Potongan burayot yang menggambarkan orang Sunda kini (Foto Pribadi)
Like
"Satu kotak lebih murah neng 20,000 isi 10," jawabnya. Konsentrasinya tak terganggu, tangannya tetap sibuk mengulen adonan burayot yang ada di hadapannya. Ajaibnya, tangan itu tetap bergerak sembari ia tersenyum padaku.
Kenalan dengan Burayot, Takjil Unik Khas Garut

Menyaksikan sejenak proses awal pembuatan burayot. Seorang ibu sibuk mengulen adonan sebelum menjadi kudapan lezat (Foto Pribadi)
Pulang dari situs wisata, aku iseng gugling. Mengutip Info Garut, Burayot merupakan salah satu makanan tradisional khas Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang telah dikenal sejak zaman dahulu.
Kata "burayot" berasal dari bahasa Sunda yang berarti "menggantung" atau "terjuntai,". Jika dilihat, bentuknya memang lonjong menyerupai tetesan air yang menggantung. Candaan nyeleneh masyarakat Sunda, camilan manis satu ini mirip buah zakar pria. Setelah kupikir dan kuamati, iya juga.
Rasa manis yang khas dipadu tenstur kenyal membuat burayot tak pernah absen disajikan ketika berbuka puasa. Dulu ketika kakekku masih ada, beliau selalu menghidangkan kudapan ini lengkap dengan segelas teh panas. Ah, betapa aku rindu momen itu. Setelah kakek berpulang, aku sudah tak pernah lagi mudik ke Garut.
Selain berasal dari bahasa Sunda tadi, nama camilan ini muncul karena cara penyajiannya yang unik. Potongan burayot digantung menggunakan tusuk bambu panjang setelah selesai digoreng dan dilapisi gula merah.
Setelah beberapa kali bermain ke Bogor dan rajin mengikuti diskusi tentang Tatar Sunda, aku sedikit banyak mengetahui kreativitas sukuku mengolah hasil bumi. Seperti burayot yang konon muncul di Garut bagian selatan.
Kala itu, gula aren menjadi komoditas berharga di pedesaan. Berpadu dengan singkong yang tumbuh subur, para ibu memutar otak membuat camilan untuk buah hati mereka.
Proses pembuatan mudah dan bahan yang murah menjadikan burayot populer. Burayot primadona ketika ada hajatan, syukuran, juga momentum hari raya. Hal ini sesuai dengan pepatah Sunda: anu amis teu kudu mahal, asal ngahudang rasa syukur (yang manis nggak harus mahal, asalkan dapat membangkitkan rasa syukur).
Filosofi dan Nilai Moral Burayot yang Diadopsi Orang Sunda
.jpg)
Tak hanya kaya rasa, burayot juga berlimpah kisah (Foto Pribadi)
Dalam budaya Sunda, memasak apapun bukan hanya mementingkan rasa tetapi juga prosesnya. Termasuk burayot yang dibuat oleh banyak tangan yang melahirkan nilai silih asih, silih asah, silih asuh — saling menyayangi, belajar, dan membimbing dalam kebersamaan.
Di kedai ibu penjual burayot aku amati memang demikian. Si ibu mengulen adonan, yang lain menggoreng, ada satu ibu lain melapisinya dengan gula aren. Semua punya peran, bergotong royong menghasilkan citarasa kaya cerita.
Mengutip Ayo Bandung, proses menggantung kue juga sarat makna: burayot dibiarkan menggantung di atas bambu agar kering dan tidak saling menempel.
Pembuatan yang melahirkan filosofi urang Sunda yang berharga: hirup kudu borayot alias hidup itu harus bergantung. Bergantung pada yang benar, kepada nilai, paling penting adalah berserah kepada Tuhan yang Maha Kuasa.
Kue yang digantung juga sebagai pengingat agar manusia tidak serakah. Rezeki sudah diatur, akan datang kalau kita menjalani kehidupan dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Digambarkan oleh gula aren yang perlahan meleleh lalu menempel pada adonan burayot yang siap dinikmati. Rezeki tidak akan tertukar pada siapa saja yang mau berusaha dan berdoa.
Dari sumber dan kisah yang kuamati juga kudengar di lapangan, ada banyak nilai moril dari sepotong burayot yang berpengaruh besar membentuk suku Sunda hari ini:
- Kesabaran dan menghargai proses. Membuat burayot hingga menghidangkan menjadi camilan prosesnya panjang. Mulai dari mengaduk adonan, menggoreng, mengangkat menggunakan bilah bambu agar adonan menggantung (ngaburayot) membutuhkan teknik khusus. Mengajarkan setiap proses tidak akan mengkhianati hasil
- Kesederhanaan. Camilan enak tak harus mahal, bahkan dulu rakyat Garut mampu membuatnya dari bahan sisa di dapur. Walau begitu, rasa manis legit membuatnya menjadi favorit semua kalangan
- Kebersamaan. Seperti telah dijelaskan, burayot dibuat 'keroyokan'. Lambang kekeluargaan tinggi dalam adat Sunda
- Syukur. Sebelum akhirnya dijual secara komersil seperti sekarang, burayot disajikan dalam momen bersyukur (hajatan, khitanan) atau momen lain sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan
Erinintyani Shabrina Ramadhini
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.