Stop Percaya! 6 Mitos Dana Darurat yang Bikin Keuangan Rentan

Mitos dana darurat yang masih dipercaya [Freepik]


Usai perundingan sengit di Pakistan, baik Iran maupun AS tidak mencapai titik temu. Artinya, peluang perang berlanjut masih besar. Melansir The Wall Street Journal, Iran berwacana membatasi jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz tidak melebihi sekitar 12 unit per hari.

Tidak cuma-cuma, setiap kapal tanker wajib menggelontorkan hingga 2 juta dolar AS (sekitar Rp34,2 miliar)! Pemilik lapal bahkan harus bernegosiasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk dapat melintasi Selat vital tersebut.

The Wall Street juga melanjutkan, kapal yang diizinkan melintas harus melalui jalur yang telah ditentukan secara khusus serta memperoleh izin yang diperlukan.

Kalau mau berpikir instan, Selat Hormuz diibaratkan 'dana darurat' negara. Dana yang terkumpul dari setoran kapal dapat digunakan untuk membangun kembali infrastruktur Iran yang porak poranda karena rudal.


Mitos Dana Darurat yang Sayangnya Masih Banyak Dipercaya

Berkaca dari dinamika konflik yang terjadi hari ini, pertanyaan berikutnya: sudahkah kamu mengumpulkan dana darurat? Mengingat krisis yang terjadi sejak COVID-19 dulu, sudah seharusnya setiap orang punya bemper keuangan.

Sayangnya, masih banyak kesalahpahaman perihal dana darurat ini. Kita terlalu sibuk mengumpulkan tanpa paham fungsi dana darurat itu sendiri. Banyak orang dalam lingkup pergaulan saya masih meyakininya hingga hari ini.


1. Yang Penting Punya Apapun Instrumennya

Saking seringnya membaca feed IG perencana keuangan ternama seperti Mba Prita Ghozie atau Mas Melvin Mumpuni, saya sampai hapal: dana darurat sebaiknya ditempatkan di instrumen yang likuid (mudah dicairkan kapan saja).


Hal yang berlawanan dengan keyakinan orang terdekat: sudahlah, yang penting kekumpul dulu. Bahkan saudara saya pernah menempatkan dana daruratnya di saham dan panik ketika bursa anjlok. Dana darurat idealnya dibagi dalam 2 wadah:
  • Instrumen super likuid alias bisa dicairkan detik itu juga (tabungan atau uang elektronik)
  • Instrumen bertumbuh (ada return) seperti reksa dana pasar uang atau logam mulia digital


2. Dana Darurat Hanya untuk Ketika Kehilangan Pekerjaan

Sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Saya personal sangat terbantu ketika kena layoff 2024 lalu. Namun, pernahkah terpikir dana darurat juga berperan mendukung keputusan genting?

Misal: sudah tak tahan di tempat kerja toksik dan ingin resign. Atau pekerja lepas yang sudah paham tingkah klien sehingga ingin memutus kerja sama. Dana darurat dapat mendukung kondisi ini untuk sementara. Sembari menggunakan dana darurat, kita bisa mencari pekerjaan yang lebih baik.


3. Dana Darurat Sesuai Pengeluaran Bulanan

Baru-baru ini saya mengobrol dengan teman yang baru meraih sertifikasi pasar modal. Dia bilang hal yang menohok: kumpulin dana darurat berdasarkan berapa kali pengeluaran bulanan tuh nggak sepenuhnya benar.

Dia memberikan gambaran saat terjadi krisis semua-muanya berpeluang melonjak harganya. Biaya kesehatan, sembako, bahkan kini BBM yang membuat rakyat AS frustasi imbas negerinya 'belum beesedia akur' dengan Iran.


4. Sibuk Mengumpulkan, Inflasi Terabaikan

Saking semangatnya mengisi tabungan untuk keadaan darurat, besar kemungkinan lupa satu hal: inflasi. Karena wajib ada saat butuh, otomatis kita menaruh dana di tempat yang rendah risiko. RDPU contohnya.

Padahal, inflasi menggerus nilai yang berlaku saat inflasi naik. Saya pernah merasakan ini ketika nekat memindahkan porto dana darurat ke reksa dana obligasi. Nilainya babak belur setelahnya. Untuk itu, jangan lupa audit berkala kondisi dana darurat kita setidaknya setiap 6 bulan. Gaya hidup naik, tambah juga nominal alokasi dana daruratnya.


5. 6x Pengeluaran Bulanan Aman

Menyaksikan beberapa konten keuangan di podcast dan Instagram, kita sering mendengar: 6x pengeluaran bulanan cukup kok. Ada uang tambah lagi. Jika orang tidak mencerna hal ini, ia akan otomatis stop jika sudah terkumpul sejumlah itu.

Faktanya, dana darurat yang dibutuhkan setiap keluarga tidaklah sama. Semuanya bergantung pekerjaan, apakah ada tanggungan keluarga (misal turut menanggung mertua dll), pun support system dalam keluarga ikut menentukan. Contoh:
  • Karyawan tetap tanpa tanggungan → 3 bulan cukup
  • Freelancer / pebisnis → 9–12 bulan


6. Dana Darurat  ≠ Tidak Boleh Disentuh

Seriously, ada salah satu kolega saya yang berprinsip seperti ini. Ia merasa stres menggunakan dana darurat untuk merenovasi pagar rumahnya yang rubuh dan mobilnya yang rusak akibat banjir.