Gara-Gara Bitcoin, El Salvador Jadi Terpecah Belah!

El Salvador on Map Illustration Web Bisnis Muda - Canva

El Salvador on Map Illustration Web Bisnis Muda - Canva


Ada skeptisisme yang berkembang di El Salvador ketika negara itu bersiap untuk menjadi yang pertama di dunia yang mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah pada 7 September lalu.

Untuk meningkatkan pembangunan ekonomi dan lapangan kerja, pemerintah telah mempresentasikan langkah tersebut sebagai cara terbaik.

Hasil dari polling menunjukkan masyarakat Salvador belum siap akan langkah tersebut, dan telah diperingati oleh Bank Dunia agar tidak meresmikannya. Pemungutan suara untuk melegalkan mata uang kripto akan dilaksanakan pada minggu depan oleh anggota parlemen pada bulan Juni.

Di bawah Undang-Undang Bitcoin negara tersebut, bisnis akan diwajibkan untuk menerimanya atau dolar AS, mata uang resmi negara lainnya, sebagai pembayaran. Supaya dolar dapat dikonversi menjadi Bitcoin, lebih dari 200 mesin ATM baru sedang dipasang di El Salvador 

Pemerintah El Salvador menawarkan bitcoin gratis senilai $30 (£22) untuk mendorong warga menggunakan dompet nasionalnya, yang diakses melalui aplikasi online.


Karena kurangnya kepercayaan antara warga yang masih asing dengan mata uang kripto, terjadi protes baru-baru ini di San Salvador. Hanya sekitar 4,8 persen dari 1.281 yang memahami apa itu bitcoin dan bagaimana cara penggunaannya. Lebih dari 68 persen dari mereka yang ditanyai mengatakan bahwa mereka tidak setuju dengan penggunaan mata uang kripto sebagai alat pembayaran yang sah.

Di sisi lain, lebih dari dua juta pekerja Salvador di negara lain mengirim uang ke keluarga mereka di kampung halaman. Remitansi membuat sekitar 20 persen dari PDB negara. Mereka yang mendukung langkah tersebut telah menyarankan bahwa menggunakan Bitcoin dapat membuat pengiriman uang ke rumah lebih murah.

Namun, Glenn Goodman selaku analis kripto telah memperingatkan bahwa biaya pertukaran bisa saja menjadi lebih tinggi.

Menurut survei Chamber of Commerce, 82,5 persen responden tidak ingin menerima pengiriman uang dalam Bitcoin, terutama karena harganya sangat fluktuatif dan tidak dapat diprediksi. Goodman mempertanyakan bahwa jika sistem tersebut tidak rusak, mengapa presiden Nayib Bukele berusaha memperbaikinya.

Kepala analis pasar di Markets.com, Neil Wilson, mengatakan bahwa negara-negara miskin cenderung menjadi negara yang paling sedikit diuntungkan dari langkah tersebut. Menurutnya, El Salvador itu kecil dalam hal ekonomi. Hal tersebut sudah terlihat seperti tidak lebih dari langkah untuk mencari perhatian oleh rezim otoriter.

Bitcoin yang merupakan aset virtual tanpa adanya hubungan langsung dengan ekonomi riil, telah mengalami fluktuasi nilai yang besar selama bertahun-tahun.

Setelah tindakan keras di China dan Keputusan Elon Musk untuk tidak menerimanya sebagai sistem pembayaran lagi membuat nilai Bitcoin turun tajam pada bulan Mei. Namun, sejak itu pulih, naik di atas $ 50.000 (£ 36.000) untuk pertama kalinya dalam tiga bulan pada akhir Agustus.

Kalau menurut kamu, apakah keputusan pemerintah El Salvador sudah tepat atau belum nih, Be-emers?