Dampak Tersembunyi Industri Fashion: 7 Cara Peduli Kesejahteraan Buruh Kain dan Lingkungan 

Dampak Tersembunyi Industri Fashion: 7 Cara Peduli Kesejahteraan Buruh Kain dan Lingkungan. Sumber Gambar Adobe Express

Dampak Tersembunyi Industri Fashion: 7 Cara Peduli Kesejahteraan Buruh Kain dan Lingkungan. Sumber Gambar Adobe Express

Like
Be-emers, pernah jalan-jalan di daerah pewarnaan kain? Dengan sedih penulis katakan, penulis pernah. 
 
Dan yang dikunjungi penulis kebetulan daerah pewarnaan kain yang tidak distandarisasi. 
 
Penduduk lansia yang kurus dengan berbagai penyakit kulit, serta tanah, sungai, dan sumur yang tercemar limbah kimia berwarna pekat, menjadi pemandangan di sana.

Mereka bekerja keras mewarnai kain demi upah yang jauh di bawah standar kesejahteraan.
 
Sejak saat itu, penulis berjanji, penulis akan lebih hati-hati membeli fashion. Fashion bukan sekedar estetika, tetapi juga kemanusiaan dan lingkungan.
 

Dampak Tersembunyi Industri Fashion: 7 Cara Peduli Kesejahteraan Buruh Kain dan Lingkungan 

Berikut adalah 7 cara peduli kesejahteraan buruh kain dan lingkungan dalam peringatan hari buruh!
 

1. Perhatikan “Cerita” di Balik Sehelai Kain 

Langkah awal bagi Be-emers untuk menjadi pelanggan yang peduli manusia dan lingkungan adalah mencari tahu transparansi produk. Pebisnis fashion yang peduli akan membagikan informasi mengenai:
  • Asal-usul bahan baku kain.
  • Jenis pewarna yang digunakan.
  • Sistem pengelolaan tenaga kerja.
Jika tidak tersedia mengenai informasi tersebut, jangan ragu untuk mencari informasi, bertanya, atau membaca profil brand fashion tersebut sebelum membeli.
 

2. Analisis Sertifikasi Tekstilnya 

Be-emers sertifikasi yang disertai sertifikat adalah bukti bahwa produk fashion tersebut telah memenuhi standar tertentu. Misalnya:
  • OEKO-TEX®: menunjukkan produk fashion tersebut telah diuji dan bebas dari zat kimia berbahaya.
  • Global Organic Textile Standard (GOTS): standar yang digunakan untuk tekstil organik yang mencakup keamanan lingkungan, tanggung jawab sosial, upah yang layak, dan lingkungan kerja yang aman.


3. Pilih Kain dengan Pewarna Alami 

Pewarna alami yang berasal dari kulit manggis (ungu), kulit jengkol (cokelat), bunga telang (biru), kunyit (kuning), kayu secang (merah/pink), daun jati (merah/coklat), dan daun suji (hijau).

Memang tidak memberikan warna yang cerah, warnanya tidak konsisten, dan sesuai keinginan pada kain. Tetapi ini memberikan dampak yang lebih baik kepada lingkungan dan manusia.
 

4. Pahami Karakteristik “Fashion Tidak Ramah Karyawan”

Secara kasat mata, Be-emers bisa mengidentifikasi kain ini melalui beberapa ciri berikut:
  • Bau kimia tajam: seringkali berbau kimia yang menyengat seperti sulfur atau minyak tanah meskipun sudah dipajang.
  • Harga yang "sangat ramah di kantong": jika kain dijual dengan harga yang terlalu murah untuk setiap meternya, ada kemungkinan ada pemotongan biaya pada upah buruh atau tidak ada biaya pengolahan limbah fashion (IPAL).