Sungkeman Menjadi Tradisi Idul Fitri di Hampir Semua Kampung Halaman


Pokoknya, laki-laki adalah pihak yang tidak pernah dikatakan benar, sebaliknya dengan perempuan. Suami pun menjadi pihak yang berusaha untuk menjaga hati istrinya. 

Saat Idul Fitri ini tiba, kaum istri adalah pihak yang sungkem kepada suaminya. Si suami duduk di atas kursi, mungkin bisa sofa kalau ada, kalau tidak punya cukup kursi plastik, sedangkan istrinya duduk bersimpuh di bawah. 

Momen langka, setahun sekali istri meminta maaf kepada suami. Setelah itu, ya, mungkin akan tawuran lagi. Biasalah, rumah tangga tanpa konflik, ibarat konflik tanpa rumah tangga. Lho, bagaimana maksudnya ini?

 

Tradisi Idul Fitri yang Memang Perlu Dipertahankan

Sungkeman ini bukan berarti menyembah, ya! Jangan sampai ada yang salah memahami bahwa sungkeman adalah manusia menyembah manusia. 

Sungkeman berwujud permintaan maaf dari seorang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya kepada yang lebih dihormati. 


Namun, alangkah baiknya, jika sungkeman hanya dipahami sebagai bentuk meminta maaf, mengapa harus menunggu Idul Fitri, ya? Mengapa harus menunggu momen lebaran?

Semestinya, ketika ada salah, langsung meminta maaf. Jadi, kesalahan bisa langsung dilebur tanpa harus menjadi dosa yang terlalu lama. 

Ya, kalau umurnya sampai di Idul Fitri berikutnya. Kalau tidak, bagaimana? Dosa kepada manusia ini akan terbawa sampai ke akhirat nanti. 

Kalau sudah sampai di akhirat, maka yang ada adalah barter amal kebaikan dan keburukan. Tidak ada lagi pembayaran berupa uang, termasuk pertukaran makanan, meskipun itu dari MBG. Ups! 

Setiap manusia memang tempatnya salah dan dosa. Allah sendiri membuat manusia memang tidak ada yang terlepas dari kekhilafan. 

Beda dengan malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu, jadi tidak ada dosanya. Yang bisa jadi kesalahan adalah malaikat yang menjadi nama parfum, yaitu: Malaikat Subuh. 

Mungkin wanginya tidak membuat istrinya senang, padahal suaminya sudah membeli dan memakainya. Akhirnya istrinya marah. Kalau sudah begini, masa suaminya harus sungkem kepada istrinya? Masa harus menunggu Idul Fitri lagi tahun depan? 



---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung