Ragam Tradisi Bukber: Tips Supaya Hemat Budget

Buka puasa (sumber: pexels.com)


Kiranya bukber ini sudah menjadi kebiasaan sebagian orang. Di bulan Ramadan kegiatan ini kerap kali dilakukan entah itu di rumah, rumah makan atau restoran, atau warung pinggir jalan.

Buka bersama sudah menjadi tren dari tahun ke tahun. Bahkan orang yang belum pernah bukber dianggap kolot. Waduh!
 
Entah siapa yang memulai tradisi buka bersama itu hingga menjadi tren sampai saat ini. Saya pun pernah melakukannya bersama teman kuliah, teman kerja, pengajian, dan pastinya teman hidup dan keluarga tercinta.

Bagi dua yang belakang saya sebutkan, itu bukan dianggap bukber kalinya. Jangan-jangan bukber itu ditujukan hanya untuk orang-orang di luar keluarga saja? 
 
Berikut ini ada beberapa bukber yang pernah saya lakukan. Mungkin dari kisah bukber yang saya lakukan ini, ada pelajaran yang dapat diambil.

Saya yakin setiap bukber pasti ada banyak cerita bahkan lupa waktu pulang sangkin asyiknya. 

Baca Juga: 5 Strategi Kelola Uang Bukber Selama Ramadan
 

Bukber ala Pengajian

Seingat saya, saya pernah 3/4 kali bukber selain keluarga sendiri. Bukber kali ini sederhana sekali. Misalnya, setiap peserta pengajian membawa makanan pembuka atau pemecah puasa, sedangkan makanan utama dibeli saja. Kegiatan itu dilakukan di rumah salah satu peserta bukber.
 
Bukber yang seperti ini bukan hanya menghemat budget, tetapi juga meringankan pekerjaan pihak tuan rumah.


Budget yang digunakan pun tidak terlalu banyak. Bahkan sepulang dari bukber, peserta masih membawa buah tangan.
 
Kegiatan selama bukber pun hampir mirip, seperti bertanya tentang kabar, sholat berjamaah, cerita ini-itu, dan tentunya makan bersama. Bukber ini berbeda sekali dengan bukber yang selanjutnya.

Baca Juga: Agar Tak Boncos, Ini 5 Cara Mengatur Budget Bukber saat Ramadan
 

Bukber ala Teman Kuliah

Setelah sekian lama berpisah ruang dan waktu, bukber teman kuliah akhirnya terwujud. Memang sih tidak banyak yang datang, tetapi suasana bukber tetap saja ramai. Yang suka ngomong, terus saja ngomong sampai perpisahan terjadi.
 
Bukber ala teman kuliah ini sudah ditentukan, yaitu di sebuah mall, tepatnya di bagian Pujasera. Mau tidak mau, peserta bukber harus menyiapkan uang untuk pergi ke sana. Saat pergi ke sana, jangan berharap akan ada yang mau menjadi bandar. 
 
Begitu bertemu dengan teman-teman bukber, seseorang menyatakan diri menjadi bandar. Tentu saja karena dia termasuk salah seorang yang memiliki kelebihan dana dari peserta lain. Setelah itu, barulah setiap orang berani memesan makanan dan segelas minuman.
 
Ini lebih enak lagi, datang tanpa membawa apa-apa, tetapi pulang perut sudah kenyang. Uang tidak keluar, malah makanan enak masuk ke dalam perut.

Namun, tidak semua bukber dengan teman kuliah itu ada bandarnya. Dari rumah, kita seharusnya telah mempersiapkan dana untuk pergi ke sana. Bisa jadi tidak ada yang mau ngebandari, terus siapa yang mau bayar makanan kita?