
Berdayakan penenun-sumber: instagram @sabuya_room
Fashion bukan sekedar model pakaian yang dikenakan oleh siapa pun, tapi punya nilai dan makna yang melekat pada pemakainya.
Predikat fashion telah berubah sekali. Tak hanya barang yang sekali pakai lalu dibuang atau tak dikenakan lagi. Fashion bisa jadi salah satu jalan untuk memberikan dampak sosial. Salah satunya adalah memberdayakan pengrajin lokal.
Brand Fashion Lokal yang Memberikan Dampak Positif pada Lingkungan Sekitar
Berikut adalah fashion lokal yang memberikan dampak pada masyarakat sekitar:
SukkhaCitta
Konsep fesyen yang dituangkan oleh seorang bernama Denica Riadini Flesch, Founder dan CEO SukkhaCitta adalah konsep farm to closet. Artinya produksi pakaian secara keseluruhan mulai dari produksi sendiri hingga produk fashion jadi siap jual.
Bahan yang diproduksi itu berasal dari kapas. Kapas yang sengaja dibudidayakan oleh petani. Petani yang menanam kapas dan menghasilkan kapas untuk bahan pakaian itu diolah.
Jadi setiap jejak pengolahannya dapat diteluri dan material bahannya sangat meminimalisir jejak karbon.
Bukan hanya petani yang diberdayakan, tapi juga para penenun perempuan yang berasal dari Jawa, Nusa Tenggara Timur, ikut membantu menciptakan kain tenun yang sangat indah dan kualitas tinggi.
Perekrutan petani, pengrajin, penenun dari desa-desa itu jadi titik tolak untuk memberdayakan mereka yang punya skill atau kemampuan tetapi tak mampu menyejahterakan dirinya dalam menjual kemampuannya.
Dengan dedikasi dari para penenun dan petani, itu mereka bisa membantu menghasilkan suatu karya indah, bermakna dan bernilai dan berkelas bukan hanya nasional tapi juga internasional.
Penghargaan bergengsi yang diperoleh oleh SukkahCitta dalam daftar The Value Business Innovators, merupakan pencapaian seorang perempuan yang mampu berkarya untuk pemberdayaan pengrajin lokal.
Copa de Flores
Dari Flores ke Jakarta, ditemukan fashion tenun ikat yang didesain oleh Copa de Flores mengundang kekaguman. Keindahan dan keunikan tenun ikat dengan brand fashion lokal yang diluncurkan oleh Maria Gabriella Isabella, Copa de Flores.Dibalik keindahan dan keunikan tenun ikat tersembunyi tangan-tangan perempuan pengrajin dari NTT yang punya sejuta luka batin, menjadi korban kekerasan dan human trafficking.
Para perempuan pengrajin itu menenun pintalan benang dari satu pintalan ke pintalan yang lain, sangat telaten dengan tenang dan batin yang dalam, menghasilkan kain ikat tenun yang sangat indah warnanya dan unik desainnya.
Para perempuan di pinggiran NTT diberdayakan dan diangkat sehingga tenun Sikka dapat mendunia.
Dari tenun sikka, perempuan menenun, hasilkan fashion dan akhirnya orang mengenalnya, membelinya, dan pengrajin bisa menikmati jerih payahnya.
Sabuya
Arnis Wigati, berhasil menciptakan fashion dengan sentuhan etnik dari Indonesia. Bahan-bahan materi yang digunakan adalah kain-kain tradisional seperti kain tenun Sumba, tenun Jepara, kain lurik, kain Dayak.Bersentuhan sekaligus berdayakan warga lokal yang mampu menghasilkan tenun-tenun yang penuh dengan falsafah, filosofi , serta nilai dan makna simbolis.
Kain tenun Sumba, motif buaya dan naga menggambarkan kekuatan dan kekuasaan raja, motif ayam melambangkan kehidupan Wanita.
Nama lain dari tenun Jepara adalah tenun Troso. Motifnya kental dengan fauna, flora , kontemporer dan bermakna kepada keindahan alam.
Tenun Lurik berasal dari Klaten, Yogyakarta dengan motif garis lurus, memiliki filosofi kesederhanaan, kebaikan, berserah kepada Tuhan.
Pemberdayaan penenun tradisional oleh Sabuya dipadukan dengan design modern menghasilkan fashion modern gaya ala Sabuya seperti Nemberala Outer, Kembang Goyang Dress, Berau.
Kesimpulan
Dunia fesyen terlihat glamor di kota besar, tapi ada visi dan misi untuk memberdayakan mereka yang berada di pinggiran, nun jauh dari kota, di desa-desa, memberdayakan, mengangkat dan menyejahterakan mereka.
Sumber referensi:
Sukkha Citta: Menyulam Harapan Nusantara hingga Mancanegarahttps://trends.co.id/sukkha-citta-menyulam-harapan-nusantara-hingga-mancanegara/
Kisah Pendiri SukkhaCitta, Berdayakan Perajin dan Pelestari Lingkungan: https://lifestyle.kompas.com/read/2023/01/23/060550820/kisah-pendiri-sukkhacitta-berdayakan-perajin-dan-pelestari-lingkungan?page=all
Copa de Flores Memberdayakan Perempuan Lewat Tenun Ikat Sikka:
https://kumparan.com/kumparanwoman/copa-de-flores-memberdayakan-perempuan-lewat-tenun-ikat-sikka-1rToSAnN1fy/2
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.