Kisah Pegawai yang Nekat Banting Setir Jadi Pengusaha Budidaya Jamur

Ilustrasi gambar jamur tiram - Berkay08

Like

Prospek bisnis budidaya jamur ternyata cukup menjanjikan lho, Be-emers. Selain dari permintaan konsumsi jamur yang semakin tinggi, ternyata tingkat persaingannya juga belum terlalu sesak seperti di sektor lainnya.

Hal tersebut dibuktikan langsung oleh seorang mantan pegawai di instansi pemerintah Indonesia. Dia nekat berhenti dari pekerjaannya untuk fokus menjadi pengusaha budidaya jamur secara komplit.

Dia mulai menggeluti bisnis jamur tiram sejak 2018, tapi sebenarnya sudah pernah menjajal bisnis jamur jenis lainnya pada 2014.

Memiliki latar belakang sebagai investigator Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), dia memutuskan berbisnis jamur tiram karena melihat tingkat persaingannya belum terlalu ketat jika dibandingkan dengan sektor ternak unggas maupun sapi. 

Selain itu, bisnis jamur tiram juga memiliki prospek cerah karena panennya bisa setiap hari. 


"Kita kayak punya pohon uang lah. Di jamur ini bisa the dream come true, panen setiap hari," demikian kata pendiri sekaligus Direktur Utama PT Halwafarm Sinergi Indonesia Helmi Nurjamil pada 9 Juli 2020.

Dua alasan Itulah yang membuat dia memutuskan untuk resign per Maret 2020 ketika sudah bekerja selama 9 tahun dan menginjak usia 30 tahun.

Dia memilih resign karena misalkan panen setiap hari, sementara harus bekerja kantoran, hasilnya akan sangat lambat. Sementara, bila dia hanya jadi pemodal saja, tentu tidak akan tahu seluk-beluk dari budidaya jamur itu seperti apa.

Sehingga, jalan yang paling tepat adalah dengan pensiun dini untuk 100% jadi petani, tapi petani milenial.


Konsep Petani Milenial dalam Bisnis Budidaya Jamur

Dia mengaku awalnya memulai bisnis jamur tiram dengan konsep 'petani kolonial'. Tanam bibit, panen jamur, lalu hasilnya dijual ke tengkulak. Selesai.

Padahal, menurutnya jamur tiram itu komoditas yang unik karena hampir setiap hari bisa dipanen, tapi tidak bisa bertahan lama, paling 2-3 hari, habis itu busuk. 

"Nah, berarti sebenarnya di sini ada persoalan," katanya.

Padahal jika ingin serius dalam usaha jamur tiram modal yang diperlukan lumayan. Sementara, petani kolonial itu rata-rata konsepnya ada di zona aman. 

Dia menjelaskan umumnya petani kolonial memiliki kumbung atau rumah jamur seluas 100 meter dengan 20.000 bibit jamur dan mampu panen tidak kurang dari 50 kg jamur per hari.

Biasanya, para petani kolonial ini menjual ke pengepul jamur mereka pada harga Rp10.000 - Rp11.000, kadang saat panen raya bisa pada harga Rp6.000 - Rp7.000.

"Kalau saya pakai konsep petani kolonial, saya rasa usaha jamur enggak menjanjikan. Soalnya kalau lihat di pasar, harga di end-user itu bisa Rp20.000 - Rp30.000. Nah, ini ada disparitas harga yang lumayan, hampir 100%," imbuhnya.

Dari sini dia tergerak untuk melakukan perubahan. Dia mengubah konsep bisnisnya dengan melibatkan investor dan membentuk tim.

Konsep ini berdasarkan pengamatan mengenai fenomena petani kolonial yang mengurus semua hal, mulai dari menanam, memanen, hingga memasarkan. 

"Kalau kayak gitu, kita jadi superman dong? Masak kita semua yang ngambil? Terus ada yang bilang, 'Tapi kan ini supaya efisien.' Saya bales, 'Lebih efisien mana kalau semuanya itu ada yang mengkoordinir, ada yang jadi ahlinya di masing-masing bidang?'" tegasnya.

Itulah yang kemudian dia terapkan pada bisnisnya sejak Juni 2019. Dia membuat sejumlah divisi mencakup produksi, pemasaran, hingga supply chain yang mencari bahan baku. 
 

Bisnis Budidaya Jamur dengan Model Sinergi

Konsep bisnis budidaya jamur yang dia jalankan menggunakan model sinergi. Dia mengubah kondisi petani jamur yang semula terbatas modal, menjadi bersinergi dengan investor ritel maupun investor lembaga.

Bila menggunakan kaca mata investor, prospek sektor agrobisnis agak kurang menarik karena risikonya tinggi dan durasi waktu menunggu sampai masa panen tiba cukup lama.

Namun, di jamur tiram berbeda. Panen bisa setiap hari sehingga mitagasi risikonya itu dapat diperkecil. 

"Jika disimulasikan dari target panen jamur 100 kg. kita bisa panen jamur tiap hari. 10 kg hari ini, besok 10 kg lagi dan seterusnya," terangnya.

Beda misalnya jika dibandingkan dengan jagung. Ketika ditanam, 3 sampai 4 bulan baru dapat diketahui apakah gagal panen atau tidak. Hal itu belum termasuk risiko jika pada bulan ke-2 terkena hama atau penyakit.

