Puasa Sunnah Bulan Zulhijjah, Sumber Gambar: Editing Pribadi
Rasa-rasanya, penyakit manusia modern ini memang hampir sama. Banyak yang mengalami hal ini. Dan, sepertinya memang menular melalui media dan pergaulan, hingga masuk ke dalam sisi psikologis si manusia itu sendiri.
Coba kita cek dan ricek ke dalam diri, apakah selama ini kita gampang stres? Sedikit-sedikit stres, sedikit-sedikit stres, stres kok cuma sedikit?
Selain gampang stres, yang tidak kalah pamornya adalah overthinking. Penyakit yang satu ini bisa menghinggapi siapa saja, tentunya yang masih hidup.
Tentunya, zombie akan susah kena penyakit tersebut karena berada di antara kondisi hidup dan mati. Seperti menunggu kabar dari si dia, apakah hubungan ini akan meredup atau lebih baik tidak usah dipikirkan lagi?
Overthinking dimulai dari dua kata dan itu berupa pertanyaan. Dua kata itu adalah "bagaimana" dan "kalau". Misalnya, terkait pekerjaan, bagaimana kalau dipecat?
Bagaimana kalau pekerjaan ini malah bikin dimarahi bos? Bagaimana kalau ada pegawai yang lebih baik daripada saya? Dan bagaimana-bagaimana lainnya. Dan kalau-kalau lainnya.
Akhirnya, overthinking ini membuat otak terus siaga, meskipun tidak pernah ikut Pramuka sama sekali, tetapi bisa siaga. Pada saat istirahat, otak juga terus aktif. Akibatnya muncul yang namanya insomnia. Kalau yang artis pelawak itu namanya Surya Insomnia.
Sesuatu yang belum tentu terjadi dibayangkan seolah-olah terjadi. Ajaibnya, otak membuat hal itu benar-benar nyata di depan mata. Membuat hal tersebut sudah benar-benar menjadi kenyataan.
Ketika Muncul Overthinking dan Melupakan Sesuatu yang Sangat Penting
Orang yang sering overthinking memang bisa lupa bahwa ada yang namanya takdir Allah. Lupa bahwa masa depan itu masih suci. Masih belum tahu yang akan terjadi di masa akan datang. Tidak pernah 'kan ada orang yang pernah menengok Lauhul Mahfudz untuk melihat suratan takdir di sana? Penyakit seperti overthinking dan mudah stres dapat merembet ke kondisi negatif lainnya. Contohnya: makan terus. Sudah makan banyak, tetapi kenyang masih belum tampak.
Ini juga menjadi semacam pelarian. Apalagi sekarang mendapatkan makanan sudah sangat mudah. Mau ke toko kelontong dekat. Mau ke minimarket modern juga dekat. Mau ke KDMP, eh, dekat apa tidak di tempat kamu?
Makanan ringan, sedang, maupun berat sangat mudah didapat. Akhirnya, perut jadi susah istirahat. Kalau tadi otak, sekarang perut yang berat. Ternyata, tubuh memang benar-benar tersiksa.
Makan terus, gerakan fisik tubuh berkurang pula. Lebih banyak rebahan. Biasanya, jika sudah rebahan, apa yang dilakukan? Yak, benar jawaban kamu. Selamat kamu mendapatkan motor dalam bentuk brosur!
Teman sejati rebahan itu adalah scrolling media sosial. Terus-menerus, tanpa henti. Dari yang awalnya cuma 5 menit, bisa lho menjadi 5 jam. Lupa mandi, lupa salat, untunglah tidak lupa bernapas.
Kondisi-kondisi semacam itu jelas membuat tubuh jadi serba tidak enak, serba tidak nyaman. Akhirnya, hati malah tetap kosong. Seperti yang dibilang oleh guru Kera Sakti, kosong adalah isi, isi adalah kosong. Seperti pegawai, ada isi absennya, tetapi kosong, entah ke mana orangnya? Ups!
