
Ilustrasi naik bis (Foto Freepik.com)
Ada survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan bahwa Jakarta termasuk dalam 10 kota tertinggi biaya hidupnya termahal di dunia.
Hidup di kota metropolitan Jakarta, cukup keras untuk mengatur biaya transportasi. Bagi karyawan menengah ke atas tentu tidak begitu peduli dengan biaya transportasi yang cukup besar karena uang gaji mencukupi.
Sayangnya, bagi sebagian besar karyawan yang gajinya tak besar, ongkos transportasi bisa menguras gaji mereka.
Apalagi untuk mereka yang tinggal di luar Jakarta seperti Bogor, Tangerang, Karawang dan sebagainya.
Biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk mondar-mandir bekerja dari rumah di pinggiran Jakarta menuju Jakarta, dengan berbagai moda transportasi umum, ternyata tak murah.
Anak saya seorang pekerja yang bekerja di bilangan Jakarta Pusat. Tempat Tinggal di Tangerang Selatan. Jarak yang ditempuh dari rumah ke Jakarta Pusat sekitar 20 km.
Meskipun tidak jauh, tapi simpul kemacetan ada dimana-mana, keluar dari kompleks rumah sudah macet, belum lagi di tempat lainnya.
Jika dihitung jarak tempuh menggunakan moda mobil (online) sekitar 1 jam 10 menit (tanpa macet), biayanya sekitar Rp52.000, jadi total biayanya pulang pergi sekitar Rp104.000.
Pengeluaran sebulan menjadi 25 x Rp104.000= Rp2.600.000 cukup besar bukan? Padahal idealnya untuk biaya transportasi itu tidak boleh melebihi 10-15 persen dari gaji.
Jika dipaksakan pasti akan mempengaruhi anggaran biaya bulanan terhadap kebutuhan yang lain bisa tak terpenuhi.
Terpaksa cari mode trasnportasi yang lainnya yang lebih murah, dengan moda transportasi umum. Untuk menuju MRT (yang paling nyaman dibandingkan dengan KRL), biaya dari rumah untuk menuju stasiun MRT sekitar Rp22,5000 (5,2 km) dengan ojek online.
Lalu biaya tiket MRT dalam jarak 25 kilometer dikenakan sekitar Rp14.000 plus biaya ojek online dari MRT ke kantor sekitar Rp.10.000 (2 km).
Total sehari biaya transportasi 2xRp22.500 + Rp14.000 + Rp10.000 = Rp93.000. Biaya sebulan untuk transportasi 25 x Rp93.000 = Rp2.325.000.
Pilihan untuk mode KRL terpaksa tidak jadi pilihan karena pada jam kerja, gerbong KRL itu sangat padat dan tidak dapat bergerak sama sekali.
Pernah mengalami kejahatan kecopetan dompet sehingga lebih nyaman pilihan adalah MRT atau mobil online.
Namun, setelah diperhitungkan dengan matang ternyata besarnya biaya transportasi baik MRT maupun online itu tidak berbeda jauh, maka carilah alternatif lain.
Anak saya mencari kost dengan biaya lebih kurang hampir sama dengan biaya transportasi MRT atau mobil online.
Pertimbangan harga sama, waktu yang tidak terbuang, lebih efisien .
Pengalaman pribadi di atas itu dapat menggambarkan bagaimana biaya transportasi untuk kerja ternyata besar mengingat belum terintegrasinya biaya antara MRT dan biaya ojek dan lainnya.
Baca Juga: 5 Tips Sukses Menggunakan Media Sosial untuk Promosi Produk Fashion Ala Sabuya
5 Tips Menghemat Ongkos Komuter Supaya Kamu Enggak Boncos
Be-emers, jika biaya transportasi ke tempat kerja anda terlalu tinggi, pilihlah alternatif lain yang membuat dirimu berhemat ongkos transportasi
1. Pakai Kendaraan Umum
Jika Anda sudah tidak mau pusing dengan biaya parkir kendaraan dan biaya perawatan kendaraan, ada baiknya memilih kendaraan umum misalnya bus, komuter dan lainnya. Namun, perlu diingat bahwa ada risiko kejahatan seperti pencopetan dan ketidak-nyaman saat jam kerja atau sibuk selalu berjubel bahkan tidak bisa bernafas.
2. Pakai kendaraan Irit Bahan Bakar
Jika Anda ingin lebih praktis untuk naik kendaraan sendiri baik motor atau mobil dari rumah langsung menuju kantor, pikirkan untuk memilih kendaraan hemat energi seperti motor/mobil listrik.Sehingga tidak ada pembelian bahan bakar, tinggal bayar uang parkir dan perawatan mobil.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.