Starter Pack Ketika Arus Balik, Paling Utama Siapkan Mental!

Starter pack menghadapi arus balik lebaran, sumber gambar: editing pribadi

Starter pack menghadapi arus balik lebaran, sumber gambar: editing pribadi


Ada arus mudik, ada arus balik. Ada pemudik, ada pembalik. Sebelum lebaran, arus mudik, setelah lebaran, arus balik. Sebelumnya Ramadan, kini Syawal. Nama Ramadan saya tidak kenal, kalau Syawal, nama teman saya. Sekilat info! 

Waktu memang terasa cepat sekali berlalu. Mau kamu pakai jam tangan mahal, maupun saking inginnya disiplin hingga menempelkan jam dinding di tangan, tetap rasanya sangat cepat. 

Baru terasa kemarin lebaran, momen salat Idulfitri bersama keluarga, sekarang waktu libur sudah hampir habis. Meskipun ada namanya WFH maupun WFA, tetapi kepanjangannya tetap: Waktunya Fokus Harapan dan Waktunya Fokus Aksi. Agak maksa sih kepanjangannya. 

Suasana kerja secara full sudah di ambang pintu. Hari Senin tanggal 30 Maret nanti, semuanya harus kembali bekerja. Yang berkantor, harus masuk kantor. Yang tidak punya kantor alias kerja di rumah saja, ya, tidak usah pergi ke kantor. 

Begitu pula dengan anak-anak sekolah. Setelah cuti bersama lebaran ini, anak-anak tidak mengalami WFH maupun WFA. Mereka serentak akan masuk sekolah juga di tanggal 30 Maret. Mungkin didahului dengan upacara dan bersih-bersih kelas. Sedangkan gurunya masih banyak yang belum menikah. Lho, apa ini? 


Rutinitas dimulai kembali. Bulan puasa dengan pengurangan jam kerja dan jam belajar, kini kembali normal. Pegawai masuk dari jam 8 pagi hingga pukul 4 sore lagi, begitu pula anak sekolah dari jam 7 hingga jam 1 siang.

Ada pula yang tiap hari di sekolah, tetapi tidak pernah pulang. Oh, kalau yang ini, namanya jin penunggu sekolah. Tidak ikut belajar, tetapi dia di sekolah terus. Enak, ya, tidak perlu sampai ikut ujian?  

Menghadapi rutinitas semacam itu nantinya, maka yang harus dilakukan sekarang adalah menempuh arus balik. Yap, balik dari kampung halaman kembali ke kota tempat bekerja, mencari nafkah, dan mendapatkan penghidupan. 

Kembali lagi membanting tulang, apalagi jika kamu penjual ayam potong. Sudah berapa banyak tulang kamu banting hingga kini? 

Harus kembali lagi memeras keringat, apalagi bila kamu pengusaha laundry. Sudah berapa banyak pakaian bekas keringat orang yang kamu peras?

Mungkin saja ada yang berganti pekerjaan setelah lebaran. Atau, mungkin yang terasa miris adalah sudah tidak punya pekerjaan setelah lebaran. 

Selama masih hidup, masih bernapas, itu tandanya masih diberikan rezeki oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Banyak orang meyakini bahwa rezeki itu memang tidak selalu berupa uang. 

Buat apa uang banyak, tetapi kesehatan terganggu, ya 'kan? Buat apa uang banyak, tetapi keluarga hancur, ya 'kan? Buat apa uang banyak, kalau memang uangnya tidak sedikit? Ya 'kan? 

Jadi, apa yang mau dipersiapkan untuk nanti menghadapi kenyataan kerja lagi? Hem, sebelum itu, lebih bagus mempersiapkan arus balik terlebih dahulu. 

Butuh yang namanya starter pack menghadapi arus balik. Saya memang tidak terlalu paham starter pack ini. Setahu saya, starter itu ada dua, pakai starter tangan atau pakai starter kaki. 

Kadang, yang lebih susah memang starter kaki, apalagi jika motor matic. Namun, yang namanya hidup, penuh filosofi dan penuh dengan perenungan, tidak ada starter yang susah, selama ada orang lain yang menstarterkan. 


Dimulai dari Kendaraan

Ini adalah zaman yang betul-betul nyata, bukan dunia fiksi, apalagi dunia Firli, meskipun Firli adalah anak tetangga saya. 

Dalam dunia nyata, melakukan perjalanan pun nyata. Jadi, betul-betul menggunakan kendaraan bermotor, apalagi jika tempat yang dituju cukup jauh. 