Lalu, solusinya bagaimana? Adakah yang bisa menjadi pemecahan dari masalah tersebut, setelah mungkin ada yang sampai pemecahan piring-piring karena saking merasa pusing?
Yap, jawabannya ada. Ternyata ada satu ibadah sederhana yang efeknya justru menenangkan. Mari kita simak subjudul berikutnya. Sudah saya pasang Heading 2, saya kasih bold, plus ditambah spasi lagi.
Puasa-puasa Sunnah Sebelum Idul Adha
Ada satu pola yang bisa kamu amati dalam ajaran Islam ini. Tiap mau hari raya, selalu ada suatu bentuk perjuangan melalui fisik dan jiwa. Perjuangan itu tentu saja dalam bentuk ibadah. Namanya adalah puasa. Nah, ini! Sebelum hari raya Idul Fitri, ada yang namanya puasa Ramadan. Selama sebulan penuh, bisa 29 atau 30 hari, kaum muslimin wajib berpuasa. Jika tidak bisa puasa di bulan tersebut karena alasan syar'i, harus diganti di hari yang lain.
Pada waktu sekarang, masuk di bulan Zulhijjah. Ada yang namanya hari raya Idul Adha tanggal 10 Zulhijjah. Kalau hari raya yang ini, ada juga puasa sebelumnya, tetapi hukumnya sunnah. Bukan wajib.
Namun, masih banyak orang Islam sendiri yang salah mengartikan ibadah sunnah. Sebagaimana pelajaran agama waktu sekolah dahulu, sunnah itu artinya dikerjakan dapat pahala, ditinggalkan tidak apa-apa.
Nah, pemahaman "ditinggalkan tidak apa-apa" itu yang seharusnya keliru. Namanya ibadah, selama masih ada waktu atau kesempatan, ketika ditinggalkan, justru yang didapatkan adalah kerugian. Yap, sekali lagi, kerugian, sekali lagi, kerugian. Masih mau sekali lagi?
Kok bisa dikatakan rugi, Mas? Padahal 'kan masih bisa dikerjakan di hari lainnya. Eits, ini yang namanya jebakan waktu, lebih mengerikan daripada jebakan Batman.
Memangnya, ada yang bisa menjamin masih bisa bertemu hari esok? Jangankan hari esok, 1 jam yang akan datang saja tidak ada yang berani memastikan, kok.
Sementara, waktu yang hilang tidak bisa kembali. Kita memang tidak punya mobil mesin waktu "DeLorean DMC-12" bikinan Dr. Emmett "Doc" Brown seperti dalam film Back to the Future itu.
Mesin waktu yang kita punya adalah mesin yang ada di jam-jam di rumah. Bisa jam tangan, jam dinding, kalau masih ada yang pakai, jam beker sebagai alarm bangun tidur. Kalau jam karet, ini dia, sepertinya juga selalu terpasang, tetapi terpasangnya di pikiran. Akhirnya, sering dilakukan.
Jadi, puasa sunnah yang dilewatkan itu biasanya karena apa? Mungkin karena merasa malas. Tantangan puasa sunnah adalah tidak semua orang berpuasa, bahkan kaum muslimin sendiri. Kalau Ramadan, banyak yang berpuasa, tetapi puasa sunnah, seperti di bulan Zulhijjah ini, hem dan hem.
Puasa di bulan Zulhijjah yang paling terkenal adalah puasa Arafah. Puasa ini merujuk kepada hari Arafah, hari sebelum Idul Adha, bukan karena berpatokan pada berkumpulnya jamaah haji di padang Arafah.
Pernah antara Indonesia dan Arab Saudi berbeda waktu hari sebelum Idul Adha ini. Lalu, patokannya yang mana bagi kita kaum muslimin di Indonesia?
Sederhananya adalah kita warga negara mana? Indonesia atau Arab Saudi? Kalau KTP kita masih Indonesia, maka mari ikuti keputusan pemerintah. Sudah ditetapkan oleh Kementerian Agama, maka itulah yang diikuti. Insya Allah, ini yang lebih benar sesuai pendapat para ulama.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.