Mengenali Senapan Serbu Produksi Lokal

Senapa Serbu (SS)3 Varian M1. Sumber: PT Pindad

Senapa Serbu (SS)3 Varian M1. Sumber: PT Pindad


PT Pindad, salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang industri pertahanan kian trengginas memproduksi kendaraan listrik tipe bus. Untuk mewujudkan hal itu, Pindad menjalin kerja sama dengan Ashok Leyland dari Indonesia.

Tapi Be-emers, kali ini kita tidak berbicara tentang lini bisnis baru PT Pindad. Kita akan membahas perihal senjata serbu produksi BUMN ini, SS3. Namun, sebelum kita mengulik tentang senjata ini, kita bahas terlebih dahulu para senjata pendahulunya.

Berdasarkan informasi dari Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), produksi Senapan Serbu (SS) tipe pertama alias SS1  pertama diperkenalkan pada 1991. Senjata ini memang bukan didesain 100% oleh Indonesia, melainkan meniru senapan FN FNC dari Belgia, dengan lisensi dari pabrikan asal tentunya.

SS1 diketahui menggunakan peluru dengan kaliber 5,56x45 mm standar dari Pakta Pertahaan Atlantik Utara (NATO),  yang berbobot kosong 4,01 kg. Setelah diproduksi, senapan ini kemudian menjadi senjata standar Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian.

SS1 ini diproduksi dalam dua konfigurasi utama, yaitu senapan standar dan karabin pendek. Versi senapan standar disebut SS1-V1 yang merupakan tiruan dari FNC “Standard” Model 2000, sedangkan untuk karabin disebut SS1-V2 meniru FNC “Short” Model 7000.


Patut Be-emers ketahui, kedua varian dilengkapi dengan laras yang berisi pelintiran tembakan tangan kanan sepanjang 178 mm. Tujuannya untuk stabilisasi mengantisipasi peluru SS109 Belgia yang lebih berat.

Tidak hanya itu, SS1 juga bisa dipasang berbagai attachment seperti foregrip yang bisa merubahnya seperti model Standar M4A1 tanpa Red Dot Sight, varian Pelontar Granat yakni M203, M320 / GP25, dan  berbagai scope seperti Red Dot Sight, Holographic Sight dan ACOG Sight serta Mars Sight yang scopenya telah menempel di senjata.