Bukan Tren Sesaat: 5 Strategi Memulai Bisnis Makanan Sehat

Strategi memulai bisnis makanan sehat, sumber gambar: editing pribadi

Strategi memulai bisnis makanan sehat, sumber gambar: editing pribadi


Jadikan makananmu sekarang sebagai obat. Jika tidak, maka nanti obat yang akan jadi makananmu. 

Kalimat di atas memang penuh dengan makna. Jika makanan tidak bisa dijadikan obat, maka obat yang akan jadi makanan nanti.

Itu jelas obat dokter, bukan obat nyamuk. Sebab, obat nyamuk adalah makanan untuk nyamuk yang membuat mereka tidak lagi bisa makan.  

Menurut Be-emers, fungsi makanan yang paling utama itu apa, sih? Tentu saja, kita kenal sejak dulu bahwa dengan makan, akan menjadi kenyang. Kalau sudah terlalu banyak kenyang, maka peluang menjadi gemuk akan terbuka lebar.

Dan, orang gemuk memang biasanya berbadan lebar. Dikali dengan panjang, jadinya luas. Dikalikan lagi dengan tinggi, jadinya volume. Orang gemuk dikaitkan dengan luas dan volume itu, berarti fix, dia guru Matematika!  


Masalah Kesehatan Karena Makanan

Dalam persepsi agama Islam, makanan itu memang tidak boleh sembarangan. Paling pertama dan utama tentu saja yang halal. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajarkan agar makanan itu cukup untuk menegakkan tulang punggung. 

Jika memang harus makan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Kita juga mengenalnya dalam bentuk lain, makan ketika lapar, berhenti sebelum kenyang. 


Sekarang, kita lihat fenomena yang ada. Apakah ketika memasukkan makanan, ada pembagian sepertiga itu? Rasanya, kok malah satu perut penuh isi makanan.

Dipenuhi juga dengan minuman. Sedangkan untuk udaranya mungkin hanya sedikit, karena yang banyak ke luar malah lewat jalur belakang. 

Lalu, makan ketika lapar tidak dilakukan. Justru, ketika kenyang, masih tetap makan. Setelah nasi porsi lengkap, beberapa saat kemudian masih ditambah dengan cemilan. Setelah cemilan, pasti sepuluh dan sebelas.  

Dokter Zaidul pernah mengatakan bahwa yang ada di piring itu sebenarnya memang menentukan kesehatan kita. Beliau mengatakan bahwa waktu pagi itu adalah waktu untuk buang-buang.

Maksudnya, buang air dalam bentuk kecil, sedang, maupun besar. Buang sampah dari tubuh ke luar. Termasuk mungkin sebagian dari kamu buang kenangan dengan mantan yang sudah memblokirmu di WA. Waduh, masalahnya siapa nih?  

Ketika waktu pagi yang seharusnya hormon laparnya itu sedang tidak bekerja maksimal, justru diisi dengan banyak sekali karbohidrat dan kalori. Kita sering makan nasi kuning campur mie instan, kerupuk, daging ayam yang mungkin dari ayam potong karena lebih murah. 

Tambah lagi dengan minuman manis, seperti: teh manis, kopi manis, maupun susu kental manis. Lain hari mengisinya dengan gado-gado, meskipun pada awalnya kita tidak mau beli itu, tetapi mata kita rupanya kena goda-goda. Akhirnya, belilah gado-gado. 

Sebagian praktisi kesehatan juga seperti Ade Rai mengatakan bahwa di pagi hari tubuh masih punya banyak simpanan energi. Jadi, tidak perlu ditambah sarapan dengan kandungan kalori yang terlalu banyak. 

Waktu pagi, katanya, waktu untuk bakar lemak. Jika tidak diisi dengan makanan, maka tubuh akan "memakan" dirinya sendiri. Senada dengan Dokter Zaidul, yang dimakan di sini adalah sel-sel tubuh yang rusak, mati, termasuk sel-sel yang berpotensi menjadi sel kanker. 

Itu bisa diistilahkan dengan autofagi. Ini adalah kondisi tubuh mendaur ulang dirinya sendiri saat kita lapar atau berpuasa (Ohsumi, 2016). 

Maksudnya adalah sel akan mulai mengidentifikasi komponen yang rusak. Tidak hanya itu, juga protein yang tidak terpakai. Ditambah dengan organel sel yang sudah "tua".

Semua komponen sampah tersebut akan dihancurkan. Setelah itu, didaur ulang menjadi energi atau komponen sel baru yang jelas lebih sehat dan lebih bermanfaat bagi tubuh.

Orang yang banyak makan dan salah pula makanannya, memang bisa memicu sakit. Makanan yang terlalu banyak gula, garam, bahkan terlalu banyak utang di warung dan belum dibayar lagi. Ini jelas bikin sakit pikiran, darimana uang untuk membayarnya? 

