Sejarah dan Makna Gelar Haji Mabrur

Para Jemaah haji asal Indonesia. Sumber: Bisnis Indonesia


Be-emers, Ibadah Haji untuk tahun ini sudah selesai. Para tamu Allah berangsur meninggalkan Tanah Suci untuk kembali ke negara mereka masing-masing, termasuk jamaah asal Indonesia. Mereka kini resmi bergelar haji.

Diakui atau tidak, gelar haji, khususnya di Indonesia terasa spektakuler. Mengapa bisa begitu? Untuk menjawab itu, Moh. Safrudin, dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, Sulawesi Tenggara memberikan analisisnya.

Berdasarkan tulisannya yang dimuat di Perpustakaan Digital IAIN Kendari, Safrudin menjelaskan bahwa gelar bagi yang telah pergi haji ini berawal pada masa penjajahan abad XIX, ibadah haji menjadi sarana penyadaran penduduk Hindia Belanda (Indonesia) tentang kemerdekaan bangsanya. Karena itu, tuturnya, jadilah para haji sebagai penggerak antipenjajahan.

Nah, pada paruh pertama abad XX, haji dilihat sebagai jembatan tercepat meraih martabat di tengah masyarakat. Misalnya di Minangkabau, banyak anak muda yang ingin melaksanakan ibadah haji, dilanjutkan menuntut ilmu dengan tekun. Sekembalinya dari Tanah Suci, mereka dihormati dan dengan segera akan dilamar untuk menikah.

Lalu, dia mulai bertanya, apa ruh dan makna haji pada masa sekarang? Menurutnya di masa kini, haji mungkin hanya menjadi pendongkrak status sosial di masyarakat.


Seseorang yang semula kurang terpandang di masyarakat mendadak dihargai usai melaksanakan ibadah haji. Dia mengatakan, tak sedikit orang akan marah jika tak dipanggil haji.

Bahkan, tuturnya, ketika ada undangan tidak mau hadir pada acara tersebut akibat penulisan dalam undangan tidak mencantumkan gelar haji didepan namanya, di Indonesia haji sebatas simbol berupa tambahan gelar di depan nama H (haji) dan memakai peci putih yang menurutnya, tidak memiliki manfaat bagi orang banyak.

Dia melanjutkan, bagi seorang ustadz, kiai, atau tuan guru gelar haji akan meningkatkan ”daya jual” di umat. Misalnya, di Pulau Jawa Sulawesi Selatan, dan Mataram, tanpa gelar haji mereka dilihat dengan sebelah mata.

“Di kalangan pejabat kita banyak yang telah berhaji, tetapi tidak ada perubahan yang dibawanya, semisal berkurangnya korupsi. Yang terjadi malah sebaliknya, praktik korupsi justru menjadi-jadi,” tulisnya.