Metode hemat gas di tengah anjloknya rupiah [Freepik]
Bank Indonesia merespons situasi ini dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Kebijakan ini diambil guna meredam gejolak mata uang.
Melihat anjloknya Rupiah, siapa yang paling terdampak? Ya, rakyat yang privilege nya belum merata. Kelas menengah pusing mengatur pengeluaran bulanan karena gaji yang naik tak seberapa.
Pun ibu rungsing, berpikir keras bagaimana agar nyala kompor di dapur tetap ada memenuhi gizi keluarga. Apa hubungannya?
Indonesia masih bergantung pada impor energi, termasuk Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang sebagian besar dibayar dalam dolar AS. Kombinasi ini menciptakan satu realitas: lemahnya Rupiah lemahnya dapur rakyat Indonesia.
Data Kementerian ESDM menunjukkan sekitar 70–80% kebutuhan LPG nasional diimpor. Artinya, setiap tabung gas yang kita pesan untuk dapur rumah terpapar langsung oleh fluktuasi nilai tukar rupiah.
Jika gas LPG subsidi masih “dilindungi” negara, maka LPG non-subsidi sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar. Di sinilah dampak pelemahan Rupiah terasa lebih cepat dan nyata.
Akibatnya jelas, kelas menengah yang kepepet memilih turun kelas mengarah ke gas bersubsidi. Kondisi yang otomatis menambah tekanan pada distribusi gas melon yang seharusnya ditujukan untuk kelompok rentan.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.