3 Nilai yang Didapatkan Ketika Momen Idulfitri

Suasana Idul Fitri, sumber gambar: editing pribadi

Suasana Idul Fitri, sumber gambar: editing pribadi


Idulfitri kadang memang menjadi polemik di kalangan umat Islam. Ini terkait dengan penentuan tanggal lebaran. 

Ada yang menentukan dengan metode hisab, ada pula yang dengan rukyatul hilal. Keduanya bisa dipakai menentukan 1 Syawal sebagai tanda hari raya Idulfitri. 

Namun, yang dipakai pemerintah masih sampai sekarang adalah dengan rukyatul hilal. Artinya melihat apakah ada bulan baru atau tidak? Jika ada, berarti bulan baru, jika tidak, berarti bukan iya. 

Kalau di tempat saya, waktu saya masih tinggal di Jogja, hampir semua mengikuti Muhammadiyah. Kalau ada yang mengikuti pemerintah, saat berbeda waktunya dengan Muhammadiyah, jumlahnya sedikit. 

Kebalikannya, sekarang saya tinggal di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Pengikut Muhammadiyah cuma sedikit, sebagian besar atau hampir semua ikut pemerintah. 


Kemarin, saya ditelepon oleh mantan atasan saya, di mana tempat salat Idulfitri yang tanggal 20 Maret? Saya jawab, ada sebuah pesantren atau sekolah Muhammadiyah. Nah, mungkin di sana ada. 

Dalam penentuan tanggal ini, yang lebih repot biasanya ibu-ibu. Mereka harus menyiapkan buras, ketupat, opor ayam, maupun sajian khas lebaran lainnya. Jelas butuh waktu yang tidak sedikit. 

Apakah malam ini, misalnya, atau besok? Dan, terbukti, ketika ternyata hari Sabtu lebarannya, pada malam Jum'atnya, tante saya harus begadang demi memasak sajian lebaran. 

Untungnya, tante saya cukup terbiasa begadang, apalagi kalau memasak, dia siap untuk tahan tanpa melek. Sementara saya, memang tidak terlalu kuat begadang. Saya lebih kuat kalau begadang pas siang hari! Mohon dicatat, ya! 


3 Nilai-Nilai dalam Momen Idul Fitri

Berbicara tentang hari raya umat Islam, salah satunya Idulfitri, pastilah terkandung makna yang cukup dalam. Tenang saja, membahas makna cukup dalam ini, kamu tidak perlu pandai berenang, karena mungkin hampir semua orang tahu yang satu itu. 

Hari raya Idulfitri yang ditunggu setelah Ramadan, bisa menjadi nilai-nilai yang mengakar dalam diri kaum muslimin. Apa saja nilai-nilai yang tercantum itu?

Apakah lebih baik daripada nilai-nilai pelajaran Fisikamu waktu di sekolah dahulu? Oh, tentu saja, tidak bisa disangkal, apalagi pakai sangkal jepit. Aduh, apalagi ini maksudnya? 

Saya merangkumnya menjadi 3 nilai saja. Sebenarnya, nilainya banyak sekali, tetapi 3 saja saya rasa sudah cukup menggambarkan tentang Idulfitri. 

Apalagi ini cuma artikel yang bisa dibaca dalam sekali duduk. Entah apakah kamu duduk di pinggir jalan atau duduk sebagai anggota dewan. Eh, maksudnya, dewan juri? 
 

1. Nilai Kehilangan

Nilai yang pertama dari momen Idulfitri adalah nilai kehilangan. Tentu saja, apalagi kalau bukan kehilangan bulan suci Ramadan yang sangat mulia itu?

Bagi orang yang beriman, Ramadan adalah peluang emas untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya. Selain itu, juga kesempatan emas untuk mendapatkan ampunan yang sebesar-besarnya. 

Keduanya memang dari Allah. Selama satu bulan full, siang dan malam, pahala itu diobral sedemikian rupa. Begitu pula ampunan sangat mudah untuk didapatkan. 

Bayangkan, pintu neraka ditutup, pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Ini berarti, bulan Ramadan memang bulannya beribadah. Bulannya untuk meraih kesempatan emas dan sangat luas masuk surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Kini, bulan suci Ramadan telah pergi. Telah berkemas dan Insya Allah pasti akan kembali lagi tahun depan. Namun, pertanyaannya, apakah kita akan kembali bertemu dengan Ramadan atau tidak? 

Ini adalah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Sama sekali tidak bisa pakai pilihan bantuan phone a friend maupun ask the audience. Yang bisa pilihan jawabannya adalah fifty-fifty

Bisa ya, bisa tidak. Maybe yes, maybe no. Sering minum pakai es, waspada kena flu, Bro.  

 

2. Nilai Kebahagiaan

Okelah, merasa kehilangan bulan suci Ramadan, tetapi apakah perasaan kehilangan itu harus terus-menerus ada dalam hati? Jawabannya tentu saja tidak. 

Idulfitri adalah sebuah hari raya umat Islam. Namanya hari raya, hari dilarang untuk berpuasa. Hari untuk makan dan minum. Berarti, ini adalah hari kebahagiaan. 

Hari raya menjadi simbol perjuangan setelah beribadah di bulan suci Ramadan. Bagi orang-orang yang betul-betul beribadah, bisalah pada hari raya ini mereka berbahagia. 

Setelah berhasil menundukkan nafsu, makan, minum, dan pembatal puasa lainnya, malamnya dipakai untuk salat Tarawih dan tilawah terus-menerus, maka Idul Fitri menjadi simbol kebahagiaan. 

Tentang kebahagiaan ini memang berbeda dengan orang-orang yang sering mokel. Soalnya, 'kan ada lagunya, 

Siapa yang mokel di bulan puasa, pasti sengsara dalam neraka. Si Wahyu dan si Rizki, si Agung dan si Adi, si Maya dan si Putri, si Linda dan si Dewi. 

Aduh, mohon maaf bagi yang punya nama-nama di atas, disebut dalam lagu yang viral di TikTok itu. Untungnya, nama saya pakai "y", jadi bukan Rizki yang dimaksud. 


Nah, lanjut. Kalau di hari Idul Fitri ini, orang-orang yang hampir tidak pernah mau berpuasa ikut berbahagia, lalu kebahagiaan apa yang mereka rasakan? Sepertinya, itu adalah kebahagiaan yang semu. 

Jauh di lubuk hati mereka, hati terdalam mereka, ini jelas salah. Ini bukan kebahagiaan yang diinginkan oleh Allah. Justru kebahagiaan bagi setan, karena berhasil menggoda manusia di bulan suci Ramadan.