Catatan Untuk OJK Tahun 2024: Tingkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat

Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo, memberikan arahan pada OJK untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan (Sumber gambar: Kompas.com)

Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo, memberikan arahan pada OJK untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan (Sumber gambar: Kompas.com)


Tingkat literasi dan inklusi keuangan Indonesia dinilai masih belum maksimal. Padahal, dua hal ini penting untuk meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan dan memberikan akses keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Lembaga yang berperan dalam melakukan peningkatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tujuan utama dari OJK adalah mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat dan mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil.

 

Literasi Keuangan

Literasi keuangan tentu sangat penting untuk kita generasi muda dalam menentukan arah keputusan finansial ke depannya. Literasi keuangan juga biasa disebut cerdas finansial.

Kecerdasan ini berarti seseorang memahami perencanaan keuangan dan dapat mengambil keputusan berdasarkan tujuan yang mereka inginkan.


Berdasarkan hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, tingkat literasi keuangan di Indonesia baru mencapai angka 65,4 persen. Angka ini masih dianggap belum maksimal untuk mendorong perekonomian negara untuk menghadapi tantangan perekonomian global.

Hal tersebut dibuktikan dengan maraknya kasus judi online pada tahun 2023. Setidaknya kepolisian mencatat terdapat 2.456 kasus judi online sepanjang tahun lalu.

Polri dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga setidaknya memblokir sekitar 10.056 situs judi online. Temuan ini membuktikan bahwa masyarakat masih belum cerdas secara finansial.

 

Inklusi Keuangan

Tidak kalah penting ada juga yang namanya inklusi keuangan. Inklusi keuangan merupakan akses keuangan yang tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat di suatu negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, stabilitas sistem keuangan, inisiatif pengentasan kemiskinan, juga upaya mengurangi kesenjangan ekonomi dalam masyarakat.

Menurut hasil survey BPS tahun 2023, tingkat inklusi keuangan di Indonesia juga baru mencapai angka 75,2 persen. Angka ini juga perlu ditingkatkan untuk mendorong kemajuan perekonomian dan masyarakat yang makmur.
 

Arahan Presiden Terhadap OJK

Dalam acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2024, Presiden Jokowi mengapresiasi kinerja OJK selama setahun ke belakang dan juga memberikan catatan untuk perbaikan tahun 2024. Dalam pidatonya, presiden Jokowi menyampaikan pada tahun 2023 kredit perbankan masih bisa tumbuh di double digit 10,38 persen (year on year/yoy) sudah di atas level pandemi.

Dikutip dari laman presidenri.go.id, salah satu poin yang disoroti presiden dalam pidatonya yaitu, “OJK harus terus memperkuat inklusi dan literasi keuangan. Catatan saya disini, tingkat inklusi keuangan kita di angka 75 persen, tingkat literasi keuangan kita masih di angka 65 persen di 2023.”

Presiden juga menyampaikan sektor perbankan dan asuransi untuk terus memperkuat dukungan terhadap UMKM. Dirinya mengharapkan ada terobosan dan strategi peningkatan kredit perbankan kepada UMKM mendatang.

Pelaku bisnis juga diharapkan untuk kembali berinvestasi dan menanam modal setelah wait and see selama gejolak masa pemilu yang baru saja lewat.

OJK sendiri mengupayakan untuk terus melakukan edukasi yang masif untuk meningkatkan tingkat literasi dan inklusi keuangan, terutama bagi penduduk di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).