Gula yang dirasa manis di lidah, rupanya adalah makanan yang mantap bagi sel kanker. Sebagian banyak gula yang dikonsumsi, ujung-ujungnya bisa diabetes melitus.

Malah, bukan lagi diabetes melitus, melainkan berubah menjadi diabetes meletus. Fungsi organ tubuh jadi rusak, obat pun harus rutin diminum, dan pekerjaan serta keseharian pastilah terganggu. 

Kalau sudah begitu, siapa yang akan rugi? Jawabannya jelas, yang akan rugi adalah orang yang sedang tidak beruntung. Orang yang tahu, pastilah paham yang ini. 


Membongkar Mitos Bahwa Sehat Itu Identik dengan Mahal

Teman saya pernah bercerita tentang sebuah pasta gigi herbal. Katanya, justru harganya kok malah lebih mahal dibandingkan pasta gigi yang bukan herbal, ya? 

Padahal, dalam hati saya, harga sebesar itu masih lebih murah dibandingkan membuat sendiri. Hayo, coba bandingkan, lebih mahal yang mana? Lebih susah yang mana? Lebih praktis mana kita tinggal beli atau kita yang bikin sendiri? 

Namun, dari kenyataan harga seperti itu, banyak orang yang seperti teman saya itu. Mendengar kata "sehat", terutama makanan sehat, kesannya lebih mahal. Hal ini karena bahannya masih impor, seperti chia seeds atau quinoa.

Sebenarnya, sehat memang tidak harus mahal. Ada juga bahan-bahan yang sehat, lebih murah, dan mudah didapatkan, terlebih jika kamu adalah penjual sayurnya.

Bahan-bahan seperti tempe, tahu, dan sayur-sayuran jika diolah dengan strategi pengolahan khusus, jadi menu sehat juga, kok! 


Ketika Makan Bukan Sekadar Kenyang

Ada seorang dokter yang memberikan pendapat seperti ini, "Bolehlah kita mengatakan suatu makanan itu tidak sehat, tetapi jangan di depan makanan itu."

Ketika mendengar kalimat itu, hati saya langsung bergetar. Selama ini 'kan yang bisa bergetar cuma saku celana, apalagi jika ada telepon dari istri. Ya, getar karena HP-nya, getar juga karena berpikir, ada apa lagi ini? 

Betul, banyak makanan yang dikategorikan tidak sehat. Sebut saja gorengan. Kata "gorengan" bisa juga dijadikan sebagai rasa penasaran, contohnya, "Ada apakah gorengan?" 

Banyak orang mengatakan gorengan itu tidak sehat. Ya, dari minyaknya, tepung, kalori, dan sebagainya. Namun, sesuai petunjuk dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, jangan mencela makanan. Jika tidak suka, tinggalkan saja. 

Ini dia, mencela makanan. Seburuk-buruknya makanan itu, tetap tersaji juga karena proses yang panjang. Tidak ujug-ujug, makbedunduk, makjegagik, makcling muncul di depan kita. Pastilah ada rantai yang lama dan bisa berhari-hari hingga menjadi makanan yang terhidang. 

Okelah, kita sudah mulai sadar mana makanan yang tidak sehat, mana juga makanan yang kurang sehat. Lalu, bagaimana kita bisa meraih kesehatan melalui makanan itu? Jawabannya tentu saja, tanpa harus mencari jawaban dengan bertapa ke puncak gunung, solusinya adalah melalui makanan sehat. Healthy food

Makanan sehat ini tidak hanya bicara tentang kenyang. Memang, sih, kalau dimakan banyak, pasti kenyang. Namun, pembuatnya atau pebisnisnya mesti juga menghitung kalori atau protein yang ada.

Konsumen bisa membayar mahal makanan jenis ini bukan buat sayurnya, melainkan demi "kepraktisan" dan "kepastian" bahwa badan mereka tidak makin melar, lebar, dan ketika jalan, lantainya sedikit bergetar. 

Data menunjukkan bahwa ternyata pasca-pandemi covid-19 yang lalu, konsumen tidak lagi hanya mencari rasa. Mereka juga mencari "fungsionalitas" dari makanan.

Ternyata, ada hubungan erat antara health consciousness (kesadaran kesehatan) dengan niat beli atau yang disebut dengan purchase intention, terutama pada produk makanan sehat (Mai, R., & Hoffmann, S, 2012).

Secara logika, pebisnis makanan sehat atau contohnya adalah katering diet itu ibarat manajer investasi. Mereka tidak mengelola saham, tetapi asupan karbohidrat orang lain. 


Tertarik Berbisnis Healthy Food?

Gaya hidup sehat dengan olahraga sudah cukup populer sekarang. Terlebih di media sosial, sangat banyak yang punya gaya hidup semacam ini. 

