Like
Enggak Perlu Ribet, Tulis Sesuai Kemampuan Kamu Bicara
Kadang kita terlalu sibuk ingin terdengar “pintar” sampai lupa jadi diri sendiri. Padahal esai yang enak dibaca itu biasanya yang mengalir, bukan yang bikin pembaca berhenti untuk menebak maksudnya.Kalau sehari-hari kamu terbiasa menjelaskan sesuatu dengan runtut dan jelas, pakai cara itu juga saat menulis. Enggak perlu memaksakan istilah yang bahkan kamu sendiri jarang gunakan.
Yang ingin reviewer pahami itu sederhana: kamu ini orang seperti apa, dan apa yang benar-benar kamu anggap penting.
Tulisan yang terlalu umum memang terasa aman, tapi sering lewat tanpa kesan. Sebaliknya, cerita yang konkret dan jujur biasanya lebih mudah diingat.
Enggak Perlu Nunggu Sempurna untuk Mulai
Sering kali esai enggak selesai bukan karena kita enggak mampu menulis, tapi karena kita ingin hasilnya langsung sempurna di percobaan pertama.Padahal hampir enggak ada tulisan yang jadi sekali duduk.
Baca Juga: 6 Poin Krusial dalam Esai Beasiswa yang Harus Dipersiapkan: Tips Agar Peluang Semakin Besar!
Coba Buat Lebih Sederhana:
Tulis dulu sampai selesai tanpa terlalu sering berhenti untuk mengoreksi.- Tinggalkan sebentar.
- Baca ulang dengan pikiran lebih tenang.
- Coret kalimat yang terasa kepanjangan atau mengulang hal yang sama.
- Baca lagi tiap paragrafnya, lalu tanyakan: ini sebenarnya mau menyampaikan apa?
- Sering kali idenya sebenarnya sudah ada dari awal. Hanya saja masih tercecer atau belum tersusun dengan enak dibaca. Itu hal biasa.
Baca Juga: 6 Langkah Menulis Esai Beasiswa yang Perlu Kamu Perhatikan!
Penutup yang Menguatkan, Bukan Sekadar Mengulang
Bagian terakhir esai itu ibarat kesan terakhir saat kamu selesai berbicara. Di situlah orang memutuskan apakah mereka benar-benar yakin atau biasa saja.Jangan hanya merangkum ulang apa yang sudah kamu tulis di atas. Gunakan bagian akhir untuk menunjukkan sikapmu dengan lebih tegas. Perjelas pilihanmu, alasan di baliknya, dan keyakinanmu untuk menjalaninya sampai selesai.
Penutup yang terasa kuat biasanya sederhana, tapi jelas arahnya. Setelah membaca bagian terakhir, reviewer seharusnya tidak lagi ragu tentang satu hal: kamu paham tujuanmu dan siap bertanggung jawab atas pilihan itu.
Tidak perlu panjang. Kadang justru beberapa kalimat yang lugas dan langsung ke inti lebih membekas daripada penjelasan yang melebar ke mana-mana.
Buat reviewer merasa yakin bahwa kamu bukan hanya punya potensi, tapi juga kesiapan.
Jadi, Siap Mulai?
Menulis esai beasiswa bukan soal menjadi orang lain. Justru sebaliknya, ini tentang menjadi versi paling jujur dari dirimu sendiri.Kalau kamu bisa menjelaskan:
- Siapa kamu sebenarnya,
- Mengapa bidang itu penting bagimu,
- Apa dampak yang ingin kamu wujudkan,
- Dan bagaimana beasiswa ini menjadi jembatan menuju rencanamu, maka kamu sudah melangkah lebih jauh daripada sekadar memenuhi syarat administrasi.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.