Meminjam Istilah Puisi Sapardi
Kemarin, admin Bisnismuda memposting sebuah puisi karya eyang Sapardi Djoko Damono yang judulnya "Aku Ingin". Nah, dalam dunia bisnis fashion juga bisa dikaitkan, terutama kaitannya dengan stok di gudang.Mencintai dan mengelola bisnis fashion itu memang seperti puisi Sapardi. Butuh yang namanya kesederhanaan dalam pelayanan, tetapi pada dasarnya, butuh pengorbanan "kayu dan api" dalam mengelola stok di gudang.
Ketika kayu harus rela terbakar sampai habis demi api tetap menyala, maka "kayunya" dalam bisnis fashion adalah sang pengusaha atau tim dari pengusaha tersebut.
Mereka harus mengalami lelahnya bongkar muat. Ketika stok pakaian baru datang berkarung-karung, lalu karungnya tidak dipakai lomba karung 17-an, dan jumlahnya banyak sekali, punggung rasanya seperti mau copot karena harus mengangkut dan menyusunnya secara rapi.
Selain itu, butuh juga ketelitian dalam sortir. Harus dipastikan tidak ada baju yang cacat, kancingnya lengkap, dan jahitan rapi. Proses ini jelas membutuhkan konsentrasi yang membakar energi.
Kayu yang terbakar juga bisa dimaknai sebagai modal yang "tertanam". Uang yang telah dipakai sebagai modal stok barang itu ibarat kayu yang dilempar ke tungku.
Kita tidak bisa pakai uang itu untuk kebutuhan yang lain dulu, sebab pada hakikatnya, dia sedang "terbakar" menjadi stok barang. Harapannya nanti akan jadi "api" keuntungan dan cuan.
Sedangkan filosofi api seperti dalam puisi Sapardi, bahwa api itu memang panas dan bergerak cepat. Selain itu, harus dijaga supaya tidak padam, tetapi juga jangan sampai membakar rumah.
Jika dikaitkan dengan bisnis fashion, api ini melambangkan kecepatan tren. Koleksi busana fashion itu cepat sekali basi. Kalau tidak cepat (panas) menjualnya, maka stok di gudang malah jadi "api". Efeknya membakar modal akibat baju sudah ketinggalan zaman alias tidak laku lagi.
Api dapat diibaratkan pula seperti mekanisme otak yang terus berpikir agar bisnis fashion ini tetap memiliki kelangsungan usaha. Siapa juga yang mau bisnisnya gulung tikar, meskipun yang dijual memang tikar.
Antara kayu dan api itu menurut saya memang cocok diterapkan di dalam bisnis fashion, termasuk fashion busana muslimah. Jangan dilihat bahwa bisnis fashion itu cuma menampilkan foto produk atau memajang koleksinya di manekin, tetapi ada perjuangannya. Ada jerih payahnya.
Dalam bisnis fashion muslimah tidak hanya bicara gaya, tetapi juga ketahanan mental. Sukses untuk Womenwear dengan usaha bisnis fashion busana muslimah.
Tidak hanya menjual produk di etalasi digital maupun fisiknya, tetapi juga membuat muslimah menutup auratnya dengan produk-produk dari Womenwear ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.