Tips Mengelola Arus Kas Keluarga di Era Ekonomi Sulit

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut menggerus pengeluaran rumah tangga. Sumber: Bisnis Indonesia


Be-emers, situasi ekonomi di Indonesia akhir-akhir ini kurang kondufis, sehingga perlu kiat-kiat tertentu mengelola arus kas keluarga in this economy.

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah terpaksa mengerek harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax, untuk menyesuaikan dengan harga minyak dunia yang merangkak naik, imbas dari konflik di Selat Hormuz yang melibatkan Iran di satu sisi menghadapi gempuran Amerika Serikat-Israel di sisi lain.

Kenaikan harga BBM seperti itu tentu saja memaksa pemilik kendaraan yang menggunakan BBM nonsubsidi, untuk merogoh kocek lebih dalam agar roda kendaraan terus berputar.

Tidak hanya perubahan harga energi, beberapa waktu terakhir, nilai tukar mata uang kita, Rupiah juga lagi sakit-sakitnya, terdepresiasi terhadap Dolar AS.

Pelemahan mata uang ini sangat berpengaruh  terhadapan kehidupan kita sehari-hari mengingat masih banyak kebutuhan kita yang dipenuhi melalui impor dari negara lain.


Begitu dolar AS melejit, biaya impor suatu produk bertambah besar dan tentu saja mengerek harga jual di pasaran Indonesia.

Tentu saja pelemahan mata uang dan kenaikan harga BBM menghasilkan efek domino pada kenaikan harga-harga kebutuhan hidup, mulai dari makanan-minuman, peralatan elektronik, plastik, dan produk lainnya.

Dalam menghadapi situasi seperti ini, kita semua dituntut untuk semakin arif bijaksana dalam mengelola arus kas (pendapatan dan pengeluaran) keluarga. Anggaran belanja keluarga mesti dihitung ulang secara cermat, agar kenaikan harga barang dan jasa bisa diantisipasi dengan baik.

Jadi Be-emers, mengencangkan ikat pinggang adalah pilihan yang paling masuk akal saat ini. Namun, di sisi lain, kita juga mesti tetap memikirkan tujuan-tujuan keuangan di masa yang akan datang.

Karena itu, mengencangkan ikat pinggang tidak bisa berjalan sendirian. Kita mesti mengatur strategi yang tokcer guna mengamankan dompet keluarga di tengah inflasi, tanpa mengabaikan manajemen keuangan keluarga secara keseluruhan.
 

Strategi Mengamankan Dompet Keluarga di Tengah Inflasi yang Bisa Kamu Lakukan!

Berikut beberapa strategi yang bisa kita lakukan, dikutip dari Majalah Utusan, edisi Juli 2026.


1. Menghindari Utang Konsumtif

Saat menemui kesulitan dalam mengatur arus kas keluarga, banyak orang menganggap solusi paling praktis yang bisa ditempuh adalah dengan kredit atua berutang.

Godaan untuk berutang semakin besar, mengingat saat ini akses terhadap pinjaman semakin mudah lewat platform seperti paylater, dan pinjaman daring (pindar). Padahal, menyelesaikan masalah arus kas dengan utang, terutama yang sifatnya konsumtif, sangat tidak direkomendasikan pada masa-masa sulit.

Pertama, kita harus membayar bunga pinjaman dari jerih payah sendiri, berbeda dengan utang produktif yang dibayar dari pendapatan usaha. Kedua, angsuran pinjaman juga akan mengurangi daya beli pada masa yang akan datang (selama masa pembayaran pinjaman). Jadi, terkait utang ini, kita harus membatasi diri secara ketat. Jika tidak mendesak, sebaiknya tunda dulu memenuhi hal-hal yang bersifat konsumtif melalui pinjaman.
 

2. Mencari Strategi Berhemat

Perlu Be-emers pahami, berhemat bukan berarti mengurangi pengeluaran secara ekstrim, sampai mengabaikan kebutuhan hidup kita sendiri. Berhemat bisa dilakukan dengan strategi-strategi yang membuat belanja menjadi lebih efektif dan efisien, sesuai kondisi kita masing-masing. Misalnya, berhemat menggunakan metode food preparation, yaitu merencanakan menu makan keluarga dan berbelanja untuk kebutuhan 3-7 hari ke depan sekaligus.

Dengan pola belanja yang terencana, kita bisa mengurangi risiko bahan makanan terbuang dan bisa menghemat konsumsi BBM karena tidak perlu bolak-balik ke pasar. Ini salah satu contohnya ya. Kita bisa mencari strategi-strategi lain yang relevan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing.
 

3. Disiplin Mengalokasikan Pendapatan

Salah satu kaidah alokasi pendapatan yang cukup terkenal dari pakar keuangan Elizabeth Warren adalah kaidan 50:30:20. Dalan kaidan ini, pendapatan dibagi menjadi 3 pos utama yaitu 50% untuk pengeluaran pokok seperti belanja sembako, tagihan listrik atau air, bensin, transportasi harian dan lain-lain.

Selanjutnya, 30% untuk keinginan seperti hiburan, jajan, jalan-jalan atau keperluan yang sifatnya opsional (termasuk pembayaran angsuran pinjaman jika ada). Kemudian 20 persen adalah untuk investasi dan tabungan, atau alokasi untuk mempercepat pelunasan utang.

Pengelolaan keuangan keluarga akan sangat terbantuk jika kita bisa menjaga alokasi pendapatan ini secara disiplin dan konsisten.

Untuk masa sulit ketika harga-harga bergerak naik, kita bisa memangkas alokasi 30% yakni keinginan, untuk ditambahkan pada alokasi 50% kebutuhan, kecuali ada angsuran pinjaman yang mesti dibayarkan. Dengan demikian, kita bisa tetap mengalokasikan pendapatan untuk kebutuhan sehar-hari, dan menyisihkan tabungan untuk tujuan keuangan di masa yang akan datang.