Like
Dulu, orang berbagi hasil panen.
Hari ini, mereka berbagi hidangan Lebaran.
Ketika Islam datang, tradisi itu tidak hilang. Ia justru menemukan makna baru: berbagi sebagai bentuk syukur, bersilaturahmi sebagai wujud ibadah, dan memberi sebagai cara menjaga hati tetap hidup.
Sekarang, modernitas mungkin kian menggerus tradisi tradisional. Satu yang kusadari persis: Nganteuran bukan tentang makanan. Ia tentang memastikan: tidak ada yang merasa sendiri di hari Lebaran.
Ia tentang berkata tanpa kata: “Aku ingat kamu.”, “Aku peduli.”, “Kita masih terhubung.” Yang paling dalam— ia mengajarkan memberi tanpa menghitung kembali.
Tradisi ini bikin mataku melek: melangkah hangat ke rumah tetangga lebih bermakna dibanding sekadar berkirim teks whatsapp, menikmati makanan bersama memperkuat kebersamaan tanpa terpisah jarak, berbagi pada sesama tak harus menunggu kaya dulu.
Sekarang aku mengerti kenapa dulu kakek dan keluarganya rutin menyiapkan rantang itu. Bukan karena makanan kami lebih banyak,tapi karena hati kami harus lebih luas.
Di setiap Lebaran, Nganteuran seperti berbisik pelan: pulang bukan hanya tentang kembali ke rumah, tapi juga kembali pada rasa— yang dulu pernah kita miliki, dan jangan sampai hilang.
Nganteuran adalah cara sederhana bagi kita senantiasa menjadi manusia.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung
Erinintyani Shabrina Ramadhini
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.