Kenangan lebaran di balik dodol Garut [Wikimedia Commons]
Kardus penuh buah tangan itu tak pernah dilupa, dodol garut pasti ada. Aku sendiri paling doyan dodol original dan rasa durian. Pikiranku terbang, berupaya mengenang memori yang tersisa. Harum gula aren itu datang lebih dulu.
Ia menyelinap pelan dari dapur, menguar hangat, bercampur dengan gurihnya santan yang dimasak perlahan di atas tungku besar. Saya masih kecil saat pertama kali menyadari bahwa itu bukan sekadar bau masakan — wewangian lezat itu adalah pertanda: Lebaran sudah dekat.
Di sudut dapur, saudara ibu dan beberapa tetangga duduk melingkar. Wajan besar di depan mereka berisi adonan kental berwarna cokelat tua. Tangan mereka bergerak berirama, mengaduk tanpa henti.
“Kalau berhenti, nanti gosong,” ucap sepupu kakek sambil tersenyum. Pertanyaanku terjawab tanpa repot bertanya. Itulah kali pertama saya mengenal dodol.
Baca Juga: Burayot, Takjil Unik Khas Garut yang Kaya Filosofi
Filosofi Dodol, Kudapan Manis yang Bikin Jatuh Hati
Tepung ketan, santan, dan gula aren dimasak bersama hingga menyatu, mengental hingga akhirnya berubah menjadi jajanan legit yang sempurna.
Salah satu sepupu ibu yang hobi memasak bercerita, membuat dodol ibarat sidang. Banyak orang berkumpul.
Ada yang mengaduk, menyiapkan bahan, ada juga yang sekadar menemani sambil bercerita. Tawa pecah di sela uap panas yang mengepul dari wajan. Anak-anak berlarian, sesekali mencoel rasa dari ujung sendok kayu.
Kala merayakan lebaran di kampung, dodol wajib hadir di meja tamu. Dipotong kecil-kecil, dibungkus kertas minyak warna-warni, disusun rapi di dalam toples. Penganan yang menyeimbangkan hidangan bersantan, menutup hari nan fitri.
Tamu yang datang akan mengambilnya perlahan, menggigit, lalu tersenyum.
“Manisnya pas,” kata mereka bahagia. Tangan itu sibuk meraih bungkus dodol, mengulumnya di mulut. Senyum menghiasi wajah kala mulut sibuk mengunyah.
Hingga hari ini dodol adalah favorit saya. Buatku, dodol lebih dari sekadar manis. Dodol menjadi semacam bahasa tanpa kata. Ia menyampaikan bahwa rumah ini terbuka, siapa saja yang datang akan disambut dengan hangat. Kebersamaan adalah hal yang paling dijaga.
Saya mulai memahami bahwa dodol mengajarkan banyak hal yang tidak diajarkan di sekolah.
Prosesnya yang lama mengajarkan kesabaran. Jika ingin mendapatkan sesuatu harus melalui jalan panjang agar hasilnya sempurna.
Gerakan mengaduk yang terus-menerus mengajarkan konsistensi. Sedikit saja lengah saat mengaduk, dodol bisa gosong atau gagal. Ini menjadi simbol pentingnya fokus dan teliti dalam hidup.
Kebersamaan saat membuatnya mencerminkan gotong royong. Pekerjaan berat akan terasa ringan jika dilakukan bersama. Pengecualian menyusahkan dan memanfaatkan saudara tidak boleh ya.
Teksturnya yang lengket mengingatkan hubungan manusia seharusnya saling melekat, saling menjaga, tidak mudah terlepas. Utamanya keluarga, jangan saling merangkul hanya ketika kondisinya berada. Keluarga sejatinya ada dalam segala situasi, saling membantu.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.