7 Strategi Realistis Mengusahakan Dana Darurat Saat Sudah Darurat

Strategi realistis mengumpulkan dana darurat [Freepik]

Strategi realistis mengumpulkan dana darurat [Freepik]


Konflik Amerika Serikat-Irael versus Iran terus memasuki babak baru yang nampaknya belum menunjukkan akan selesai. Usai negosiasi damai di Pakistan berujung buntu, The Wall Street Journal menyebut negara sekutu seperti Jerman salah satunya ogah membayarkan tarif fantastis jika ingin melewati Selat Hormuz.

Melihat kondisi geopolitik yang ada, dampaknya sontak melebar. Reuters memaparkan perang ini membuat harga bahan bakar naik, biaya logistik meroket, dan pasar keuangan jadi tidak stabil.

Kalau sudah begini, masih relevankah mengumpulkan dana darurat karena situasinya sudah terlanjur darurat?

Boro-boro emergency, bisa makan setiap hari saja sudah sangat beruntung begitu ucapan circle pergaulan saya utamanya yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.


Strategi Realistis Mengumpulkan Dana Darurat Saat Sudah Darurat

Financial planner mayoritas menganjurkan 3-6x pengeluaran bulanan sebagai jumlah ideal bemper keuangan ini. Tapi kalau situasinya sudah terlanjur dana darurat, apakah kepikiran jumlahnya sudah ideal belum?

Prinsipnya bisa jadi berubah: yang penting bertahan dulu, ideal engganya urusan belakangan. Setidaknya ada cash untuk 3 bulan mendatang. Merujuk literatur keuangan seperti Treasury, GoTrade, dan sumber lainnya ada strategi agar pengumpulannya lebih cepat.



1. Strategi Cash Acceleration

Fokusnya kini bukan lagi berupaya hidup hemat, tetapi bagaimana uang tunai bisa bertambah secepatnya.

Caranya? Coba tengok sekitarmu, adakah aset yang sudah tak produktif lagi? Sebut saja gawai lama tetapi masih bagus dan bisa digunakan, stok jualan yang menimbun, atau barang hobi yang cuma ikutan fomo? Jual supaya jadi duit!

Jangan terlalu fokus untung berapa, yang penting barang keluar dari rumah dan ada cash masuk.


2. Brutal Budgeting

Sesuai namanya, lakukan "tega" pada diri sendiri. Hari ini, fokus utama adalah kebutuhan primer untuk hidup. Prioritaskan uang yang masih ada untuk biaya makan, tempat tinggal (membayar kontrakan atau cicilan yang masih berjalan), fasilitas kesehatan, dan transportasi untuk mobilitas.

Cut biaya hiburan yang tidak penting. Pertimbangkan menghentikan layanan Netflix kalau memang jarang diakses, kurangi nongkrong di kafe kecuali keperluan bisnis, tunda dulu keinginan upgrade gadget kecuali memang urgent.


3. Mulai Bisnis yang Tak Pernah Mati

Kendati kondisi krisis, masih mungkin memanfaatkannya sebagai peluang. Beberapa ide bisnis yang masih dicari misalnya warung sembako, jadi reseller makanan beku yang praktis dan tahan lama atau agen galon air minum.

Tangan dan inderamu piawai akan rasa? Coba buka bisnis masakan rumahan dengan harga terjangkau. Hal ini akan dicari karena lebih hemat makan di rumah.


4. Jangan Lupakan Aset Darurat Berwujud Lain

Kala krisis, aset yang biasanya dipilih adalah reksa dana pasar uang. Lebih menguntungkan dibanding menyimpan di rekening, return juga tergolong tinggi daripada deposito.

Tak salah, tetapi lirik juga aset lain seperti emas dalam gramasi kecil misalnya. Ketika kondisi tidak pasti, logam mulia biasanya akan naik. Survival asset yang patut dipertimbangkan adalah bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga krusial.