Manisha Khumairo, Founder Elnisha Boutique (Tangkapan Layar Youtube Bisnis Muda)
Likes
Harta yang paling berharga adalah keluarga. Mutiara yang paling indah adalah keluarga.
Mungkin kamu masih ingat dengan soundtrack sinetron Keluarga Cemara itu? Ini bukan sebuah keluarga yang rumahnya di atas pohon cemara, lho!
Sinetron ini memang mengajarkan hal-hal yang luar biasa pada sebuah keluarga. Meskipun mereka bukan keluarga kaya, bukan keluarga miliarder, tetapi hati mereka terasa damai, sejuk, dan teduh. Padahal, mereka termasuk keluarga pas-pasan.
Tidak semua keluarga bisa seperti itu, meskipun memiliki harta yang berlimpah ruah. Bahkan, banyak pula keluarga yang luar biasa hartanya, tetapi konfliknya juga luar biasa.
Memperebutkan materi yang tidak bisa dibawa mati. Namun, merasa hidup selamanya. Padahal, hidup manusia itu sampai berapa tahun, sih? Kalau sudah mati, ya, sudah. Tidak ada yang namanya roh gentayangan.
Dari soundtrack sinetron yang tayang di salah satu televisi swasta di atas itu, keluarga dianggap harta yang paling berharga.
Lebih baik lagi jika ditambah keluarga yang berharta, tetapi hartanya dimanfaatkan untuk kebaikan, untuk kepentingan banyak orang.
Seperti yang dikatakan oleh Dewa Eka Prayoga, kita mau menjadi kaya itu niatkan untuk bersedekah. Jadi, bukan untuk menumpuk materi, tetapi dengan materi yang semakin banyak itu, sedekahnya juga makin banyak.
Terlebih di bulan suci Ramadan ini, sedekah kalau bisa lebih banyak daripada bulan lainnya. Biasanya sedekah sepeda motor, coba sekarang sedekah mobil. Ingat, sedekah itu tidak mengurangi harta.
Coba buktikan saja! Sedekah mobil yang kamu pakai selama ini. Kalau saya belum bisa seperti itu, karena memang belum punya mobil. Yang punya mobil malah anak saya yang paling kecil. Mobilnya juga kecil, sih.
Tentang Bisnis Fashion
Bisnis di dunia ini memang bermacam-macam. Ada yang berupa bisnis produk, ada juga bisnis jasa. Teman saya pernah mengatakan bahwa bisnis yang paling bagus sekarang adalah jual beli tuyul second. Wah, ini ada-ada saja! Tapi, siapa tahu ada yang tertarik mau buka juga? Tulisan ini berfokus pada sebuah bisnis yang sudah banyak dilakukan orang. Meskipun banyak yang sudah berkecimpung di bisnis tersebut, peluangnya masih ada.
Dalam kata "peluang" ada kata "uang". Jadi, selama masih ada manusia, masih ada target market, maka bisnis akan terus dibutuhkan.
Lalu, bisnis fashion yang seperti apa? Nah, bisnis fashion yang bisa sekaligus beribadah dan berdakwah adalah bisnis busana muslimah. Kaum muslimah memang memiliki banyak minat terhadap busananya sendiri.
Aneka model, warna, bentuk, variasi, dan merek memang sudah ada di mana-mana. Namun, dalam artikel yang saya tulis sambil membuka mata ini, tidak mungkin semua merek disebut. Apalagi merek yang bukan busana muslimah.
Brand yang saya ulas di sini adalah Elnisha Boutique. Ini termasuk bisnis fashion keluarga. Awalnya dari orang tua Manisha yang berjualan pakaian di Pasar Tanah Abang.
Akibat pandemi covid-19, omzet menurun drastis, maka beralih ke digital marketing. Dan, di sinilah peran Manisha selalu founder Elnisha Boutique, belajar segala sesuatu tentang digital marketing hingga membuat bisnisnya makin berkembang.
Baca Juga: Belajar dari Elnisha Boutique: Bisnis Keluarga Jadi Pondasi dalam Berbisnis
3 Cara Mengelola Bisnis Fashion Keluarga
Saya melihat Elnisha Boutique ini ada beberapa hal yang bisa dipelajari, apalagi kaitannya dengan bisnis fashion keluarga. Saya merangkumnya cuma tiga saja. Lho, Mas, kok bukan tiga juta? Oh, bukan. Itu adalah harga HP baru. Saya tidak jualan HP di sini, karena mau mengulas bisnis fashion keluarga.
Mungkin malah ada yang mau jual HP demi bisa beli busana muslimah untuk istrinya? Wah, itu benar-benar pengorbanan seorang suami! Salut!
1. Fokus pada Produk
Nah, ini kunci pertama dalam berbisnis fashion, bahkan bisnis lainnya. Fokus, fokus, fokus. Jangan mudah beralih ke bisnis lain kalau yang satu belum matang.Selama ini, saya pun pernah mengalami, mau bisnis kok susah, ya? Oh, ternyata, memang saya ini mudah tergoda untuk beralih ke lain bisnis, bukan lain hati, ya. Jangan sampai ini dibaca istri saya.
Apalagi sekarang, eranya informasi melimpah ruah layaknya tsunami, meskipun Suratmi hingga Sunyahni tidak tahu yang satu ini.
Lihat YouTube, ada lagi bisnis baru. Ada video seseorang berbisnis, lalu pamer penghasilannya sekian dan sekian.
Buka lagi di media lain, ada lagi yang pamer. Pokoknya, kita jadi terus tergoda karena pijakannya memang tidak mantap di awal. Padahal, bisnis itu butuh waktu. Butuh tumbuh.
Kalau baru sedikit, baru sebentar, pindah lagi haluan, kapan bisa sukses? Bukankah pohon itu butuh waktu untuk tumbuh, berkembang, dan jadi besar.
Sampai jadi pohon beringin yang rindang dan bisa dijadikan tempat berteduh di siang hari yang terik. Meskipun, yah, kadang kalau malam, giliran kuntilanak dan genderuwo yang berteduh di situ. Halah.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.