ternyata bisa naik kelas, dan dikemas menjadi peluang bisnis jasa berkelas yang menguntungkan.

Terobosan inilah yang digagas pengusaha Adang Wijaya, yang sebelumnya sempat memiliki usaha di bidang konsultan manajemen, berhasil mentransformasi usaha pinggiran itu menjadi naik kelas melalui outlet Green Nitrogen.

Setelah lebih dari 8 tahun beroperasi, sejak kali pertama dibuka pada 2011, Green Nitrogen terus berkembang pesat dengan telah mengoperasikan lebih dari 700 outlet di berbagai titik stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina.

Keputusan Adang, seperti dilansir Bisnis Indonesia Weekend, untuk terjun dalam bisnis Green Nitrogen bermula saat dirinya bertemu dengan seorang teman yang tengah merintis bisnis isi angin nitrogen.

Dia kemudian memilih lokasi yang nyaman, membuat tampilan outlet yang menarik, serta menghadirkan peralatan dan karyawan berseragam terlatih untuk melayani jasa tersebut.

“Saya melihat bisnis isi angin nitrogen ini punya prospek yang besar, karena saat itu orang hanya menawarkan isi angin biasa. Tapi untuk menjadi besar, usaha ini jangan dibuka di pinggir jalan, harus di tempat yang bergengsi yaitu di SPBU Pertamina karena itu kan perusahaan papan atas. Apalagi SPBU paling sering dikunjungi kendaraan roda dua maupun roda empat,” ujarnya.


Pada awalnya, harapan Adang untuk membuka booth di SPBU-SPBU Pertamina tidaklah mulus karena adanya larangan membuka usaha di dalam SPBU.


Namun, kondisi itu tak membuatnya patah arang. Pria kelahiran 28 Februari 1970 ini terus berusaha hingga akhirnya dia mendapatkan kesempatan dari salah satu pemilik swasta SPBU Pertamina di kawasan Bekasi untuk membuka outlet Green Nitrogen pertamanya.

Pada awal menjalankan usaha, Adang lebih banyak memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya isi angin nitrogen dibandingkan dengan isi angin biasa.

Ketika itu, hampir setiap orang yang mengisi nitrogen di tempatnya, tidak bayar alias gratis karena masyarakat telah terbiasa untuk isi angin gratis di setiap SPBU Pertamina.

“Pada awal-awal buka, pendapatan kami sehari-hari lebih banyak nol rupiah. Bisa dapat Rp20.000 itu sudah senang, apalagi pas dapat pertama kali Rp100.000 itu senangnya bukan main,” kisahnya.


Sampai akhirnya, Green Nitrogen mendapat kesempatan diundang oleh Ferrari Indonesia untuk membantu mengisi angin mobil-mobil Ferrari pada acara mereka di Sentul, Jawa Barat.

Perlahan tapi pasti, makin banyak masyarakat yang memahami pentingnya mengisi angin nitrogen karena dapat membuat tekanan dan temperature lebih stabil, serta membuat ban lebih lentur sehingga berkendara terasa lebih nyaman dan aman.

Puncaknya pada saat mudik Lebaran 19 Mei 2011. Kala itu, masyarakat antre untuk mengisi angin nitrogen sehingga omzet yang tadinya rata-rata hanya nol rupiah melonjak signifikan menjadi Rp1 juta per hari. Kondisi ini memunculkan rasa percaya diri Adang untuk membuka di tempat lainnya.


KERJA SAMA

Dengan perkembangan yang cukup baik, dan dengan dukungan layanan dan outlet yang menarik, Adang pun kembali menawarkan kerja sama dengan Pertamina. Bak gayung bersambut, perusahaan BUMN itu menerima tawaran darinya sehingga pada 2013, Pertamina dan PT Global Insight Utama resmi menjalin kerja sama eksklusif.

Dengan kerja sama tersebut, Green Nitrogen menjadi operator resmi yang menawarkan isi angin nitrogen dan tambal ban tubeless di setiap SPBU milik Pertamina. Tentu saja dalam mengembangkan bisnisnya ini, Adang tidak bisa bergerak sendiri, dia kemudian menjalin kerja sama dengan para teman, sahabat, dan orang-orang yang ingin mengembangkan bisnis tersebut.

Rencananya pada tahun ini, Adang fokus mengembangkan bisnis di luar Jawa mulai dari Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, baik untuk dikembangkan sendiri maupun dengan menggandeng kemitraan.

Menurutnya, peluang untuk mengembangkan bisnis di luar pulau Jawa ini masih sangat besar. Apalagi, dari segi prospek usaha, bisnis isi angin dan tambal ban tidak terpengaruh krisis ekonomi.

“Target kami setiap bulan bisa membuka 5—10 titik di luar Pulau Jawa, peluangnya masih sangat terbuka lebar,” ujarnya.


Lebih lanjut dia menuturkan bahwa investasi awal yang harus dikucurkan untuk ikut dalam peluang kemitraan bisnis Green Nitrogen ini sebesar Rp120 juta untuk membangun outlet, mesin, peralatan, seragam karyawan, dan lainnya.

“Omzet rata-rata perbulan yang bisa didapatkan di setiap outlet itu sekitar Rp15 juta sampai Rp20 juta, dengan proyeksi BEP [break even point] sekitar 2—3 tahun,” ujarnya.


Dalam kerja sama kemitraan, Adang menerapkan sistem kemitraan pasif, artinya mitra hanya menanamkan modal di awal, sedangkan operasional dan karyawan, serta perlengkapan pendukung semuanya merupakan tanggung jawab perusahaan.

“Kami menerapkan sistem bagi hasil dengan para mitra. Dari setiap keuntungan yang didapatkan, 70% untuk mitra, sedangkan 30% untuk kami, ini berjalan selama 3 tahun sampai mitra balik modal. Setelah itu, pembangian keuntungan 50:50,” ujarnya.


Beberapa jenis layanan yang disediakan oleh Green Nitrogen mulai dari tambal ban tubeless, isi angin nitrogen. Pihaknya juga menawarkan jasa steam wash, cuci eksterior dan interior, termasuk layanan bongkar pasang ban serep dan tukar posisi ban terutama untuk beberapa titik Green Nitrogen.