Lihat Depannya, Bukan Belakangnya Terus

Filosofi kaca spion, sumber gambar: editing pribadi

Filosofi kaca spion, sumber gambar: editing pribadi


Alhamdulillah, sudah masuk di bulan April. Pas tanggal satu. Biasanya, pada tanggal satu ini, para pegawai menerima gaji mereka. 

Apakah gaji itu cukup untuk membeli kapal pesiar atau tidak, itu urusan lain. Yang jelas, masuknya gaji memang harus disyukuri. Itu berarti yang menerima gaji masih hidup, masih bisa ketawa-ketiwi, apalagi jika panggilan namanya adalah Tiwi. 

Pada awal bulan April ini, saya mau berbicara tentang sebuah fenomena menarik di sebuah media sosial. Tidak perlu saya tulis lengkapnya, sebut saja media tersebut adalah media P. 

Ada seorang pengusaha yang memang sudah malang melintang, meskipun dia tidak tinggal di Malang, dalam dunia bisnis, terutama bisnis online.

Sudah cukup banyak prestasinya menyangkut dunia bisnis. Masih terhitung muda, belum menopause dan tidak akan mungkin menopause, karena dia ini laki-laki. Kalau pencet "pause", mungkin pernah di remotenya. 


Pengusaha ini sebut saja dengan inisial B. Atau sebut saja nama fiktifnya, Bambang. Mohon maaf bagi yang punya nama sama, salah sendiri sama dengan nama yang saya tulis di sini! 

Bambang sudah punya pengalaman banyak di aneka macam media sosial. Selain sharing-sharing tentang dunia bisnis, bahkan sekarang merambah ke dunia investasi budget besar, dia juga berpengalaman sebagai seorang trainer. 

Seorang pembicara publik yang untuk mengikuti kelasnya membayar cukup mahal. Sebetulnya mahal atau tidaknya ini relatif. Dikatakan mahal jika tidak punya uang untuk membayarnya. Namun, bisa dikatakan murah, jika punya uang jauh melebihi harga yang ditetapkan. 

Meskipun punya segudang pengalaman bisnis, Bambang ini punya masa lalu yang agak-agak kelam. Suram. Dia bercerai dengan istrinya.

Kalau hanya bercerai biasa, sih, mungkin banyak terjadi begitu. Namun, cerainya tersebut menorehkan kenangan yang agak pahit di pikiran warganet. Warga yang tidak jualan net.

Sebelumnya, di banyak platform media sosial, dia dibully gara-gara perceraian tersebut. Soalnya, istrinya yang dahulu, setia menemaninya saat dilanda penyakit yang lumayan parah dan terbilang langka.

Kesetiaan istrinya betul-betul dijaga hingga si Bambang ini sembuh total dan bisa berbisnis lagi. Bisa muncul lagi di media-media sosial. Eh, yang benar sebenarnya media sosial-media sosial. 


Karena Bercerai

Saat sudah sembuh dan sehat begini, eh, dia bercerai dengan istrinya. Dan, anggapan warganet, dia selingkuh.

Setelah bercerai, dia menikah lagi dengan perempuan yang dituduh pelakor oleh warganet ini. Padahal, pelakor itu biasanya berpakaian seragam sebab kepanjangan pelakor adalah pegawai lambat masuk kantor! 

Aneka bully, cacian tanpa tumpukan cucian, makian, hinaan, dan komentar negatif membanjiri akun Bambang. Saking banyaknya, Bambang sampai menutup kolom komentar, memblokir banyak DM, hingga menghilang sementara dari media sosial. 

Luar biasa memang warganet Indonesia ini. Jempolnya lebih tajam daripada pedang samurai. Sampai-sampai Bambang tidak sanggup menerima aneka bully hingga menutup toko, eh, menutup akun media sosialnya untuk sementara. 

Konon kabarnya, aneka kontrak kerjasama dengan brand, dibatalkan pula. Saya dengar sendiri dari teman saya bahwa ada satu perusahaan penyedia layanan website yang merugi karena sudah membayar Bambang di depan, tetapi dampaknya ke iklan mereka juga.

Iklan perusahaan itu jadi tidak maksimal karena bintang iklannya si Bambang ini. Kena getahnya juga, deh.  

Cukup lama Bambang menghilang, hingga muncul lagi, mungkin setahun yang lalu. Aktif sharing lagi seputar bisnis, bikin video di YouTube lagi, bikin kelas bisnis lagi, dan bikin-bikin yang biasa dia lakukan sebelum kasus dengan warganet ini. 

Belum lama ini, Bambang masuk ke platform P seperti yang saya tulis di atas tadi. Dia berharap bisa menjual produk digitalnya seputar lunas utang, yaitu: ebook, tetapi sebelumnya melalui sharing-sharing dulu, eladalah, malah kena bully warganet lagi. 

Media P ini jauh lebih kuat daripada media yang pernah digunakan oleh si Bambang. Dan, Bambang sama sekali tidak menyangka, ternyata bully di media P ini jauh lebih sangar. Persaudaraan pembullyannya lebih kuat, kokoh tak tertandingi, yang lain pasti ketinggalan!  

Kabar terakhir, Bambang menutup akunnya di P. Padahal awalnya dia bertanya kepada pengguna media P tentang utang dan pertahanan hidup.

Rupanya, balasannya lebih kejam daripada urusan utang-piutang yang juga tidak kalah kejam itu. Yah, nasib si Bambang, deh.