Kisah Para Jastipers, Mulai dari Cuan di Tengah Pandemi hingga Siap Buka Toko Offline

Ilustrasi sejumlah kantong titipan para konsumen jastipers - AntonChechotkin

Ilustrasi sejumlah kantong titipan para konsumen jastipers - AntonChechotkin

Like

Semakin mudah masyarakat dalam melakukan komunikasi berbanding lurus dengan peluang untuk mendulang cuan. Sepakat, Be-emers?

Nah, salah satu peluang bisnis yang dapat dicoba dari pesatnya perkembangan teknologi adalah bisnis jasa titip atau kerap disingkat jastip.

Bisnis ini memanfaatkan media sosial dan e-commerce sebagai medium untuk menawarakan jasa membeli produk barang tertentu atas permintaan orang lain.

Keuntungan yang didapat oleh jastipers, pelaku bisnis jastip, datang dari hasil komisi atau upah yang diberikan oleh si penitip.

Bisnis jastip umumnya dapat dilakukan ketika sedang jalan-jalan atau berada di festival besar seperti bazar buku, kuliner viral, sampai tempat jualan tiket konser.


Selain itu, tinggal di kota atau negara tertentu juga bisa menjadi keuntungan bagi seorang jastipers.

Tidak terlalu rumit, langkah yang diperlukan jastipers untuk menjemput peluang cuan adalah rajin mengunggah produk yang potensi peminatnya tinggi ke sosial media maupun e-commerce.

Kuncinya adalah memberi ketarangan yang jelas sehingga orang lain dapat dengan mudah memahami dan mencarinya.

Memang sih, enggak perlu modal besar. Namun, konsumen yang tekadang PHP dan upaya dalam menentukan besaran komisi yang setimpal menjadi tantangan tersendiri dalam berbisnis jastip.
 

Kisah Para Jastipers dalam Mendulang Cuan

Berikut ini adalah kumpulan cerita dari tiga jastipers yang berhasil mendulang cuan dari bisnis jastip.

Pengalaman asli ini meliputi cerita jastipers yang baru merintis bisnis di tengah pandemi, hingga yang sudah berencana membuka toko offline.
 

1. Kampanye #DiRumahAja Jadi Momentum Berbisnis Jastip

Jastipers pertama bercerita memulai bisnis di bidang jasa titip sekitar sebulan lalu dengan fokus pada produk kuliner.

Dia menerangkan bahwa bisnisnya itu berawal dari hal 'iseng-iseng' yang berujung jadi 'serius dijalani'.

Awal mula ide berbisnis jastip muncul ketika gencarnya kampanye #DiRumahSaja. "Kami rindu dengan makanan-makanan yang biasa kami suka makan di kala kondisi normal," jelasnya pada 16 Juni 2020.

Dari sini kemudian tercetuslah ide untuk mencoba membuat jasa titip kuliner. Tujuannya utamanya untuk menjembatani orang-orang yang ingin membeli makanan ini dan itu, tapi terkendala jarak dan waktu.

"Dengan harapan hadirnya kami, bisa membantu mereka tetap stay at home, jaga diri, dan kesehatan, tapi masih bisa mencicipi makanan kesukaan mereka," katanya.

Jastipers pertama ini berdomisili di Jakarta dan produk kuliner yang ditawarkan kepada konsumen berada di seputaran Jakarta.

Dia mengaku bahwa 100% konsumennya adalah strangers atau orang yang tidak dikenal. Bahkan, untuk usia bisnis jastip yang terbilang masih baru, dia mengatakan sudah mampu mengirim makanan ke sejumlah wilayah di Tanah Air.

"Datang dari mana saja penjuru Indonesia. Rekor terjauh kami pernah kirimkan makanan sampai ke Tanah Papua," katanya.

Waduh, hebat juga ya, Be-emers. Dalam waktu singkat sudah bisa mengirim barang dari bisnis jastip sampai ke luar Pulau Jawa. Memang apa sih rahasianya?

