Adaptasi Film dari Novel Karya Jane Austen: 4 Rekomendasi yang Wajib Masuk Watch List Kamu!

Adaptasi film dari novel karya Jane Austen (Sumber: Canva dan IMDb)


Proses adaptasi novel menjadi sebuah film atau disebut dengan ekranasi memiliki proses yang cukup panjang.

Mulai dari pengubahan naskah novel menjadi naskah film, pengurangan adegan novel, penambahan karakter baru untuk memperkuat visual, dan memodifikasi elemen cerita. 

Novel yang diangkat pun pastinya sudah memiliki pertimbangan yang matang dari berbagai pihak, seperti penulis karya asli, pihak produksi film, penulis skenario, hingga sutradara & tim kreatif. Tentunya, kolaborasi antara penulis dan pihak produksi harus memiliki hubungan yang baik agar proses ekranasi berjalan lancar. 


Karya Adaptasi Novel ke Film yang Jadi Favorit Penulis

Salah satu karya adaptasi novel ke film yang menjadi favorit penulis adalah novel milik Jane Austen. Karya yang ditulis lebih dari dua abad lalu dan memiliki makna yang didalam pada setiap karyanya.

Setiap novel memiliki latar belakang waktu pada era abad ke-18 di Inggris, di mana kehidupan masyarakat kelas menengah atas mempunyai berbagai konflik, seperti status sosial, pernikahan, hingga peran perempuan yang kerap direndahkan. 

Setiap dari hasil adaptasi pada karya Jane Austen menjadi sebuah sinematik indah berkat dari pihak-pihak yang bekerja dibalik layar.


Dari penggunaan long shots, teknik over-the-shoulder, memiliki nuansa hangat, dan adegan outdoor yang kerap memanjakan mata yang menambahkan perasaan dramatis. 


Rekomendasi Film Adaptasi Novel Karya Jane Austen yang Wajib Kamu Tonton!

Oleh karena itu, penulis akan memberikan rekomendasi film adaptasi novel karya Jane Austen yang bisa kamu masukan ke dalam Watchlist kamu!
 

1. Pride and Prejudice

Kali ini kita akan melompati waktu menuju abad ke-19. Terdapat seorang perempuan yang tengah berjuang melawan tekanan yang datang dari lingkungan sosial dan ekspektasi keluarga, di mana saat itu seorang perempuan harus segera menikah dan berkeluarga.

Elizabeth Bennet, menentang keras hal tersebut karena ia percaya bahwa melakukan pernikahan harus didasari dengan rasa hormat, kecocokan secara emosional, dan cinta. 

Bertemu dengan Mr. Darcy yang memiliki emosi datar, angkuh dan dingin membuat pemikiran Elizabeth pada laki-laki di era itu hanya menginginkan harta dan strata sosial.

Namun, hubungan yang awal dihiasi dengan kesalahpahaman berubah menjadi kisah cinta sejati yang membuat penonton gemas terhadap perkembangan hubungan keduanya.

"Only the deepest love will persuade me into matrimony, which is why I will end up an old maid." - Elizabeth Bennet

Film Pride and Prejudice memiliki puluhan versi dengan adaptasi yang modern dan unik. Dari tahun 1940 an - 2016, dengan versi film hingga miniseri membuat kita bisa melihat dari berbagai perspektif tentang novel karya Jane Austen ini.

 

2. Emma.

Berbeda dari novel Pride and Prejudice, kisah Emma yang diadaptasi dari novel karya Jane Austen bercerita tentang perempuan muda yang kaya dan pintar, namun memiliki peran sebagai mak comblang dan mencampuri kehidupan cinta orang lain. 

Film ini menyoroti perjalanan Emma Woodhouse yang suka mencampuri urusan cinta orang lain, sampai akhirnya belajar memahami perasaannya sendiri. 
 
If I loved you less, I might be able to talk about it more.” - Emma

Kalimat yang terlihat sederhana, namun memiliki makna yang sangat dalam pada saat mengungkapkan perasaan. Ketika cinta terlalu besar, justru sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Oleh karena itu, perjalanan Emma dalam memahami emosi dan kerendahan hati membuat kisah ini terasa hangat, ringan, tapi tetap penuh dengan makna tentang kedewasaan dan pertumbuhan diri.

Film Emma juga memiliki beberapa versi yang telah dijadikan film dan miniseri dari tahun 1948 hingga 2020 yang diperankan oleh aktris yang berbeda. Film ini juga memiliki estetika visual yang cerah dan tone warna pastel. Serta menggunakan komposisi yang rapi untuk dapat mencerminkan kehidupan pedesaan di abad ke-19. 

Tidak kalah menarik, film Clueless (1995) juga merupakan reinterpretasi dari Emma dengan latar Beverly Hills era 90-an. Cher Horowitz, remaja populer yang stylish dan percaya diri, gemar mencampuri kehidupan cinta orang-orang di sekitarnya sambil perlahan belajar tentang empati, persahabatan, dan arti cinta yang sebenarnya.
“You see how picky I am about my shoes, and they only go on my feet.”- Cher di Clueless.

Clueless tetap mempertahankan esensi Jane Austen tentang proses mengenal diri sendiri sebelum benar-benar memahami orang lain.