Mereka selfie, bikin vlog, sambil berolahraga. Beberapa kali juga saya menontonnya. Ada yang sering naik sepeda, tentunya dengan sepeda mahal, yang bisa lebih mahal dibandingkan uang kost-kostan sebagian di antara kamu. Sudah bayar untuk bulan ini kah? 

Ketika tren olahraga sudah seperti itu, maka tren yang mengikutinya adalah makanan sehat atau healthy food itu tadi. Kesempatan ini dapat menjadi bisnis bagi kamu. Kesadaran sudah ada pada kamu untuk hidup sehat, saatnya mengenalkan ke orang lain juga. 

Dalam urusan memilih makanan yang sehat, pada umumnya orang cenderung menghindari makanan dengan kandungan lemak, karbohidrat, dan tentu saja, gula yang tinggi. 

Namun, mengenalkannya memang tidak mudah, terlebih banyak orang yang sudah terbiasa memilih makanan murah, praktis, tetapi tidak terlalu sehat itu. 
 

1. Perhatikan Aspek Visual

Dari mata turun ke hati, dari hati naik lagi ke mata. Yang pertama benar, yang kedua karangan saya. Biasanya, dari mata turun ke hati itu adalah bentuk perkenalan yang memikat atau langsung maknyess, nancep di dalam jiwa. 

Jika dengan orang bisa seperti itu, maka dengan barang juga pastinya bisa. Jadi, untuk bisnis healthy food ini penting menampilkan kemasan (packaging) yang ramah lingkungan dan bahkan Instagramable.

Konsumen atau pelanggan pastinya bangga memotret atau memfoto makanan mereka karena merasa sudah hidup sehat. Apalagi jika foto tersebut estetik, menarik, dan memancing untuk klik serta menyebarkan ke semua titik. Asyik? 
 

2. Strategi Mengelola Supply Chain

Agar bisa mendapatkan bahan baku yang lengkap, sekaligus menekan Harga Pokok Produksi (HPP), maka manfaatkan  saja bahan baku lokal musiman. Kalau sudah musimnya 'kan harganya jadi cenderung turun atau rendah. 
 

3. Dimulai dari Dapur Rumah Dahulu

Tidak perlu membangun dapur yang mewah, besar, dan luas seperti dapur MBG. Cukup bisa dimulai dari dapur rumah saja. Jadi, modalnya cukup ringan saja, tidak perlu modal besar, apalagi sampai menjual rumah. Lah, kalau rumahnya dijual, mau bikin makanan sehatnya di mana? 
 

4. Target Market yang Tepat

Dalam semua bisnis, perlu dipahami bahwa tidak semua orang cocok dengan bisnis tersebut. Termasuk dalam hal ini adalah bisnis makanan sehat. 

Masih banyak orang yang tidak beralih atau move on dari makanan-makanan yang selama ini mereka konsumsi, padahal jelas-jelas kurang sehat. 

Namun, pasti masih ada yang tertarik dengan produk healthy food ini. Salah satunya adalah para pekerja. Sudah ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa ternyata asupan nutrisi yang tepat cocok untuk para pekerja.

Nutrisi seperti diet rendah glikemik justru meningkatkan fokus dan produktivitas di tempat kerja (Nyberg, S. T., et al, 2015). Jadi, para pekerja kantoran akan suka ini, tetap bisa bekerja dengan baik, dengan kondisi kesehatan yang ciamik. 
 

5. Promosi Tepat di Media Sosial

Jangan lupa, kita masih hidup di eranya media sosial. Masih ada hubungannya dengan yang nomor 1 dan tentu saja antara nomor 5 dan nomor 1 di atas, hubungan mereka baik-baik saja, janganlah kita khawatir. 

Media sosial sangat tepat untuk mempromosikan healthy food sekaligus mengedukasi masyarakat. Bisa dengan konten berupa tulisan artikel, foto, maupun video. 

Kalau edukasi tersebut berhasil menjadi tren, seperti di TikTok, wah, ini bagus banget! Apalagi sampai viral, maka gaya hidup jenis ini akan semakin mudah disebarkan. 

Jangan takut dengan makanan sehat yang mungkin bisa cenderung lebih mahal. Ada sebuah penelitian yang menjelaskan alasan orang rela membayar lebih mahal atau istilahnya adalah willingness to pay untuk membeli makanan sehat.

Ternyata, hal itu karena faktor "sikap" dan "norma subjektif", yaitu: adanya pengaruh lingkungan/media sosial yang sangat dominan di kalangan anak muda (Yadav, R., & Pathak, G. S, 2016). Berarti di sini adalah gen Z & kalangan milenial.

Edukasi yang berhasil akan menyadarkan bahwa harga mahal itu tidak ada. Justru lebih mahal mana, sekarang untuk membeli makanan sehat atau nanti ketika sudah sakit parah?

Hal yang disebutkan terakhir tersebut pastinya lebih mahal dan menyita apapun. Dari situ saja, sudah bisa memilih dengan akal sehat bukan?