Saat belanja sayur kemarin Be-emers, penjual bilang bahwa kantong kresek yang awalnya harganya Rp2.500 sekarang jadi Rp 7.500. Dalam hati penulis berkata, “Wow, tinggi juga ya? Ini beneran (naik setinggi itu), atau karena dia mau menaikkan harga-harga sayurnya (suudzon ya?)…”
Tapi baik, memang ada kenaikan harga plastik. Bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kenaikan harga plastik itu seperti makan buah simalakama.
Ganti kemasan non plastik lebih mahal, tetap menggunakan plastik juga masih lebih mahal daripada sebelum kenaikan harga plastik.
Mau dinaikkan harga jualnya khawatir pelanggan “lari”. Mau tidak dinaikkan kok “mengikis” keuntungan ke arah yang mengkhawatirkan, bahkan hampir tidak untung, jadi gimana dong?
7 Cara Menghadapi Kenaikan Harga Plastik untuk Pelaku UMKM
Tips menghadapi kenaikan harga plastik untuk pelaku UMKM, lakukan dengan 7 cara ini:
1. Hitung Tambahan Biaya Akibat Kenaikan Harga Plastik yang Naik
Misal nih, jika harga plastik naik 100%, yang awalnya 500 jadi Rp1.000, maka ada kenaikan Rp 500 per kemasan.
Jika kita memroduksi 100 kemasan per hari, kita butuh tambahan biaya sebesar 500 x 100 = Rp 50.000 per hari (lumayan ya?)
2. Lakukan Perubahan Ukuran Plastik
Baik plastik kresek atau bukan plastik kresek, plastik kemasan yang menempel ke produk, selisih ukuran plastik akan lumayan jika diakumulasi lho Be-emers. Hal ini karena harga plastik yang lebih besar berbeda dengan plastik yang lebih kecil.
Jadi, mulai saat ini, kita bisa ukur lagi ukuran plastik yang kita butuhkan secara presisi. Selisih harga yang selama ini terbuang sia-sia, bisa dijadikan subsidi keuntungan.
3. Tingkatkan Nilai Produk dengan Ganti Kemasan Non Plastik
Bisa diubah ke aluminium foil, toples kaca, atau pun kaleng.
Dengan ganti kemasan ini, otomatis harga jual juga meningkat. Tetapi, nilai produk juga meningkat, jadi Be-emers bisa menyasar pangsa pasar baru.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.