Sebenarnya, jastipers pertama ingin mematahkan hipotesa bahwa, "Suatu bisnis, baru bisa maju dimulai dari lingkungan terdekat, teman dekat atau inner circle."

"Apa benar sebuah bisnis hanya bisa maju dan dimulai dari orang Terdekat?" demikian dia bertanya.

Dia lantas memulai bisnis jastip dengan noting to lose karena memang memulai dari iseng-iseng. Dia mencoba berbisnis dengan 100% orang yang tidak dia kenal dan ternyata diterima pasar dengan cukup baik.

Konsumen pertamanya datang dari Malang, Jawa Timur. Besar kemungkinan bahwa konsumen itu menemukan 'dagangan' jastipers pertama dari hasil tagar yang sesuai.  

"Jujur, masih newbie sekali dalam bisnis ini dan juga cukup appreciate karena pasar menerima kami dengan cukup baik," paparnya.

Dia mengatakan bahwa lini pemasaran produk jastipnya hanya lewat Instagram serta mengaku belum bisa memasang iklan dan memakai jasa endorsement.

"Jadi murni memang dari Instagram dan dibantu rekan-rekan pemilik bisnis kuliner yang produknya kami bantu pasarkan," katanya.

Dia menjelaskan bahwa produk kuliner yang dikirimkan 100% asli Indonesia dan kebanyakan berasal dari industri rumahan.

Saat ditanya mengenai modal, omzet, dan laba bersih yang didapatkan dari bisnis jastip, jastipers pertama mengaku belum sempat melakukan kalkulasi profit, loss, dan modal.

Begitu juga dengan biaya operasional per bulan yang juga belum dapat dirinci karena belum dihitung. Satu hal yang pasti, biaya tersebut akan digunakan untuk kebutuhan SDM, transportasi, dan pembungkusan paket.

Rata-rata biaya yang dia kenakan kepada konsumen beragam. Pasalnya ada sejumlah pertimbangan. Seperti jarak yang harus ditempuh jastipers untuk mengambil barang dan biaya membungkus barang, harus super tebal atau biasa. 

Meski begitu, dia memastikan bahwa ongkos yang dikenakan kepada konsumen masih terjangkau 

Untuk prosedur pembayaran, konsumen harus membayar total dari harga produk, ongkos kirim, dan biaya jastip. Dia membeberkan bahwa biaya jastiap yang ditawarkan mulai dari Rp5.000, tergantung variasi dari produknya.

Tidak lupa, dia juga membagikan suka dan duka dalam waktu yang masih singkat di dunia perjastipan.

Sukanya adalah karena bisa membantu orang tetap bisa makan makanan kesukaannya tanpa harus repot keluar rumah. Bahkan, pademi Covid-19 justru membawa berkah karena pesanannya cukup tinggi.
 
Sementara dukanya apabila ada pengiriman yang terlambat dari estimasi atau kerusakan dalam perjalanan.

Saat ditanya apakah bisnis jastip akan menjadi pekerjaan utama atau hanya sampingan saja, jastipers pertama mengatakan bahwa untuk saat ini masih menjadi sampingan. 

Meski demikian, dia tidak menutup peluang bila suatu hari bisa menjadikan bisnis jastip sebagai pekerjaan utama.
 

2. Berawal dari Hobi Belanja

Sementara itu, jastipers kedua yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, punya kisanya sendiri. Dia mengaku menggeluti bisnis ini berawal dari hobi belanja.

Saat ditanya mengenai berapa besar modal awal yang dikeluarkan, sambil tertawa, dia menjelaskan hanya mengeluarkan modal untuk bensin.

"Usaha jastip itu sebagian besar tanpa modal karena order-an yang masuk kan fix order dan biasanya konsumen sudah bayar di muka," demikian terangnya pada 16 Juni 2020.

