Euforia Mudik ke Kampung Halaman dan 5 Adab yang Terlupakan

Adab yang suka terlupakan saat mudik (Pexels.com)

Adab yang suka terlupakan saat mudik (Pexels.com)


Senyum sumringah menghiasi wajah. Akhirnya tiket mudik sudah di tangan, dapat harga terbaik pula.

Maklum, sudah pesan dari jauh hari. Uang khusus mudik bahkan sudah ditabung dari tahun lalu. Namun, sudahkah kamu menabung adab?

Memang adab bisa ditabung? Bukan bisa, tetapi harus. Saking semangatnya bakal mudik, juga rasa "ah sudah biasa" kita kerap melupakan ragam adab ketika bertemu keluarga besar.


5 Adab yang Terlupakan Saat Mudik Lebaran

Sebenarnya bukan hanya mudik saja, kebiasaan ini sebaiknya tetap melekat saat kumpul keluarga di luar momentum lebaran.

Saya pernah mengamati dan mendengar cerita adab ini terlupa berselimut "kan dia saudara, sudah biasa".
 

1. Silaturahmi Tulus

Lebaran adalah momen tepat bagi kita berkumpul, terlebih jika mayoritas keluarga besar disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.


Alangkah baiknya niat silaturahim tulus dilakukan. Tulus di sini adalah tidak segan meminta maaf jika memang ada salah. Hindari mengeluh atau ngomongin orang setelah kumpul keluarga usai. Untuk apa ngumpul kalau endingnya bergosip juga?


2. Menjaga Lisan: Hindari Pertanyaan Sensitif

Lebih dari 3x aku mengalami hal ini, aku bahkan menyebutnya pertanyaan tidak berbobot. Daftar pertanyaan yang sebaiknya tidak ditanyakan:
  • Kapan nikah? (kapan bawa pacarnya ke sini? untuk saudara yang berusia remaja)
  • Kapan punya anak? (Padahal kita tidak tahu persis seperti apa perjuangan keluarga demi memiliki momongan)
  • Usia udah segini kok belum kerja juga? (Terkesan menyepelekan, apalagi membandingkan dengan saudara lain yang sudah berkarier)
  • Kok anak kamu usia ... belum bisa ... kayak anak aku? (Pertanyaan membandingkan tumbuh kembang, prestasi anak dengan anak sepupu)
  • Kamu lahiran normal atau sesar? (Ke saudara yang belum lama melahirkan)
Dan pertanyaan lain yang kurang etis ditanyakan, termasuk candaan berbau body shaming. Momen lebaran ialah silaturahmi dan membersihkan diri, bukan membuat kerabat sakit hati.

 


Baca Juga: Mudik Identik dengan Lebaran, Mengapa? Tips yang Mau Pulang ke Kampung Halaman!



3. Membiarkan Anak Membuka Amplop THR di Depan Umum

"Wah, aku dapat 200 ribu. Kamu berapa?"

Sungguh, aku pernah mendengar cerita ini dari salah satu sepupu yang membuat anaknya jadi sedih. Bila Be-emers ada yang sudah menjadi orang tua, jangan lupa ajarkan adab ini terhadap anak ya.

Alasannya, kondisi setiap keluarga berbeda. Bisa jadi ada keluarga yang memang tidak membiasakan bagi-bagi THR, atau finansial sedang tak memungkinkan untuk memikirkan salam tempel. Sepele, tetapi bisa membuat anak jadi tidak percaya diri.