Asuransi Digital Cocok untuk Milenial? Perhatikan Hal Ini Sebelum Memilih

Protection - Canva

Like

Sekarang, hampir semua aktivitas kita bisa dilakukan secara online. Pastinya, hal ini akan memudahkan kita dalam melakukan banyak hal, mulai dari transaksi belanja, belajar, hingga urusan finansial dimanapun dan kapanpun.

Salah satunya yaitu urusan asuransi. Untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di masa mendatang, asuransi tentunya penting untuk dimiliki.

Namun, tak sedikit orang yang cenderung malas untuk mengurusnya. Dikutip dari laman Bisnis, menurut Head of Digital Channel Sequis Life Evan Tanotogono, terdapat 3 tipe mental blockers yang bisa menyebabkan orang enggak mau beli produk asuransi:

  • Innocence (kurangnya edukasi)
  • Struggle (perasaan tidak mampu/merasa asuransi terlalu mahal), 
  • Procrastination (menunda/merasa tidak butuh)

Apakah kamu salah satunya?

Tenang, asuransi juga sekarang bisa dimiliki secara online nih, Be-emers. Sejumlah perusahaan asuransi sudah banyak yang memanfaatkan kanal digital untuk memberikan pelayanan produknya kepada masyarakat.

Nah, hadirnya asuransi digital atau asuransi online ini punya tantangan untuk meruntuhkan mental blockers tersebut. Sehingga, bisa meningkatkan kebutuhan asuransi di masyarakat.


Asuransi online ini juga dinilai sebagai salah satu solusi untuk membuat calon nasabah dapat dengan mudah mengerti produk-produk asuransi yang dibutuhkan. Adapun, adanya asuransi digital ini bakal menyadarkan kamu, terutama kaum milenial, kalau asuransi itu enggak serumit dan semenakutkan yang dibayangkan.

Lalu, bagaimana kriteria asuransi digital yang pas untuk dipilih?

Biasanya, memilih perusahaan asuransi konvensional, bisa ditimbang dari nilai arbisi dan nilai minimum ekuitasnya. Sedangkan untuk asuransi online, menurut Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia Dadang Sukresna, hal itu justru sulit untuk jadi pertimbangan.

Namun, kamu enggak perlu terlalu khawatir kok. Dadang menilai, kebanyakan perusahaan asuransi yang sudah punya platform digital merupakan perusahaan yang heavy dan sudah mampu berinvestasi pada teknologi.

Makanya, perusahaan dengan kriteria tersebut dinilai bukan perusahaan asuransi yang “abal-abal” alias setengah-setengah dan dipertanyakan kejelasannya.

“Itu adalah perusahaan asuransi yang committed, yang mampu melakukan investasi yang besar di bidang digital,” imbuhnya, dikutip dari kanal Youtube Bisniscom.

Adapun, pelayanan yang diberikan oleh perusahaan asuransi dengan layanan digital, tentu enggak ingin produknya mendapat kesulitan dan “image” buruk dalam hal klaim, pelayanan, dan sebagainya.

“Saya yakin, perusahaan-perusahaan asuransi yang sudah go online itu adalah perusahaan asuransi yang bagus,” ungkap Dadang.


Tonton juga yuk, video lengkapnya di sini. Jangan lupa like, comment, dan subscribe ya!