Ilustrasi orang sedang menulis esai beasiswa luar negeri (Foto Pixabay.com)
Membaca kata "beasiswa", siapa sih yang tidak tertarik? Apalagi kalau kamu seorang pelajar, mahasiswa, atau menuju proses untuk menjadi mahasiswa.
Apakah beasiswa ini hanya untuk laki-laki? Karena namanya "beasiswa". Seharusnya, kalau untuk perempuan, namanya beasiswi bukan? Namun, beasiswa bisa untuk laki-laki dan perempuan, kok. Yang penting untuk kalangan manusia, kalangan jin tidak bisa dapat yang satu ini.
Beasiswa adalah kata mujarab yang membuat kuliah jadi lebih menyenangkan. Bagaimana tidak, biaya kuliah yang mungkin dirasa mahal, apalagi sampai menjual barang-barang, seperti mobil, motor, atau bahkan rumah, asalkan punya sendiri, bukan punya tetangga, kehadiran beasiswa bagaikan oase di tengah padang pasir.
Mendapatkan beasiswa membuat kita jadi bersyukur. Itu artinya, biaya jadi lebih ringan karena ada orang lain yang menanggungnya. Biasanya, sih, berupa instansi atau lembaga yang khusus pemberi beasiswa.
Namun, fasilitas beasiswa yang menggiurkan tersebut, tidak didapatkan dengan cara yang mudah. Seringkali harus melalui perjuangan yang cukup berat.
Yah, tidak sampai mendaki gunung, lewati lembah, sih. Kalau itu perjuangannya Ninja Hattori.
Tidak juga sampai berdarah-darah, sih, ini 'kan bukan waktunya untuk donor darah.
Agar bisa mendapatkan beasiswa, membutuhkan SK, alias Syarat dan Ketentuan berlaku. Ini menjadi bentuk dari persaingan secara sehat. Orang yang dapat memenuhi persyaratannya, maka dia yang akan mendapatkannya. Entahlah, siapa namanya dan siapa nama tetangganya pula.
Nah, salah satu persyaratan untuk memperoleh beasiswa, khususnya beasiswa dari luar negeri, adalah menulis esai. Ini menjadi semacam persyaratan ilmiah bahwa kuliah di luar negeri itu memang membutuhkan kadar intelektual yang lebih tinggi.
Tentunya, menulis esai untuk mendapatkan beasiswa luar negeri membutuhkan kiat-kiat tertentu. Ini cuma kiat yang berarti tips, ya, bukan kiat yang khas beladiri itu. Oh, kalau itu namanya, "Ciat!"
Dalam artikel yang tidak sampai setebal skripsi ini, akan saya ulas tentang 6 cara menulis beasiswa untuk mendapatkan beasiswa luar negeri. Mari kita simak! Boleh sambil minum kopi, tetapi dalam pikiran saja, karena ini 'kan sedang puasa.
Baca Juga: Mau Melamar Beasiswa Luar Negeri, Ini Tips Membuat Esai yang Memikat!
6 Tips Menulis Esai Beasiswa Luar Negeri
Berikut adalah 6 tips menulis esai beasiswa luar negeri yang bisa kamu terapkan:
1. Pakai Strategi Struktur yang Solid
Dalam menulis esai, jangan menulis secara acak, baik itu acak isinya, kalimatnya, maupun hurufnya karena akan susah sekali untuk dibaca. Lebih baik pakai kerangka yang jelas agar ide atau gagasan kamu mudah untuk dipahami:Ketika pembukaan, mulai saja dengan pernyataan, kutipan, atau anekdot yang menarik perhatian dalam satu paragraf. Untuk paragraf ini buatlah maksimal 5 baris.
Pakai teknik STAR atau yang disebut dengan Situation, Task, Action, Result. Ini tentu bukan karena kamu ingin jadi STAR alias bintang, baik itu bintang film maupun sinetron. Kamu juga bukan hotel, jadi tidak perlu pakai embel-embel bintang.
Teknik STAR itu tadi untuk menceritakan pengalaman kamu. Fokuslah pada tindakan nyata kamu, lalu hasil yang dicapai. Jadi, bukan sekadar teori.
Pada bagian penutup, ringkas kembali gagasan utama. Selanjutnya, tegaskan agar beasiswa ini dapat menjadi jembatan bagi rencana masa depan kamu.
2. Pakai 3 Dimensi Waktu atau Konsep 3M
Melihat dimensi waktu ini, jangan terbayang film Marvel yang pakai universe-universe itu. Ini hanya menyangkut 3 waktu atau masa, yaitu: masa lalu: Dalam hal ini kaitannya dengan yang telah kamu lakukan dan kontribusi serta pengalaman kamu yang relevan.Kalau di masa sekarang, apa alasan kamu memilih program studi dan kampus tersebut? Pastikan bahwa ada urgensi masalah yang perlu untuk kamu pecahkan.
Menyangkut masa depan, ini tentang rencana kontribusi konkret kamu setelah lulus. Ini bisa dibagi menjadi rencana jangka pendek, yaitu: 1-2 tahun, jangka menengah, selama 2-5 tahun, dan rencana yang lebih panjang lagi.
3. Terapkan "Show, Don't Tell"
Dalam tulisan, jangan terlalu terlihat kosong atau klise. Misalnya, "Saya adalah anak muda yang baik." Itu buktinya mana?Tunjukkan saja contoh spesifiknya, misalnya saat kamu memimpin suatu tim atau organisasi dalam mengatasi suatu krisis.
4. Jangan Lupa untuk Menyesuaikan dengan Visi Penyelenggara
Pada dasarnya setiap beasiswa memang punya karakter dan ciri khas tersendiri: Kalau untuk beasiswa LPDP, pada umumnya fokus pada komitmen kembali ke Indonesia. Ditambah dengan kontribusi strategis bagi negara.Kalau untuk beasiswa unggulan, biasanya meminta tema yang spesifik. Contohnya: dampak teknologi bagi masyarakat.
Sedangkan untuk beasiswa riset, harap perkuat pada metodologi dan dampak ilmiah yang muncul dari penelitian kamu sendiri.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.