Mitos dana darurat yang masih dipercaya [Freepik]
Tidak cuma-cuma, setiap kapal tanker wajib menggelontorkan hingga 2 juta dolar AS (sekitar Rp34,2 miliar)! Pemilik lapal bahkan harus bernegosiasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk dapat melintasi Selat vital tersebut.
The Wall Street juga melanjutkan, kapal yang diizinkan melintas harus melalui jalur yang telah ditentukan secara khusus serta memperoleh izin yang diperlukan.
Kalau mau berpikir instan, Selat Hormuz diibaratkan 'dana darurat' negara. Dana yang terkumpul dari setoran kapal dapat digunakan untuk membangun kembali infrastruktur Iran yang porak poranda karena rudal.
Mitos Dana Darurat yang Sayangnya Masih Banyak Dipercaya
Sayangnya, masih banyak kesalahpahaman perihal dana darurat ini. Kita terlalu sibuk mengumpulkan tanpa paham fungsi dana darurat itu sendiri. Banyak orang dalam lingkup pergaulan saya masih meyakininya hingga hari ini.
1. Yang Penting Punya Apapun Instrumennya
Hal yang berlawanan dengan keyakinan orang terdekat: sudahlah, yang penting kekumpul dulu. Bahkan saudara saya pernah menempatkan dana daruratnya di saham dan panik ketika bursa anjlok. Dana darurat idealnya dibagi dalam 2 wadah:
- Instrumen super likuid alias bisa dicairkan detik itu juga (tabungan atau uang elektronik)
- Instrumen bertumbuh (ada return) seperti reksa dana pasar uang atau logam mulia digital
2. Dana Darurat Hanya untuk Ketika Kehilangan Pekerjaan
Misal: sudah tak tahan di tempat kerja toksik dan ingin resign. Atau pekerja lepas yang sudah paham tingkah klien sehingga ingin memutus kerja sama. Dana darurat dapat mendukung kondisi ini untuk sementara. Sembari menggunakan dana darurat, kita bisa mencari pekerjaan yang lebih baik.
3. Dana Darurat Sesuai Pengeluaran Bulanan
Dia memberikan gambaran saat terjadi krisis semua-muanya berpeluang melonjak harganya. Biaya kesehatan, sembako, bahkan kini BBM yang membuat rakyat AS frustasi imbas negerinya 'belum beesedia akur' dengan Iran.
4. Sibuk Mengumpulkan, Inflasi Terabaikan
Padahal, inflasi menggerus nilai yang berlaku saat inflasi naik. Saya pernah merasakan ini ketika nekat memindahkan porto dana darurat ke reksa dana obligasi. Nilainya babak belur setelahnya. Untuk itu, jangan lupa audit berkala kondisi dana darurat kita setidaknya setiap 6 bulan. Gaya hidup naik, tambah juga nominal alokasi dana daruratnya.
5. 6x Pengeluaran Bulanan Aman
Faktanya, dana darurat yang dibutuhkan setiap keluarga tidaklah sama. Semuanya bergantung pekerjaan, apakah ada tanggungan keluarga (misal turut menanggung mertua dll), pun support system dalam keluarga ikut menentukan. Contoh:
- Karyawan tetap tanpa tanggungan → 3 bulan cukup
- Freelancer / pebisnis → 9–12 bulan
Erinintyani Shabrina Ramadhini
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.