Kelola THR untuk Tabungan atau Investasi, Jangan Sampai Berubah Arti!

Ilustrasi orang sedang mengelola THR (Sumber gambar: Editing pribadi)

Ilustrasi orang sedang mengelola THR (Sumber gambar: Editing pribadi)


Kamu merasa tidak, waktu benar-benar cepat berlalu? 

Saya merasa baru kemarin mengajak istri dan anak-anak untuk salat tarawih di masjid paling besar di daerah saya. Suasananya yang sangat ramai dan panas, terasa baru hangat sekali. 

Kini, bulan suci Ramadan sudah mulai memasuki sepuluh hari terakhir. Ingat, lho, sepuluh hari terakhir. Dan, bulan ini mungkin antara 29 atau 30 hari. 

Kan memang sudah begitu kalau bulan Hijriyah, kalau terlambat bulan, itu lain lagi. 

Ketika menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, apa yang tiba-tiba terpikir di benakmu? Yap, saya tebak tanpa harus perintahkan tatap mata saya seperti Deddy Corbuzier waktu jaman jadul, yaitu: pikiran tentang uang. 


Ini memang terkait dengan pengeluaran yang cenderung lebih tinggi di bulan Ramadan, terlebih nanti ketika Idulfitri. Saya juga merasa herman, maksud saya, merasa heran, bulan puasa kok malah meningkat pengeluaran, ya? 

Padahal, 'kan sejatinya bulan suci Ramadan itu bulannya menahan diri. Namanya saja puasa, menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, merokok, dan pembatal lainnya. 

Namun, lihatlah, makanan maupun minuman yang sebelumnya tidak ada di bulan Ramadan, yang sebelumnya biasa-biasa saja kalau tidak ada, kini harus diadakan. Harus tersaji di depan kita. 

Sebut saja semacam es buah, kolak pisang, es pisang ijo, es campur, es teler, padahal teller belum tentu sering beli es teler, semuanya harus ada, harus terhidang sebelum buka puasa. 

Bahkan saya pernah merasa ketika berada di depan etalase penjual kue, saya ingin membeli semuanya saking laparnya. Rupanya, yang lebih lapar itu mata saya daripada perut. Lebih gawat lapar mata dibandingkan lapar perut. 

Meskipun yang lapar mata, tidak mungkin 'kan makanan dimasukkan ke mata? 

Baca Juga: Membeli Emas dengan THR, Gimana ya Caranya?


Sulit Menolak

Ini juga dialami oleh kamu yang sudah berkeluarga. Entah istrimu satu atau dua, ini maksudnya jumlah anaknya, kamu tetap sulit menghindar untuk mengerem pengeluaran. 

Momen bulan suci adalah bulan sedekah. Bukankah sedekah yang terbaik itu untuk keluarga sendiri? Sedekah yang paling besar adalah yang diberikan kepada istri dan anak-anak. 

Apalagi melihat banyak orang berbondong-bondong memborong takjil. Ini membuat psikologismu terganggu. Kamu jadi merasa agak "terancam". Kamu jadi merasa tersaingi. Masa mereka bisa, aku tidak bisa? 

Akhirnya, kamu pun mengeluarkan lebih banyak uang untuk memuaskan ego, gengsi, dan harga diri tersebut. Kamu membeli cukup banyak takjil. 

Dan, saat sudah berbuka puasa, kamu hanya minum beberapa teguk air, ditambah kurma satu atau dua butir, eh, kok sudah kenyang? 

Tiba-tiba kamu melihat takjil yang begitu banyak itu, kamu jadi merasa kenyang sendiri. Kamu makan lagi setelah salat Maghrib, ternyata masih banyak sisa makanan dan minuman. 

Ujung-ujungnya, makanan dan minuman itu pun dibuang. Sebab, mau kamu kasih ke tetangga, mereka sudah punya sendiri. Mereka juga sudah kenyang. 

Mau diberikan ke siapa? Bukankah makanan dan minuman itu ada batas waktunya? Ada kadaluarsanya.

Yap, begitulah realitas di bulan ini. Volume sampahnya meningkat. Sampah plastik, sampah makanan dan minuman.