Produk fashion sebagai oleh-oleh lebaran untuk keluarga di kampung halaman, sumber gambar: editing pribadi
Bayangkan ada seseorang datang dari tempat yang jauh, sudah lama tidak bertemu, kalau tidak membawa oleh-oleh rasanya kok ada yang mengganjal, ya? Padahal 'kan, mengganjal itu berasal dari kata dasar "ganjal. Bukankah itu nama organ tubuh?
Budaya di Indonesia memang sudah begitu terkait dengan oleh-oleh. Yap, oleh-oleh menjadi tanda cinta bahwa seseorang baru saja datang dari tempat lain. Kiranya ini masih di bumi.
Jarang ada orang datang dari luar angkasa bawa oleh-oleh makhluk alien atau luar angkasa yang masih kecil dan imut.
Begitu juga yang terjadi ketika masa lebaran ini. Banyak yang datang dari kota menuju ke kampung halaman. Ada yang mengendarai mobil roda dua dan motor roda empat. Ternyata, kalimat sebelumnya terbalik ini, seharusnya mobil roda empat dan motor roda dua.
Perjalanan dari kota menuju kampung halaman itu diiringi lagu "Taragak Pulang" yang viral di TikTok itu. Lagu sekadar lagu, tetapi biaya perjalanan pulang kampungnya kadang bikin ragu.
Biasanya Memang Makanan
Selama ini, oleh-oleh yang dibawa orang-orang berwujud makanan. Misalnya, seseorang yang bekerja di Jogja, lalu pulang ke Kendari. Dari Jogja, dia membawa oleh-oleh berupa gudeg kalengan atau bakpia dengan aneka rasa itu. Oleh-oleh bentuk makanan biasanya memang tidak tahan terlalu lama, tidak akan sampai 1.000 tahun.
Kalau sudah sampai di kampung halaman, makanan-makanan tersebut akan diserbu oleh keluarga, kerabat, maupun sanak famili. Bahkan jika ada remahannya jatuh di lantai, semut pun ikut menyerbu. Makanan itu mungkin dalam satu atau dua hari sudah habis.
Oleh-oleh makanan memang menjadi khas dari kota tempat asal. Jadi, kadang lidah orang-orang di kampung halaman bisa jadi belum tentu cocok.
Baca Juga: Tips OOTD Sholat Idul Fitri ala Elnisha Boutique, Nyaman dan Elegan!
Ada yang pernah membawakan gudeg kalengan ke orang di salah satu wilayah di Sulawesi Tenggara. Saat menyantap makanan itu, lidahnya sama sekali tidak cocok.
Lidah Sulawesi biasanya lebih suka makanan yang pedas dan cenderung asin, sepertinya sih begitu. Sedangkan orang Jogja lebih pas dengan makanan yang manis.
Perbedaan lidah tersebut menjadikan makanan gudeg itu tadi tidak termakan semua. Tidak ada yang suka satu keluarga tersebut. Alhasil, dibuang saja makanan tersebut. Sayang sekali bukan? Kamu sama saya? Halah.
Kalau makanan punya risiko ketidakcocokan lidah dan tentu saja lidah tidak bisa diganti begitu saja, maka ada solusi oleh-oleh lainnya.
Oleh-oleh diberikan tetap dalam bentuk barang, tetapi bukan makanan. Oleh-oleh yang paling jarang diberikan itu adalah buku. Yap, buku ini hampir tidak pernah dijadikan oleh-oleh, kecuali pada keluarga yang sudah tumbuh minat baca besar.
Literasi masyarakat Indonesia memang masih rendah, beda dengan sambal terasi yang cenderung tinggi. Kalau oleh-oleh buku, selain tetap memberikan kegembiraan, juga dapat menambah pengetahuan.
Bukankah buku adalah jendela dunia? Banyak orang memperindah jendela rumahnya, tetapi tidak menambah jendela dunianya?
Jendela rumah dipakaikan gorden yang mahal, sementara jendela dunia tidak diprioritaskan, meskipun harga buku lebih murah dibandingkan gorden mahal.
Jika buku menjadi oleh-oleh yang jarang, termasuk bagi orang yang jarang memberikan oleh-oleh, kira-kira barang apa yang cocok, ya? Sesuatu yang berkesan, bermanfaat, dan bisa dipakai lebih lama alias lebih awet.
Yap, tepat jawaban kamu! Selamat! Jawaban yang betul adalah produk fashion. Oleh-oleh yang satu ini memang tidak jauh dari kebutuhan pokok manusia.
Masih ingat bukan pelajaran tentang kebutuhan pokok manusia? Tidak bolos 'kan pas pelajaran itu? Memang, bolos itu tidak boleh bagi seorang murid. Jika ingin bolos, untuk lebih sopannya, harus izin kepada guru terlebih dahulu. Izin ke kepala sekolah lebih sopan lagi.
Kalau diingat lagi, kebutuhan dasar manusia mulai sandang, pangan, papan, ditambah dengan pendidikan dan kesehatan. Ada kata "sandang" di situ. Ini diartikan sebagai pakaian.
Manusia adalah makhluk yang berbeda dengan hewan. Kalau hewan, bebas-bebas saja telanjang atau tidak pakai baju sama sekali. Dan, mereka tidak malu seperti itu.
Beda dengan manusia yang lebih beradab. Pakaian menjadi penutup aurat sekaligus simbol bahwa manusia adalah makhluk yang berakal.
Jadi, hem, kalau ada orang yang tampak berpakaian, tetapi pada dasarnya dia tampak terbuka sekali, kira-kira derajatnya dibandingkan hewan bagaimana, ya?
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.