Dia menjelaskan sekilas mengenai alur dalam menjalankan bisnis jasti. Kalau untuk produk yang harus dibeli di luar kota, biasanya dia memberikan info terlebih dahulu dengan sistem open pre-order

"Kalau barang yang ready order, saya share foto yang bisa dipesan. Kalau ada yang minat dan masuk order, baru saya belanjakan," ungkapnya.

Untuk soal berapa persen keuntungan yang dipatok dari setiap jastip, jastipers kedua mengatakan ongkos tergantung harga barang. Mulai dari biaya terendah sebesar Rp5.000 hingga yang tertinggi Rp250.000.

Produk-produknya jastipnya mulai dari jam tangan, dekorasi rumah, hingga sejumlah produk lainnya.

Bila dirata-rata, omzet jastipnya per bulan antara Rp250 juta hingga Rp300 juta, dengan pendapatan bersih berkisar 10% sampai 15?ri angka tersebut.

Dia menjelaskan bahwa berbisnis jastip terkadang repot kalau ternyata stok produk yang diincar konsumen tidak ada dan kena omel.

"Kita masih itikiad baik untuk mengembalikan uang ke konsumen, tapi dia malah marah-marah," jelasnya.
 

3. Batu Loncatan Membuka Bisnis Offline

Cerita menarik juga datang dari jastipers ketiga. Dia mengaku mulai terjun ke bisnis ini sejak Agustus 2016 saat berumur 31 tahun.

Dia mengaku sebelumnya adalah pekerja kantoran hampir 10 tahun. Alasannya terjun ke bisnis jastip demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan 2 orang anak.

Awal mula jastipers ketiga mengenal bisnis ini ketika dia membuka satu ekspedisi kurir paket.

Dari menjalankan usaha itu, dia memiliki pelanggan yang punya banyak pesanan dari jastip. Mengetahui prospeknya, dia pun ikut menjajal peluang bisnis jastip. 

"Kita mencoba untuk buka jastip juga, khusus produk rumah tangga, dan berharap bisa dapat kesempatan di bidang ini," terangnya pada 16 Juni 2020.

Dia pun mengamini pernyataan jastipers kedua bahwa berbisnis jastip tidak perlu modal. Soalnya dana langsung dari konsumen, baru kemudian belanja produk sesuai pesanan dan dikirimkan ke pelanggan.

Untuk urusan biaya jastip, awalnya dia memasang tarif rata-rata berkisar 5% sampai 10%. Namun, seiring semakin banyaknya kompetitor membuat tarif jastipnya menjadi tentatif menyesuaikan kondisi.

Saat ini produk jastip yang dijual ada banyak macamnya. Sebagian besar adalah perlengkapan rumah tangga, perkakas rumah, keperluan kantor, dan perkakas otomotif.

Poin yang paling menarik dari jastipers ketiga adalah fakta bahwa bisnis jastipn hanyalah sebagai batu loncatan menuju bisnis yang lebih besar.

"Kita semakin lama semakin berkembang. Kalo boleh dibilang jastip hanya batu loncatan buat saya. Awalnya jastip, lalu menjadi toko online, dan rencana ke depan buka toko offline," ungkapnya.

Memang benar saat awal merintis, bisnis jastipnya sepi. Sebulan pertama hanya mendapat sekitar 10 pesanan saja.

Namun seiring berjalannya waktu, omzet yang awalnya hanya belasan hingga puluhan juta per bulan, sekarang sudah bisa mencapai milyaran per bulan.

Lantas apa ya kiat-kiat dari jastipers ketiga agar bisa bertahan dalam bisnis jastip? "Selama kita amanah, proses seperti ini akan lancar," demikian pungkasnya.

Nah, itulah sekilas cerita dari tiga pelaku bisnis jastip. Setelah membaca pengalaman mereka, apakah Be-emers juga mulai tertarik mencobanya?