Tradisi Idul Fitri, sumber gambar: editing pribadi
Nuansa Idul Fitri, termasuk yang merasakannya adalah Mas Idul dan Mbak Fitri, punya sebuah tradisi yang dari dahulu sampai sekarang masihlah ada.
Mungkin sejak zaman cecak berkaki tiga, hingga sekarang sudah berkaki empat, tradisi Idul Fitri yang satu ini menjadi simbol budaya yang positif, bagus, dan patut untuk dicontoh.
Tradisi Idul Fitri yang satu ini namanya adalah sungkeman. Pastilah kamu tahu apa arti dari sungkeman tersebut. Bahkan, pada lebaran yang lalu, kamu sendiri melakukannya.
Dilihat dari arti, sungkeman adalah bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua. Duduk bersimpuh, sambil mencium tangan, biasanya dengan meminta maaf atas semua kesalahan.
Sungkeman ini sangat umum dilakukan di hari raya Idul Fitri. Dari anak ke orang tua, dari istri ke suami, maupun dari adik ke kakak. Pokoknya yang di bawah itu lebih muda atau kedudukannya lebih rendah.
Belum pernah saya saksikan, orang tua sungkeman kepada anaknya sendiri. Kecuali, hal itu bisa terjadi di alam mimpi. Untunglah tidak bertemu juga dengan Siluman Mimpi karena sudah dibunuh oleh Sun Go Kong, si Kera Sakti.
Bentuk Penghormatan
Idul Fitri memang menjadi bentuk penghapusan dosa kepada sesama manusia. Setelah satu bulan penuh puasa Ramadan, harapannya, sih, dosa-dosa kepada Allah sudah terampuni. Sekarang, setelah Ramadan, dosa-dosa kepada manusia, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, besar maupun kecil, sudah dilakukan maupun belum dilakukan dan entah kapan mau dilakukan, bisa dilebur lewat sungkeman ini.
Paling terasa dosa anak kepada orang tua. Mungkin si anak pernah suatu ketika membentak orang tuanya. Atau mungkin pernah tidak melaksanakan perintahnya.
Ketika disuruh beli minyak tanah, si anak tersebut malas-malasan dan memilih main game online. Sebentar, sebentar, sepertinya ini dua zaman dan generasi yang berbeda, deh.
Orang tua yang tidak dilaksanakan perintahnya mungkin dalam hatinya ada perasaan dongkol dicampur sedikit marah. Namun, karena orang tua juga sangat menyayangi anak, maka amarah tersebut dipendam saja.
Memang, ketika orang tua marah, rawan sekali mendoakan keburukan kepada anaknya. Kalau mendoakan keburukan, maka bisa cepat terkabul oleh Allah. Bukankah doa orang tua kepada anak, baik atau buruk, memang cepat terkabul?
Saya teringat dengan kisah Imam Masjidil Haram yang sangat senior. Beliau adalah Syekh Sudais. Waktu kecil, pernah bermain tanah atau pasir dan menuangkannya ke atas makanan yang disiapkan ibunya.
Padahal, sajian makanan itu untuk para tamu. Namanya seorang ibu, pastilah marah. Capek-capek sudah menyiapkan hidangan, eh, dirusak begitu saja oleh anaknya sendiri.
Namun, Masya Allah, ibu tersebut malah marah sambil mendoakan yang tidak berupa keburukan. Doanya, "Pergi sana, jadilah imam masjidil haram." Kira-kira begitulah isi "umpatan" ibunya.
Allah mengabulkan doanya. Saat marah dan emosi yang meluap-luap, justru yang ke luar adalah doa yang agung sekali. Anaknya berhasil menjadi Imam Masjidil Haram. Betul-betul berhasil.
Selama puluhan tahun mungkin, Syekh Sudais menjadi Imam Masjidil Haram. Beliau masih hidup dan terkenal sampai sekarang, terutama bagi para pecinta Al-Qur'an.
Nah, begitulah salah satu ulah anak yang menyiksa hati orang tuanya. Akan tetapi, contoh dari Syekh Sudais itu pastilah sangat jarang.
Biasanya, orang tua yang marah kepada anak akan mengatakan "bodoh" dan sejenisnya. Wah, anaknya jadi didoakan bodoh oleh orang tuanya sendiri!
Makanya, orang tua tidak perlu heran, jika anaknya rangking 41 dari 40 murid di dalam kelas. Atau, bisanya cuma 40 besar, tidak pernah masuk 10 besar, apalagi 5 besar.
Bahkan, bisa jadi anak tersebut tidak naik kelas, meskipun sekarang semua anak akan naik kelas, kecuali yang benar-benar parah. Dihitung naik kelas jelas, jika awalnya kelasnya ada di lantai satu, sekarang di lantai dua. Naik kelas bukan?
Istri kepada Suami
Pada bagian inilah yang paling seru. Ketika istri sudah menjadi milik orang lain, dalam hal ini adalah suaminya, maka tanggung jawab dari ayahnya berpindah kepada si suami. Dari sejak saat itu, penghormatan pertama seorang perempuan bukan lagi kepada orang tuanya yang pertama, melainkan kepada suaminya. Yap, suaminya menduduki tempat lebih tinggi daripada orang tuanya.
Seiring perkembangan zaman dan teknologi, termasuk dalam hal ini adalah perkembangan perut suami yang makin buncis, eh buncit, sering juga seorang istri berbuat salah kepada suami.
Akan tetapi, kaum istri termasuk kaum yang tidak merasa bersalah. Bahkan, dalam banyak konten media sosial, kalau istrinya yang salah, justru suaminya yang meminta maaf.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.