3. Berusaha Mengenakan Pakaian Rapi
Ketika di rumah, memang biasanya orang memakai baju yang lebih santai. Bagi ibu-ibu atau yang masih gadis, dan cantik lagi, sering memakai daster. Itulah pakaian khas perempuan di rumah.Sedangkan bagi laki-laki normal tidak akan memakai daster juga, meskipun daster itu bisa diartikan cerdas dan pinter. Laki-laki cenderung akan memakai kaos oblong dan celana pendek.
Namun, alangkah lebih baik, jika pakai pakaian yang lebih rapi dan kesannya lebiih formal. Kaos boleh, tetapi yang berkerah. Celana juga jangan yang pendek, minimal di bawah lutut.
Pemilihan pakaian yang tidak sembarangan membuat tubuh terkondisikan untuk kerja. Terlebih ini adalah pekerjaan kantor, mungkin nanti ada pertemuan melalui Zoom Meeting.
Kalau pakaiannya hanya kaos oblong atau malah cuma kaos singlet, tanggapannya pasti negatif di seberang sana.
4. Hindari Distorsi
Pemilihan tempat oke, pemilihan waktu juga oke, tetapi distorsi bisa saja terjadi. Entah itu dari istri maupun anak.Ketika kita masih punya anak-anak kecil yang sedang lucu-lucunya, orang tuanya juga lucu kok, maka itu adalah distorsi yang besar di dalam rumah.
Anak-anak ribut, berkelahi, saling lempar mainan, berteriak, wow, itu adalah gangguan yang sangat tidak bisa diremehkan. Telinga kita jadi panas, alhasil kita malah ikut berteriak dengan tujuan untuk menenangkan mereka.
Kalau di kantor mungkin tidak akan sampai seperti itu distorsinya, tetapi kalau di rumah, apalagi itu rumah kita sendiri, hem, bisa diteruskan sendiri kalimatnya bukan?
Sekadar saran, dikondisikan saja. Mungkin dikasih tahu ke istri bahwa kita sedang bekerja. Cara lainnya, kunci pintu, tetapi jangan dibuang kuncinya ke laut, karena nanti akan susah dicari.
Kalau memang tidak berhasil cara-cara tersebut, maka harus ubah waktu. Misalnya, ketika mereka sudah tidur atau minta mereka ke luar dahulu, ke rumah mertua atau orang tua kita mungkin.
Jelas lebih mudah dan murah daripada harus disuruh pergi ke Mars, meskipun sekarang sudah ada film Indonesia yang cukup bagus berjudul "Pelangi di Mars".
5. Tetap Menjaga Komunikasi dengan Tim Kerja
Ketika menghadapi suatu pekerjaan, apalagi yang melibatkan lebih dari satu orang, maka sebuah tim pastilah sudah dibentuk. Nah, ketika WFH, jalinan komunikasi tetap harus ada dan tersambung dengan baik.Mungkin komunikasi tersebut melalui sebuah grup Whatsapp. Fokuskan pada grup tersebut ketika kerja, bukan grup yang lain, seperti grup gosip tetangga, grup gosip kantor, grup cari barang bekas, grup cerita horor yang justru membahas honor yang belum dibayar, akhirnya malah jadi horor tersendiri bagi rumah tangga.
WFH, Mengenang Ketika Covid dan Tetap Bisa Produktif
Kebijakan pemerintah yang rencananya akan menggalakkan WFH memang membuat kita jadi teringat masa ketika covid-19. Waktu itu, kita seperti tahanan rumah dan tahanan kota pula.Mau ke mana saja dibatasi serta tidak boleh ini dan itu. Alhamdulillah, sekarang, covid-19 sudah tidak ada lagi. Tidak mungkin juga ada covid-26. Covid-19 di tahun 2019, masa sekarang covid-26 di tahun 2026?
Kalau pas covid kita tetap bisa produktif, padahal ada ancaman penyakit, maka sekarang dalam kondisi sehat, harusnya dapat lebih produktif lagi.
WFH bukan berarti bermalas-malasan di rumah. Target pekerjaan harus tetap diselesaikan. Soalnya, WFH ini 'kan tidak setiap hari. Masih ada WFO yang berarti kita harus tetap datang di kantor.
Kondisinya lain jika kantor kamu juga menjadi rumah kamu. Kamu mencari nafkah di dalam rumah, tanpa harus ke luar rumah. Maka, setiap hari adalah WFH.
Dan, ada pula segi positifnya, sih, jika WFH. Kedekatan dengan keluarga lebih terjalin mesra, tidak perlu perjalanan ke kantor yang seringkali menimbulkan macet, padahal mobil kita mahal, masih kredit lagi. Masa harus tersiksa juga terkena kemacetan?
Bila WFH ini terbukti bisa mengurangi pengeluaran kita, utamanya dari segi bahan bakar kendaraan pribadi, maka termasuk solusi yang bagus juga. Bensin bisa jadi lebih hemat.
Namun, coba dipikirkan lagi, deh, kalau WFH ini hari Jum'at, bukannya nanti akan jadi long weekend? Sepertinya, mobilitas masyarakat akan lebih meningkat ke luar kota dan tidak sesuai dengan semangat efisiensi.
Bukankah mobilitas kendaraan itu butuh bensin. Semakin banyak diisi, jelas semakin tinggi pula harganya. Ngomong-ngomong, harga bensin sekarang per tetes berapa, ya?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.