Merajut Cuan dari Bisnis Rajut

Like

Stockinette stitch yang ditemukan sekitar tahun 1.000 masehi di Mesir, jadi awal mula teknik merajut ditemukan, dan kemudian terkenal ke seluruh negeri hingga sekarang. Di Indonesia sendiri, teknik rajut ini “dikenalkan” oleh para noni-noni Belanda saat era kolonial.

Merajut, atau yang berarti menyirat jaring-jaring, identik dengan busana. Dapat dilakukan dengan tangan atau mesin, merajut punya banyak teknik, seperti tusuk atas dan tusuk bawah. Kegiatan ini juga identik dengan wanita, walaupun di abad pertengahan, merajut justru dilakukan oleh laki-laki di Eropa.

Nah, Be-emers ada yang punya hobi atau tertarik merajut? Selain bisa mengisi waktu luang dan jadi barang yang berguna, rajutan juga bisa jadi peluang cuan lho.

Pemasaran Bisnis Rajut

Salah satu yang merajut cuan dari bisnis rajut ialah Dewi Prasti. Dilansir dari Bisnis.com, pemilik dari bisnis rajutan bermerek Bagtage dan Hammockshoes ini awalnya terinspirasi dari para perajin tas rajut berbahan serat tumbuhan di Kecamatan Sentolo, Yogyakarta.


Selain melihat potensi bisnis, Dewi juga termotivasi untuk memasarkan produk rajutan di kampung halaman ibunya itu. Sebab, para perajin rajut di sana awalnya hanya bisa memasarkan hasil kerajinannya itu kepada para pengepul atau pengusaha lokal. 

Belajar dari masa kecilnya, kini ia memanfaatkan jejaring dan media sosial untuk memasarkan produk rajut lokal buatan ibu-ibu di kampungnya. Enggak hanya itu, Dewi juga melakukan door to door dengan kerjasama dengan toko dan reseller.

Alhasil, sekarang Dewi dan teman-temannya berhasil memasarkan produk lokal dan handmade itu sampai ke luar negeri lho, Be-emers. Menjual produk rajut tas dan sepatu yang bisa di-custom, bisnis yang ditekuni Dewi ini sudah banyak dipesan ke Malaysia, Singapura, dan Jepang.

Inovasi Produk

Setuju enggak kalau bisnis apapun selalu butuh inovasi? Hal itu rupanya juga berlaku buat bisnis dari seni merajut. Selain teknik, produk rajutan pun juga penting buat diinovasi, supaya menyesuaikan kebutuhan dan tren.

Hal itu disadari oleh Astrid Chintia Dewi, seorang ibu rumah tangga yang kini sudah sukses dengan bisnis rajutnya. Dilansir dari Bisnis Indonesia Weekend, terinspirasi oleh sang nenek yang hobi merajut serta motivasi untuk mengisi waktu luang, bikin Astrid kemudian nekat mempromosikan karyanya di media sosial.

Dapat respon positif, ia lantas enggak langsung congkak. Pemilik Achieds Art ini kemudian mulai berinovasi dengan bikin produk rajut kayak kardigan, sepatu, kopiah, dan aneka perabot rumah.

Sempat dinilai cukup mahal oleh pelanggannya, bisnis yang dimulai dengan modal Rp2 juta ini pun mampu membuktikan kualitasnya. Walhasil, pangsa terus bertambah, cuan pun terus menghampiri.