Starter Pack Ketika Arus Balik, Paling Utama Siapkan Mental!


Persiapkan Mental

Ini dia yang paling utama dalam starter pack menghadapi arus balik. Mental, mental, dan mental. Tiga hal tersebut yang sebenarnya cuma satu kata itu, harus ditancapkan dalam-dalam di hati dan pikiran. 

Mengapa mental ini penting? Ya, sebab saya menuliskannya memang penting, jika tidak penting, saya tidak akan tulis.

Mental ini menjadi dasar untuk bertempur lagi menghadapi kehidupan yang mungkin terasa keras, bahkan agak kejam, serta penuh dengan kenyataan pahit, melebihi pahitnya jamu Mbok Ngatiyem.  

Saat lebaran, kita bisa bersantai sejenak bersama keluarga. Menikmati hidangan opor ayam, rendang, ketupat yang semuanya sudah dipersiapkan di atas meja makan. Tinggal makan, tinggal santap. 

Begitu pula aneka kue lebaran yang tersaji di dalam toples. Kita tinggal buka tutupnya, lalu ambil semaunya, tanpa cuci tangan dan kaki lagi. 


Namun, momen itu cuma singkat dan sementara. Opor ayam, rendang, ketupat sudah habis tak bersisa. Begitu pula kue nastar dan sejenisnya yang mulai lenyap di toples. 

Kini, saatnya menapak kaki, kembali ke kota melalui perjalanan arus balik, mewujudkan mimpi yang sempat tertunda. 

Mungkin juga uang kita selama ini sudah habis saat lebaran. Sudah diberikan ke orang tua, mertua, saudara, kerabat, termasuk keponakan yang masih kecil-kecil, tetapi mengerti nilai uang itu. 

Tabungan mungkin masih menyisakan 3 M. Wuah, 3 M! Eits, jangan kaget dulu! 3 M itu maksudnya Maribu Maratus Mapuluh. Artinya, uang tinggal Rp5.550,00. 

Mental yang dipersiapkan dalam arus balik ini menjadi tekad kuat bahwa kita harus lebih sukses dibandingkan kemarin. Apalagi bila ditanya perkara jodoh. 

Ini yang memang bikin nyesek. Kita memang sengaja menjomblokan diri demi mencari kemapanan dalam pekerjaan. Agar nantinya ketika menikah, pasangan tidak mengalami penderitaan yang terlalu berat. 

Kalau begitu pemikirannya, mau sampai kapan mapannya? Bukankah yang bagus itu adalah pernikahan yang sama-sama menjalani proses? Sama-sama berjuang dari kondisi nol, bahkan minus? Bila istri datang saat suami sudah mapan, sepertinya itu rumah tangga yang kurang rasa berjuangnya. 

Setelah lebaran ini, mental yang perlu diingat adalah perjuangan untuk tetap menjadi orang baik setelah Ramadan. Ini memang sangat berat. Godaan duniawi sangatlah menggoda. Yah, namanya juga godaan, pastilah menggoda. 

Terlebih setan-setan yang di bulan Ramadan dibelenggu, sekarang dilepas lagi. Sekarang semua setan melakukan tugas utamanya, apalagi kalau bukan menyesatkan manusia, baik itu setan bentuk jin maupun yang bentuk manusia. 

Itulah starter pack dalam mempersiapkan arus balik ini. Perlu direnungkan, bila kembali lagi ke kampung halaman pada lebaran tahun depan, Insya Allah semoga masih ada umur, ada peningkatan apa dari diri kita? Apakah lebih baik, sama saja, atau malah lebih buruk? 

Arus balik bukanlah sekadar arus balik. Ada sesuatu di balik itu, apakah nanti di tempat kita tinggal, di kota, atau di tempat perantauan, kita balik lagi menjadi manusia yang penuh dosa seperti sebelum Ramadan atau kita balik menjadi hamba yang bertakwa sebagaimana tujuan puasa Ramadan dan penciptaan kita sejak awal?






---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 

Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung