Apa yang Menyebabkan Indonesia Jadi Fatherless Country?

Fatherless membuat anak kehilangan sosok ayah dalam hidupnya (Ilustrasi: Canva)

Like

Indonesia dinobatkan jadi negara fatherless ketiga di dunia. Bukan predikat yang membanggakan, ini justru jadi tanda kurangnya sosok ayah. Sebenarnya mengapa Indonesia bisa mendapat predikat ini?

Indonesia adalah negara yang masuk jajaran negara dengan penduduk terbanyak. Hingga saat ini angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk Indonesia masih terus tumbuh.

Artinya, jika ada anak yang terus lahir maka ada peran Ayah dan Ibu yang melahirkannya. Tapi, data justru menunjukan hal lain. 

Indonesia disebut menjadi negara fatherless ketiga di dunia. Psikolog asal Amerika Serikat Edward Elmer Smith mengatakan bahwa fatherless country berarti negara yang masyarakatnya memiliki kecenderungan tidak merasakan keberadaan dan keterlibatan figur ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun psikologis.

Jelas, ini adalah ironi dan kontradiksi atas data angka kelahiran Indonesia yang terus berkembang. 


"Fatherless diartikan sebagai anak yang bertumbuh kembang tanpa kehadiran ayah, atau anak yang mempunyai ayah tapi ayahnya tidak berperan maksimal dalam proses tumbuh kembang anak dengan kata lain pengasuhan," kata Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti.

Baca Juga: Ramai Soal Childfree dan Childphobia, Ini Gejala dan Perbedaannya

Jika mendengar kata Fatherless mungkin akan terpikir bahwa ini berarti anak tersebut yatim. Tapi, nyatanya tidak begitu. Siapapun yang kehilangan sosok ayah atau tidak merasakan kehadiran ayah di hidupnya termasuk dalam kategori ini. 

Ini juga termasuk anak dalam keluarga utuh yang masih memiliki Ayah dan Ibu, namun Ayah tidak ikut berperan dalam mengasuh dan membesarkan anaknya. 


Kenapa Indonesia bisa menjadi negara fatherless?


Setelah mendengar pernyataan Indonesia sebagai negara fatherless, pertanyaan ini mungkin jadi pertanyaan hampir seluruh masyarakat. 

Apa yang menyebabkan Indonesia jadi negara fatherless padahal ada begitu banyak anak lahir dan ada begitu banyak penduduk usia produktif. 

Jawaban utamanya adalah karena Indonesia memiliki budaya patriarki yang sangat kuat. Budaya patriarki merupakan budaya dimana laki-laki mempunyai kedudukan lebih tinggi dari perempuan. 

Dalam budaya ini, ada perbedaan yang jelas mengenai tugas dan peranan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam keluarga.

Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. 

Dalam keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak, dan harta benda. Patriarki juga melihat perbedaan peran Ayah dan Ibu dalam keluarga.

Baca Juga: Jepang Resesi Seks, Memang Berapa Biaya Punya Anak di Jepang?

Ayah mencari nafkah sedangkan Ibu yang mengurus segala pekerjaan rumah termasuk mengurus dan membesarkan anak. 

Banyak masyarakat Indonesia yang masih sangat lekat dengan pandangan bahwa tugas Ayah adalah bekerja, setelah bekerja seharian pasti lelah dan butuh beristirahat, lalu kapan ada waktu untuk anak?

Budaya patriarki ini turun temurun diajarkan oleh lingkungan sosial. Kehadiran ayah yang ikut memandikan anak, menyuapi, atau mengajak jalan-jalan dianggap anomali dan menjadi pembicaraan di masyarakat.

Jelas, ini bukan budaya yang baik. Buktinya sampai Indonesia menjadi negara fatherless ketiga di dunia.

Padahal, peran ayah untuk tumbuh kembang anak sangat diperlukan. Tidak hanya ada orang yang bisa disebut ayah, namun diperlukan dukungan dan kehadirannya dalam hari-hari anak.

Nah, kalau kamu semoga bisa lebih bijak memaknai peran ayah dan ibu dalam keluarga ya Be-emers!

Punya opini atau artikel untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
 

Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.