Ini Strategi Raih Manisnya Cuan dari Bisnis Teh Lokal

Like

Hua Tuo, dalam catatan medisnya di abad ke-3 Masehi, berhasil merekam kegiatan minum teh pertama kali di China. Saat itu, teh dianggap sebagai minuman herbal. Teh jadi lebih populer lagi ke penjuru dunia setelah diperkenalkan pedagang Portugis di abad ke -16 dan budaya minum teh orang Inggris sejak abad ke-17.

Teh yang kita kenal sekarang sudah banyak banget jenisnya. Be-emers pasti sudah enggak asing sama minuman kekinian berbahan dasar teh kayak matcha, es thai tea, dan milk tea kan?

Kayaknya bosan juga enggak sih dengan teh yang diolah secara kekinian itu? Nah, teh dengan racikan rasa lokal juga enggak kalah asyik buat dicoba lho. Selain rasanya yang khas, teh lokal juga bisa memberikan peluang cuan karena pasarnya yang eksklusif. 

Terus, langkah-langkah apa aja sih yang bisa kita lakukan buat dapat cuan dari manisnya bisnis teh lokal?

Kurasi Bahan dan Pencitraan
Teh lokal di Indonesia itu banyak banget jenisnya, Be-emers. Ada teh melati (jasmine tea), teh hitam, teh putih, Oolong, teh hijau, dan teh kayu aro. Jenis teh tersebut juga dikemas dalam berbagai bentuk kayak teh tubruk dan teh kantong.


Walaupun banyak pilihan jenis teh, tapi pemilihan atau kurasi teh terbaik juga penting banget dilakukan nih, Be-emers. Seperti halnya Maria Melissa, Lita Lakmudin, dan Darwin Alexander yang mengurasi teh dengan standar kualitas tinggi untuk bisnis teh lokalnya yang bernama Artea.

Dilansir dari Bisnis.com, ketiganya harus memastikan bahan yang mereka gunakan ditanam dan diproduksi dari perkebunan teh di Indonesia. Cara seleksi tehnya cukup unik nih, Be-emers. Pertama, teh tersebut harus sesuai dengan selera para owner Artea. Kemudian, biar lebih objektif, teh tersebut juga diuji ke responden dari masyarakat.

Teh lokal yang mungkin dianggap enggak terlalu hype, juga ternyata harus punya pencitraan sendiri nih buat menarik minat banyak kalangan. Seperti Artea, yang melakukan pencitraan dengan perumpamaan tertentu yang khas Indonesia banget kayak produknya yang bernama Embun Pagi dan Batas Senja. Sedaap.

Kedai vs Toko Online
Ada platform yang bisa Be-emers gunakan buat memasarkan produk teh, yakni melalui kedai dan toko online. Keduanya tentu tergantung dari tujuan dan target pembeli juga. 

Online Shop memang jadi tempat yang strategis buat meraih cuan dengan cara yang simple. Be-emers bisa memanfaatkan media sosial, website, dan platform toko daring populer untuk memasarkan produk teh tersebut.

Nah, buat Be-emers yang justru sekaligus ingin mengenalkan budaya minum teh, kedai teh bisa jadi pilihan. Seperti yang dilakukan oleh Argadi, pemilik kedai teh Lokalti.

Dilansir dari Bisnis.com, pria yang berdomisili di Yogya itu memilih kedai untuk mempromosikan teh sekaligus mengampanyekan minum teh. Punya target utama para pecinta teh, bikin Argadi serius banget sama bisnisnya ini, Be-emers. Enggak heran, dalam menunya pun, ia juga melengkapi keterangan jenis dan karakteristik dari masing-masing produk tehnya.

Alhasil, kedai yang sudah ada sejak 2015 ini mampu menjual 25-30 porsi minuman teh dalam satu hari. Wuih mantap! Jadi, daripada terus minum teh kemasan dan teh kekinian, Be-emers bisa coba juga nih peluang cuan dari teh lokal.