Restoran All You Can Eat: Makan Sepuasnya Kok Tetap Bisa Untung? Ini Strateginya!

Restoran All You Can Eat (Sumber gambar: trip advisor.com)

Restoran All You Can Eat (Sumber gambar: trip advisor.com)

Hanya dengan sekali bayar, kita bisa makan dan minum sepuasnya, bahkan jika nambah pun tak jadi masalah. Kalau begitu, restoran All You Can Eat ini dapet untungnya dari mana sih?

Rentang harga Rp90 ribu sampai Rp500ribu untuk ukuran makanan memang terdengar mahal. Tapi kalo mencakup appetizer, main course, sayuran, hingga dessert, sepertinya justru sebaliknya, apa restorannya enggak rugi? Enggak mungkin juga kan orang buka usaha karena iseng, tanpa ngejar untung? Hmm… kalau begitu, dari mana keuntungan restoran All You Can Eat berasal?

1. Pelanggan mengambil Makanannya Sendiri
Biasanya, restoran All You Can Eat memungkinkan pelanggannya bolak-balik mengambil makanannya sendiri di buffet yang sudah tersedia. Konsep ini memangkas biaya staff, karena restoran tidak perlu merekrut waiter yang harus menunggu atau mendatangi meja pelanggan satu per satu. Sehingga jumlah staff yang dibutuhkan lebih sedikit.

2. Menu makanan paling murah disajikan di tempat paling depan.
Jika kita memperhatikan tata letak makanan di buffet, makanan tinggi karbohidrat dengan profit margin paling tinggi biasanya ditaro di bagian depan. Contohnya nasi, mie, maupun kentang. Strategi ini membuat makanan jenis ini paling pertama disajikan di piring pelanggan. Jadi, ketika pelanggan hendak mengambil menu lain, piringnya sudah dipenuhi karbohidrat

3. Menyediakan piring berukuran kecil
Beberapa restoran hanya menyediakan piring kecil, dengan harapan agar pengunjung mengambil makananan sesedikit mungkin. Menurut artikel dari Psychology Today, peralatan makanan yang kecil membuat orang tersugesti sudah makan banyak, karena piring kecil memberi kesan bahwa porsi yang ditaruh lebih banyak.

4. Membatasi Waktu Makan
Umumnya, Restoran 'All You Can Eat' memberi batas waktu makan antara 90-120 menit untuk setiap pelanggan. Strategi ini diterapkan untuk membatasi pelanggan agar tidak makan berlebihan, juga untuk memangkas waktu antrian pelanggan.

5. Prinsip: makan ada batasnya
Kita semua tahu, pelanggan datang dengan persiapan makan banyak. Tapi ingat, orang juga memiliki batas kenyang. Misal, seorang laki-laki yang mampu makan 4-6 tray daging, berbeda dengan perempuan yang hanya mampu memakan 2–3 tray aja. Nah, dari sinilah restoran mengambil peluang rata–rata potensi makan dengan perkiraan kapasitas tersebut. 

6. Charge makanan sisa
Karena bisa makan sepuasnya, orang terkadang cenderung mengambil makanan melebihi kapasitas lambungnya, alhasil makanannya jadi sisa. Peluang ini dimanfaatkan restoran yang tidak ingin rugi dengan makanan sisa, dengan memberi charge atas makanan sisa tersebut. Sebaliknya, sistem charge ini memberi sugesti ke pelanggan untuk makan secukupnya saja, biar tidak perlu membayar denda. 

7. Utilitas Marjinal dan Godaan Makanan Lain
Strategi lain adalah bikin siasat side dish dan dessert. Pada dasarnya, AYCE menganut prinsip law of diminishing marginal utility atau utilitas marjinal, yakni dari setiap tambahan barang yang dikonsumsi, kepuasannya semakin berkurang.

Diasumsikan, jika 1 kg daging sapi harganya Rp 150.000. Bila dirata-rata, orang akan makan hanya sekitar 500 gram. Sisanya, mereka akan tertarik menikmati makanan lain seperti dessert dan side dish. Di sinilah restoran bisa menetapkan harga tetap sebesar Rp 150.000. 


Sumber: 
https://www.wartaekonomi.co.id/read269001/kupas-tuntas-keuntungan-dari-bisnis-restoran-all-you-can-eat
https://www.simulasikredit.com/bagaimana-restoran-buffet-all-you-can-eat-mendapatkan-untung/