Kiat mengendalikan diri menghadapi ekspektasi [Freepik]
Mulai karier, pernikahan, hingga pencapaian hidup yang memicu kecemasan, rasa tidak cukup, bahkan konflik batin. Tak sedikit saya menyaksikan rekan dekat emoh datang ke kumpul keluarga demi mental tetap terjaga.
Kiat Mengendalikan Diri dari Tingginya Ekspektasi Keluarga Ketika Lebaran
Penelitian menunjukkan bahwa stres adalah respons fisik dan mental terhadap tekanan, baik dari dalam diri maupun lingkungan sosial seperti keluarga. Walau begitu bukan berarti kita tidak bisa menghadapinya loh.
Saya termasuk salah satu yang memilih memutus silaturahmi dengan keluarga pihak ayah karena satu dan lain hal. Dari Hari Raya, saya belajar tentang hal mahal: pengendalian diri.
1. Validasi Emosi
Banyak orang gagal mengelola emosi karena tidak berhasil meregulasi emosi. Saya sendiri mengalami hal ini, karena sejak kecil saya 'dituntut' kuat berhubung saya anak pertama dalam keluarga.
Mengidentifikasi emosi dapat membantu menurunkan intensitas stres dan membuat respon lebih rasional. Contoh:
- “Aku merasa tertekan karena dibandingkan dengan adikku.”
- “Aku cemas karena belum setara dengan kolega yang sudah menjadi Senior Manager.”
2. Ekspektasi versus Nilai Pribadi
Kita merasa wajib memenuhi standar yang berlaku di tengah masyarakat. Usia 30+ belum menikah dinilai 'telat', umur 27 normalnya sudah punya 100 juta pertama, jadi PNS adalah profesi yang 'aman' secara finansial.
Padahal belum tentu itu sesuai dengan realita yang diinginkan. Bisa jadi kamu memang belum ingin menikah karena ingin solo trip ke Eropa, belum bisa punya 100 juta karena sudah ditukar dengan pengalaman dibanding tas branded. Banyak profesi lain yang lebih keren di luar abdi negara.
Tips praktis: Mulai susun daftar prioritas hidup versi kamu sendiri. Cara ini membantu menjaga identitas diri di tengah tekanan sosial yang tidak masuk akal.
3. Terapkan Coping Strategy
Dalam penelitian psikologi, coping adalah cara seseorang menghadapi stres, baik secara kognitif maupun perilaku. Beberapa strategi coping yang terbukti efektif:
- Problem-solving → mencari solusi
- Relaksasi → tarik napas dalam, lakukan meditasi
- Cari dukungan → sharing ke teman yang bisa dipercaya
4. Komunikasi Asertif
Menghadapi keluarga besar bukan berarti harus selalu “menuruti”. Di sisi lain, bersikap frontal akan membuat kamu dicap pemberontak (saya sudah menerima stempel ini). Inilah saatnya melatih komunikasi asertif. Apa itu?
Komunikasi asertif adalah kemampuan menyampaikan perasaan dengan jujur tanpa bersikap defensif. Ini penting dalam manajemen konflik sekaligus melatih kecerdasan emosi. Contohnya:
- “Aku paham maksudnya baik, tapi aku punya rencana sendiri kapan akan berumah tangga.”
- “Aku belum terpikir menikah, soalnya mau lanjut S2 dulu ke Inggris.”
Erinintyani Shabrina Ramadhini
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.