Nganteuran di Garut, Tradisi Lebaran yang Mulai Langka Tapi Bermakna

Ilustrasi tradisi lebaran di Garut [Freepik]

Like

Pagi itu, udara Garut masih dingin. Embun belum sepenuhnya hilang dari dedaunan di pekarangan. Namun, seluruh penghuni rumah sudah sibuk.

Dapur mengebul. Aroma rempah dari sepanci opor ayam memenuhi penjuru dapur -- hangat, akrab, dan selalu terasa seperti “rumah”.
 
Di sudut meja, saudara kakek menyusun makanan ke dalam rantang. Ketupat, sambal goreng, opor, dan sedikit kue kering di bagian atas.
 
“Ini buat ibu sebelah, jangan lupa si Mamang. Dia suka bantu Aki pas kita lagi nggak ke sini," ujar sepupu ibu menyerahkan rantang yang sudah rapi. Tangan dan matanya tidak berpindah, mulai menjamah rantang lainnya.

Aku yang masih SD kala itu belum mampu mencernanya dengan nalar. Sudah capek bikin makanan setengah mati, ngapain dikasihkan ke orang lain?


Mengenal Nganteuran, Tradisi Lebaran Khas Garut

Namanya nganteuran, tradisi sederhana khas kampung halaman ibu di Garut. Tahun 2003 menjadi momentum terakhir aku bertandang ke sana. Setelah kakekku berpulang karena komplikasi, aku tidak pernah pulang kampung lagi. Namun, budaya itu masih membekas segar di ingatanku.

Tidak ada undangan, bukan pula kewajiban, pun tak pernah ada aturan tertulis dari Pemda. Uniknya,  semua orang melakukannya. Usai salat Id, jalanan kampung mulai hidup: anak-anak berjalan sambil membawa rantang, orang dewasa saling menyapa, pintu rumah terbuka lebih lebar dari biasanya.

Saling mengantarkan rantang berisi makanan. Makanan diantar dari rumah ke rumah menggunakan rantang. Yang menarik, satu wadah bisa berputar dari satu rumah ke rumah lain menciptakan siklus berbagi yang unik dan penuh makna.


Sering si rantang belum balik, sudah datang rantang lain dari arah berbeda. Seolah makanan itu berputar, tapi yang sebenarnya bergerak adalah rasa.

Secara etimologi, Nganteuran berasal dari bahasa Sunda “anteur” yang berarti mengantar. Maknanya berkembang menjadi kegiatan mengantarkan sesuatu — khususnya makanan— kepada orang lain.

Dalam konteks budaya, nganteuran tidak sekadar “mengantar makanan”, melainkan simbol kepedulian sosial, kebersamaan, dan rasa syukur setelah menjalani Ramadan. Berbeda dengan di kota, orang desa tidak perlu menunggu lebih untuk berbagi. Kalau lagi ada ingat tetangga, begitu prinsip kami di desa.

Para peneliti budaya Sunda melihat tradisi nganteuran berakar dari pola hidup masyarakat agraris di Tatar Sunda, termasuk Garut.

Masyarakat hidup dalam komunitas yang sangat erat, ketergantungan antar tetangga sangat tinggi. Dalam kondisi seperti ini, berbagi makanan bukan hal baru.

Bahkan sebelum Islam masuk, masyarakat Sunda sudah mengenal kebiasaan berbagi hasil panen dan saat hajatan. Intinya saling tengok kalau ada tetangga dalam kesulitan.

Ketika Islam datang dan Idulfitri mulai dirayakan, kebiasaan berbagi ini kemudian “bertransformasi” menjadi nganteuran dengan momentum Lebaran sebagai puncaknya.

Tak berhenti sampai situ, usai berbagi makanan sesama tetangga akan halal bihalal mendadak. Semua saling bermaafan, melebur amarah dan emosi yang mungkin masih terpendam antar tetangga. Jalanan Garut berubah ramai, semua berpadu jadi satu.


Filosofi di Balik Nganteuran

Di balik kesederhanaannya, tradisi ini nyatanya menyimpan filosofi mendalam. Utamanya berbagi, peduli sesama tetangga. Tidak ada yang boleh merasa kekurangan di hari kemenangan. Tradisi ini memastikan semua orang bisa merasakan kebahagiaan Lebaran.

Orang Sunda selama ini dikenal dengan prinsip silih asah (saling mengingatkan), silih asih (saling menyayangi), dan silih asuh (saling membimbing).

Dalam tradisi Nganteuran, tidak ada yang mencela makanan. Semua diterima dengan rasa syukur, mencerminkan budaya rendah hati dan penerimaan dalam masyarakat Sunda. Keikhlasan dan kesederhanaan terpampang nyata.

Sejak melihat dan perlahan memahami tradisi ini, saya menyadari satu hal: berbagi membuat relasi antar tetangga menjadi hangat. Budaya yang tidak mengenal status ekonomi, siapa saja bisa terlibat di dalamnya.

Tradisi yang mengingatkan bahwa kita adalah makhluk sosial, tengok kanan kiri. Kasarannya, jangan sampai ada tetangga kelaparan dan kita tutup mata. 

Belakangan aku baru paham, tradisi ini bukan sekadar kebiasaan. Ia lahir dari kehidupan orang Sunda zaman dulu ketika hidup masih sederhana, tapi hubungan antar manusia sangat erat.