Sementara, dalam jamur tiram tidak ada istilah gagal panen karena yang ada adalah risiko target panen tidak tercapai.

"Makanya, investor di kami alhamdulillah lumayan banyak, cepet habis setiap kita buka satu kumbung baru. itu pasti banyak investor yang ikut langsung," jelasnya.
 

Memetik Hasil dari Bisnis Budidaya Jamur

Singkat cerita, bisnisnya yang semula hanya mampu panen 100 kg jamur tiram per hari, sekarang sudah mampu memproduksi 300 kg dalam sehari. 

Dia mengatakan perusahaannya saat ini menjual sejumlah produk yang masih berkaitan dengan budidaya jamur, seperti bibit jamur, medium tanam yakni baglog, atau jamur segar. Omzetnya bisa sampai Rp450 jutaan per bulan.

"Saya punya target pada akhir 2020 kita harus punya minimal 2 ton sehari," ucapnya.

Pasalnya, dia mengaku sebenarnya masih ada over demand pada jamur tiram segar. Ada permintaan 2 ton jamur per hari, tapi dia baru sanggup menyuplai 300 kg jamur per hari.

Oleh sebab itu, dia sedang fokus mengejar produksi terlebih dahulu. Soalnya, jarang-jarang ada market gap, demand lebih tinggi daripada supply.

Bahkan, permintaan 2 ton jamur per hari tersebut hanya dari pasar tradisional, belum dari pasar industri seperti untuk bumbu masak.

Soalnya, dia mengatakan saat ini sudah ada MSG dari jamur tiram yang tanpa mecin dan kebutuhan akan jamur segar juga meningkat. 

Hanya saja, dia belum mau mengambil peluang tersebut karena misalnya harus ada kontrak sementara persediaannya di bawah kuota, itu bisa kena pinalti.

Dia mengamini bahwa permintaan jamur tiram besar sekali. Itu saja permintaan sebanyak 2 ton kepadanya masih dari pasar Bogor, belum dari pasar Jakarta.
 

Tips Menjajal Bisnis Budidaya Jamur

Ada beberapa langkah yang dapat dipilih jika ingin merasakan seperti apa proses dalam bisnis budidaya jamur.

Menurutnya jika ingin belajar dari trial and error itu enggak mahal. Modalnya Rp5 juta atau kurang di bawah itu sudah bisa.

Namun, apabila ingin masuk ke skala bisnis, kurang lebih dana yang dibutuhkan sekitar Rp70 jutaan atau Rp90 jutaan.

Itu sudah termasuk semuanya, mulai dari sewa kumbung serta beli bibit dan baglog. Jadi prosesnya tinggal pembesaran jamurnya saja.


Membangun Tangga Kesuksesan dan Menghadapi Tantangan

Be-emers pasti penasaran, apa sih yang membuatnya memutuskan untuk beralih dari kerja di pemerintahan lalu menjadi petani jamur?

"Bekerja di instansi pemerintahan itu zona nyaman. Artinya, kita enggak ngapa-ngapain pun akan tiba waktunya naik jabatan. Ada anak tangganya lah yang harus kita lalui," demikian katanya.

Namun, berbeda ceritanya bila menjadi seorang entrepreneur. Meski hanya menjadi seorang petani jamur sekalipun, tapi dia sendiri yang membuat tangganya. Mau seberapa cepat langkahnya, dia sendiri yang membuat.

Lihat saja, dari yang awalnya memiliki 4 kumbung pada 2019, sekarang sudah mencapai 18 kumbung dan sebentar lagi kira-kira ada 24 sampai 28 kumbung.

Namun, perjalanan dalam bisnis budidaya jamur bukannya mulus tanpa hambatan. Pastinya tetap ada error yang dari sana dapat dijadikan pelajaran.

Dia menjelaskan fase yang riskan dalam bisnis jamur itu pada produksi bibit. Soalnya, kalau yang namanya bibit sudah gagal, jangankan ke target panen, jamurnya tumbuh saja sudah syukur.

"Jadi kalau sudah di fase growing, risikonya sebenarnya sudah kecil," terangnya.

Nah, bagi yang ingin belajar budidaya jamur, mulai saja dari fase growing. Tinggal dirawat dan disiram secara teratur, serta menjaga kelembabannya.

Sementara di fase yang lebih expert itu petani harus teliti. Materialnya harus benar-benar dicek. Soalnya, kalau salah-salah bisa jadi kontaminasi. 

Jika kontaminasi tinggi, itu dapat membuat babak belur petani karena jamurnya tidak berhasil sehingga rugi waktu dan modal.

Intinya, bisa dibilang tantangan dalam berbisnis jamur sebenarnya dalam membuat bibit berkualitas.
 

Pesan bagi yang Ingin Menjajal Bisnis Budidaya Jamur

Lewat pengalaman dan kiprah di bisnis budidaya jamur, dia mengajak generasi muda untuk turut berpartisipasi dalam memajukan pertanian Indonesia. 

Soalnya, sektor pertanian Indonesia apapun komoditasnya masih sangat luas untuk dikembangkan, terutama dari sisi teknologi dan inovasi.

Di juga mengatakan bahwa jamur tiram, jamur merang, atau jamur kancing, itu 100% aman untuk dikonsumsi karena dihasilkan dari petani lokal.