Kita tidak bisa pakai karpet terbang ala Aladin. Atau tidak bisa pakai sapu terbang kayaknya Harry Potter. Atau tidak bisa juga dengan pintu ajaib alias pintu ke mana saja milik Doraemon. 

Ketiganya memang cuma di dunia khayal. Kalau mau berharap yang sama seperti itu, namanya hil yang mustahal. Paham 'kan? 

Dalam melakukan perjalanan arus balik, maka yang harus diperhatikan pertama kali adalah kendaraan bermotor. Kita harus merencanakan di awal, balik ini mau naik kendaraan apa? Apakah kendaraan umum atau pribadi?

Ada begitu banyak kendaraan umum. Mulai dari mobil, bus, kereta api, kapal laut, hingga pesawat terbang. Namanya kendaraan umum, harus membayar uang sewanya. 

Itu jelas lebih murah daripada memiliki kendaraan sejenis. Berapa coba uang yang harus digunakan untuk membeli kapal sendiri? Berapa juga untuk membeli pesawat terbang? 

Setahu saya, dahulu pernah ada yang menjanjikan begitu, mulai dari mobil mewah, kapal pesiar, hingga pesawat terbang. Untunglah, saya sudah lama ke luar dari model bisnis seperti itu. Bukan karena tidak suka bisnisnya, melainkan karena dimarahi bapak saya karena ikut ketika masih mahasiswa.

Saya berani menuliskan begini karena yakin bapak saya tidak membaca tulisan ini. Bapak saya saja tidak membacanya, apalagi bapak kamu bukan? 

Kembali ke urusan arus balik, kalau dari awal sudah ditentukan kendaraannya, maka bisa disiapkan uangnya. Lalu, disiapkan pula waktunya.

Pada hari apa kita mau berangkat? Tidak perlu menelepon pilot terlebih dahulu, "Pak, bagusnya saya berangkat hari apa ya naik pesawat Bapak?"

Tidak perlu seperti itu. Sebab, nanti pilotnya bingung, lalu malah bertanya ke pramugari. Dan, pramugari mau bertanya ke siapa lagi coba? 

Biasanya, dalam arus balik ini, terjadi kepadatan penumpang. Ini cuma padat, tidak mungkin jadi padat bergizi. Yah, namanya juga lebaran, arus mudik dan arus balik pastilah padat penumpang. 

Teman saya pernah bercerita bahwa mertuanya pulang dengan naik kapal laut. Namun, di dalam kapal itu, cuma bisa duduk, tidak bisa berbaring saking padatnya penumpang. Saya sih biasa-biasa saja melihat orang yang seperti itu. Soalnya, 'kan bukan saya yang mengalami sendiri. 

Begitu pula saya pernah menyaksikan sendiri, di kapal laut, para penumpang cuma duduk beralaskan koran. Padahal mereka duduk dekat kamar mandi. Lantai basah dan baunya pasti menguar. 

Yah, begitulah kondisi saat arus balik. Namanya juga momen setelah lebaran, tidak dialami tiap hari, apalagi tiap detik. Jadi, saya yakin, mereka akan cukup bersabar. 

Toh, di kota tempat mencari nafkah, mereka sudah banyak bersabar dengan gaji kecil dan seadanya bukan? Ups!


Perhatikan Juga Kondisi Tubuh

Selain kendaraan yang dibawa, pastilah tubuh juga dibawa dong? Mana ada yang ditinggalkan di kampung halaman? 

Perjalanan yang jauh dan memakan waktu lama, tentunya membutuhkan kondisi tubuh yang prima. Jadi, sebelum berangkat, makan makanan yang sehat. Bagus kalau masih ada sisa MBG ketika bulan puasa yang bisa dinikmati, ditambah dengan vitamin maupun suplemen secukupnya. 

Bawa pula obat-obatan pribadi bagi yang punya penyakit pribadi. Tidak perlu bawa kotak obat, lalu ditempelkan di dinding kendaraan umum. Pasti akan sangat repot jika melakukan hal itu. 

Pola istirahat juga harus dijaga. Hindari begadang kalau tidak ada perlunya, meskipun begadangnya karena mendengarkan lagu "Begadang" semalam suntuk. 

Bila pola makan, istirahat, kesehatan tubuh dijaga, maka saat perjalanan arus balik nanti, semoga tidak ada gangguan apapun. Bahkan, semoga juga tidak ada pencuri, sebab pencuri yang tidak pernah ditangkap polisi itu adalah Sweeper Si Pencuri dalam kartun Dora the Explorer.